Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Darurat KDRT & Kekerasan Remaja: Saat Keluarga Hilang Kendali, Bangsa Kehilangan Nurani

960
×

Darurat KDRT & Kekerasan Remaja: Saat Keluarga Hilang Kendali, Bangsa Kehilangan Nurani

Sebarkan artikel ini
Nur Anisa Saleha (Mahasiswi dan Aktivis Muslimah)
Nur Anisa Saleha (Mahasiswi dan Aktivis Muslimah)

OPINI—Indonesia kini tengah berdarah-bukan oleh perang, tapi oleh kekerasan di dalam rumahnya sendiri. Suami membakar istri. Anak membunuh orang tua. Dan remaja menusuk teman sekelas.

Berita-berita itu bukan sekadar kriminalitas biasa; mereka adalah jeritan peradaban yang kehilangan arah. Ketahanan keluarga yang dulu menjadi benteng moral kini rapuh. Rumah bukan lagi tempat aman, tapi kadang justru arena luka.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Ironis, keluarga yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya cinta, berubah menjadi sumber trauma. Dan remaja, yang seharusnya menjadi harapan masa depan, kini tumbuh dalam arus kebebasan tanpa kendali: menjadi produk dari sistem yang gagal menanamkan nilai.

Zaman ini kita tidak sedang kekurangan hukum, tetapi kehilangan pondasi kehidupan. Sumber kerusakannya bukan di rumah tangga itu sendiri, tapi di sistem yang menumbuhkannya: Sekularisme menyingkirkan Allah dari rumah-rumah kita, Keluarga kehilangan ruh ibadah, karena kehidupan dipisahkan dari nilai-nilai ilahi, suami dan istri hidup berdampingan tapi tanpa visi ukhrawi.

Rumah tangga berjalan, tapi tanpa arah menuju ridha Allah SWT. Akibatnya, cinta menjadi rapuh, kesetiaan menjadi langka, dan pernikahan hanya tinggal formalitas yang sewaktu-waktu bisa retak oleh tekanan duniawi.

Pendidikan sekuler-liberal melahirkan generasi bebas tanpa batas. Mereka diajari menuntut hak, tapi tidak diajari menunaikan tanggung jawab, Diajari berani menolak, tapi tidak diajari beradab.

Akibatnya, generasi tumbuh cerdas tapi tak mengenal batas; bebas tapi kehilangan kendali diri. Mereka tahu apa itu “hak asasi manusia”, tapi lupa bahwa setiap hak dibatasi oleh kewajiban kepada Tuhan.

Sementara itu, Materialisme menukar cinta dengan hitungan dunia. Rumah tangga pun menjadi transaksi perasaan, bukan ibadah, saat ekonomi menekan, cinta pun meledak menjadi kekerasan. Banyak suami yang merasa gagal sebagai kepala keluarga karena ukuran kebahagiaan hanya diukur dengan materi. Padahal, keluarga bukanlah perusahaan yang harus selalu untung, tapi ladang amal yang harus terus dirawat.

Dan negara begitu abai, UU PKDRT hanya menindak pelaku, tapi tidak menumbuhkan ketakwaan. Hukum ditegakkan tanpa arah perubahan sistemik – ibarat menambal tembok yang retak, sementara fondasinya telah runtuh. Negara seolah hanya hadir setelah darah mengalir, bukan sebelum luka terjadi.

Padahal, Islam telah datang sejak lama, bukan sekadar untuk mencegah kekerasan, tetapi untuk menata kehidupan agar kezaliman tak pernah sempat lahir, membangun manusia dan keluarga yang bertakwa.

Dan Keluarga dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial, tapi pondasi peradaban. Suami adalah qawwam, pemimpin yang melindungi, bukan menindas. Istri adalah pendamping dan penenang, bukan pesaing. Anak adalah amanah, bukan pelampiasan emosi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Ketika prinsip ini dihapus oleh budaya liberal dan kapitalistik, yang tersisa hanyalah kehancuran emosional dan moral.

Solusinya hanyalah Islam. Islam tidak menambal luka, tapi mencegah darah pertama mengalir. Ia menata manusia sejak dalam hati, membangun keluarga di atas takwa, dan menegakkan negara yang menjadi pelindung, bukan penonton.

Dalam Islam, rumah adalah tempat ibadah, bukan arena amarah. Suami memimpin dengan kasih, istri mendampingi dengan cinta, anak tumbuh dalam naungan iman. Semua berjalan di bawah aturan Allah, bukan hawa nafsu manusia.

Negara pun hadir sebagai ra’in-pelayan yang menyejahterakan rakyat dan menjaga moral umat. Dan ketika terjadi kezaliman, hukum ditegakkan tegas sekaligus mendidik, agar masyarakat kembali pada fitrah.

Inilah keindahan sistem Islam: menata sebelum rusak, menenangkan sebelum marah, memperbaiki sebelum hancur. Hanya dengan kembali pada syariat Allah, keluarga kembali menjadi surga, dan bangsa kembali bermartabat. (*)


Penulis:
Nur Anisa Saleha
(Mahasiswi dan Aktivis Muslimah)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!