PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Menkeu Berganti, Aras Soroti Batas Kewajaran APBN: Jangan Sampai Ambisi Lebih Besar dari Kemampuan FiskalPangkep Raih Rp1 Miliar, Layanan Kesehatan Antar Pemkab Yusran Lalogau Masuk Tiga Besar SulawesiFebrie Masuk Babak Baru, Mantan Jampidsus Segera Hadapi PersidanganJufri Rahman: Ekonomi Sulawesi Tak Bisa Tumbuh Sendiri-sendiriNakes Liukang Kalmas Diminta Disiplin, Jasa Medis Dibayar Berdasarkan Kinerja30 Tahun Berselang, Purnawirawan Polsekta Panakkukang Kembali Rajut KemitraanPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Menkeu Berganti, Aras Soroti Batas Kewajaran APBN: Jangan Sampai Ambisi Lebih Besar dari Kemampuan FiskalPangkep Raih Rp1 Miliar, Layanan Kesehatan Antar Pemkab Yusran Lalogau Masuk Tiga Besar SulawesiFebrie Masuk Babak Baru, Mantan Jampidsus Segera Hadapi PersidanganJufri Rahman: Ekonomi Sulawesi Tak Bisa Tumbuh Sendiri-sendiriNakes Liukang Kalmas Diminta Disiplin, Jasa Medis Dibayar Berdasarkan Kinerja30 Tahun Berselang, Purnawirawan Polsekta Panakkukang Kembali Rajut Kemitraan
Otomotif

Yamaha RX King, “Si Raja Jalanan” yang Tak Pernah Padam

1895
×

Yamaha RX King, “Si Raja Jalanan” yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini
Yamaha RX King, "Si Raja Jalanan" yang Tak Pernah Padam

MAKASSAR—Di sudut kota Makassar yang sibuk, suara knalpot meraung dari kejauhan membelah pagi. Sekilas terdengar seperti guntur kecil yang berlari. Bukan truk, bukan mobil sport mahal—melainkan sebuah Yamaha RX King keluaran lama, melaju percaya diri di antara deretan kendaraan modern.

Warnanya hitam legam, berkilau seperti baru keluar dari showroom. Di joknya, seorang pria paruh baya tersenyum bangga, membelah kenangan bersama “Raja Jalanan” yang tak pernah benar-benar padam.

Bagi sebagian orang, RX King adalah kendaraan. Tapi bagi yang pernah mengendarainya, ia adalah bagian dari perjalanan hidup. Motor ini lahir tahun 1983, hadir sebagai generasi lanjutan RX-K yang sebelumnya sudah lebih dulu dikenal.

Namun RX King datang dengan karakter berbeda: lebih bertenaga, lebih cepat, dan—yang paling khas—suaranya menggema seperti tembakan kecil.

Dengan mesin dua tak berkapasitas 132cc, RX King menjadi idola jalanan. Ia digemari anak muda, ojek, bahkan pejabat. Akselerasinya liar, desainnya ramping, dan suaranya bak tanda penguasa telah datang.

Tak bisa dipungkiri, kejayaan RX King juga menimbulkan bayang-bayang. Di dekade 90-an hingga awal 2000-an, motor ini sering dijumpai di berita kriminal. Julukan “motor jambret” pun melekat. Tapi mereka yang mengenalnya tahu, masalah bukan pada motornya—melainkan siapa yang menungganginya.

Para penggemar RX King yang sejati justru menjaga motor ini seperti pusaka. Mereka tahu, di balik dentuman mesinnya, tersimpan warisan teknik mesin yang luar biasa. Respons gasnya spontan, suara knalpotnya seolah bernyawa.

Tahun 2009 menjadi titik akhir produksi RX King. Regulasi emisi semakin ketat, dan mesin dua tak tak lagi bisa bersaing di era ramah lingkungan. Yamaha menghentikan produksinya dengan berat hati.

Tapi anehnya, di jalanan, RX King malah semakin sering muncul. Permintaan meningkat, harga bekasnya melambung tinggi, dan pasar restorasi pun hidup kembali.

Di komunitas-komunitas pecinta motor tua, RX King adalah primadona. Banyak yang rela merogoh jutaan, bahkan puluhan juta rupiah hanya untuk mendapatkan part orisinil, atau sekadar membawa pulang unit lawas yang terawat.

“Buat saya, RX King itu nostalgia,” ujar Agung, 52 tahun, yang menunggangi RX King sejak SMA. “Waktu saya bawa motor ini, rasanya seperti balik ke masa muda. Semua orang nengok, bukan karena norak, tapi karena hormat.”

Sentimen seperti itu tak langka. Di media sosial, RX King bahkan jadi fenomena. Ada video modifikasi, parodi anak RX King, sampai konten restorasi yang viral. Fenomena ini bukan kebetulan—ini adalah bukti cinta kolektif terhadap satu ikon yang berhasil melampaui zaman.

Kini, meski dunia otomotif telah berubah, dengan motor listrik mulai menggeliat dan kendaraan tanpa suara menjamur, RX King tetap memiliki tahtanya sendiri. Ia bukan sekadar motor cepat atau alat transportasi. Ia adalah legenda yang hidup. Ia adalah cerita, warisan, dan kebanggaan yang dirawat dengan cinta dan oli mesin.

Dan selama masih ada jalan, masih ada pagi, dan masih ada hati yang berdetak untuk dentuman mesin dua tak, RX King akan tetap melaju. Bukan untuk balapan, tapi untuk mengingatkan kita: bahwa dulu, di jalan-jalan Indonesia, pernah ada raja yang mengaum dengan gagah. (Ag4ys)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com