Memuat Ramadhan…
Memuat cuaca…
Opini

Childfree, Membuat Awet Muda, No Way

3132
×

Childfree, Membuat Awet Muda, No Way

Sebarkan artikel ini
Childfree, Membuat Awet Muda, No Way
Tatik Maslihatin, S.T, M.Kom (Akademisi)

OPINI—Miris! Kali ini media sosial dihebohkan dengan pernyataan seorang youtuber dan influencer yang mengungkapkan bahwa childfree membuat awet muda. Pernyataan ini berawal dari komentar penggemarnya di media sosial.

Sehingga membuat sang iinfluencer tersebut menyatakan “Not having kids is indeed natural anti aging. You can sleep for 8 hours every day, no stress hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you have the money to pay for botox,“ ungkapnya. Bahkan, karena pernyataanya tersebut menjadikan ia masuk trending topic Twitter. ( 9/2)

Tentu saja hal ini mengundang cibiran di tengah-tengah masyarakat, terutama di Indonesia. Apalagi pernyataan childfree bisa membuat awet muda membuat netizen menghujat pernyataan tersebut. Mulai dari ibu-ibu rumah tangga, artis, praktisi kesehatan bahkan wakil presiden menanggapi pernyataan tersebut.

Pasalnya Indonesia yang kental dengan nilai ketimuran, menganggap bahwa ide childfree adalah tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Childfree, menurut Dictionary Cambridge.org adalah istilah yang digunakan untuk merujuk orang yang memilih untuk tidak memiliki anak atau situasi tanpa anak. Ide childfree bermula di Amerika Serikat pada tahun 1970. Childfree mulai berkembang ke Perancis, Jerman dan negara-negara lain pada tahun 2008.

Kemudian pada tahun 2016, ide childfree telah menyebar ke Singapura, Jepang dan Indonesia. Bahkan saat ini, terdapat grup facebook dengan beranggotakan lebih dari 300 orang pendukung ide ini di Jakarta. Jelaslah bahwa ide ini berasal dari barat yang seharusnya tidak diadopsi oleh masyarakat Indonesia.

Seorang peneliti, Thomas Frejka, dalam risetnya yang berjudul “Childlessness in the United States” menyatakan bahwa pilihan untuk tidak mempunyai anak meningkat menjadi 20 persen di tahun 2000-an.

Sementara itu, International Business Times melaporkan bahwa Australian Bureau of Statistic menilai akan lebih banyak pasangan berkeluarga yang memilih untuk tidak punya anak di antara tahun 2023-2029.

Pada faktanya, para pengusung ide childfree memiliki beberapa alasan yang digunakan untuk memperkuat pendapatnya. Dalam buku yang berjudul 40 Reasons for not having children, Corine Maier menulis bahwa ada 6 alasan yang digunakan oleh seseorang untuk tidak ingin memiliki anak antara lain:

  1. Orientasi karir,
  2. masalah finansial,
  3. ketakutan perubahan fisik,
  4. over populasi,
  5. trauma masa kecil dan
  6. keputusan untuk mengadopsi anak.

Inilah salah satu faktor yang dijadikan sebagai pembenaran untuk melakukan childfree.

Orientasi karir seringkali jadi alasan terutama bagi kalangan milenial untuk childfree. Penelitian yang dilakukan oleh David Foot dari University of Toronto menyatakan bahwa pengusung childfree sebanyak 82,5 % adalah wanita yang tidak pernah menikah. Dan sebanyak 27,5 % diusung oleh wanita yang menjalani pendidikan S2/ S3.

Hal ini menggambarkan bahwa adanya orientasi karier yang menyebabkan seseorang untuk chilfree karena tidak ingin menghabiskan waktu untuk mengurusi keluarga dan anak.

Selain itu tenyata wanita yang belum menikah pun mengusung ide ini. Apalagi pada faktanya golongan ini lebih memilih untuk mengadopsi anak daripada melahirkan anak kandung sendiri.

Melawan Fitrah

Sesungguhnya ide childfree tidak sesuai dengan fitrah manusia bahkan menyalahi kedudukan fitrah manusia. Hal ini bisa kita lihat bahwasanya pada saat Allah swt menciptakan manusia, Allah swt juga memberikan potensi kehidupan yaitu berupa akal, naluri, dan kebutuhan jasmani. Dan setiap manusia memiliki potensi kehidupan yang sama yang merupakan fitrah manusia.

Salah satu manifestasi dari naluri melestarikan jenis adalah mencintai lawan jenis, mencintai anak-anak dan keluarga. Maka setiap manusia sejatinya memiliki naluri untuk mencintai anak-anak dan keluarga. Jadi, ketika seseorang memutuskan untuk childfree maka sejatinya ia sedang berlawanan dengan fitrah yang ada dalam dirinya.

Penganut ide antianak ini sungguh berpikiran pendek dan tidak sadar bahwa pemikiran tersebut menyalahi fitrah bahkan berpengaruh terhadap keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Tanpa anak maka tidak akan ada generasi pelanjut peradaban manusia.

Orientasi dunia

Dalam kehidupan kapitalistik saat ini, standar hidup dan kebahagiaan hanya diukur berdasarkan kesenangan materi semata. Kebahagiaan bukan lagi diukur dari keberlimpahan berkah dan pahala, tetapi kepuasan pribadi..

Jadilah kehadiran anak dipandang sebagai pengganggu kebahagiaan pernikahan. Meskipun para penganut childfree ini menolak mentah-mentah dipandang egois, padahal kenyataannya demikian. Bukankah menolak berbagi kebahagiaan dengan orang lain seperti dengan anak juga bentuk keegoisan?

Selain itu, ide ini lebih berorientasi pada kesenangan dunia. Ingin tampil cantik, awet muda dan lain-lain. Padahal itu semua itu hanya sementara dan tidak selamanya. Sedangkan dengan menjadi ibu, akan banyak amal baik yang bisa dilakukan. Mengandung, melahirkan dan merawat anak adalah amal baik yang mendapat pahala disisi Allah swt.

Hal lain yang menjadi alasan adalah masalah finansial dan over populasi. Dalam system kapitalis saat ini, semua hal senantiasa ditimbang dengan materi. Sebagian masyarakat sering beranggapan bahwa kehadiran anak akan menyebabkan berkurangnya rizki karena harus dibagi dengan anggota yang lain.

Selain itu, kehidupan kapitalis saat ini mengharuskan semua rakyat untuk menanggung biaya pendidikan, kesehatan, pangan, sandang dan papan yang cukup mahal. Hal ini yang menimbulkan kekuatiran akan rizki anak dan ketakutan jika menelantarkan anak.

Padahal pandangan seperti ini seharusnya tidak boleh ada dalam pikiran kita. Pasalnya Allah swt telah menjamin rizki setiap manusia bahkan binatang melata pun telah dijamin rizkinya.

Selain itu adanya pandangan bahwa berlebihnya populasi manusia bisa mengurangi sumber daya alam di dunia ini adalah pandangan yang tidak beralasan. Sebenarnya berkurangnya sumber daya alam diakibatkan karena pengelolaan yang salah dan adanya keserakahan manusia.

Padahal anak-anak adalah aset dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,

Apabila manusia itu meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh yang berdoa baginya.” (HR Muslim).

Ide childfree tidak seharusnya diusung oleh masyarakat kita. Karena keberadaan ide ini tidak sesuai dengan fitrah manusia, berorientasi hanya pada dunia dan bisa menghapus kelestarian manusia di dunia. (*)

 

Penulis

Tatik Maslihatin, S.T, M.Kom

(Dosen/Akademisi)

 

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!