OPINI—Di balik layar gawai yang tampak sederhana, tersimpan ancaman serius bagi masa depan generasi. Perangkat digital yang awalnya diciptakan untuk memudahkan hidup manusia kini justru menjelma candu yang mematikan. Dunia digital tanpa kendali perlahan menggerus nalar, emosi, dan nilai kemanusiaan, terutama pada anak-anak.
Rentetan peristiwa seperti pembunuhan, kekerasan seksual, perundungan, tawuran, hingga berbagai tindakan asusila kerap dipicu oleh tontonan dan konten yang diakses melalui gawai. Ruang digital yang semestinya menjadi sarana edukasi berubah menjadi arena bebas tanpa batas nilai.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menyebut penggunaan gawai sebagai faktor dominan dalam kasus kekerasan terhadap anak. Dari berbagai kasus yang ditangani, sekitar 90 persen dipicu oleh penggunaan gawai tanpa pendampingan orang tua.
Di penghujung 2025, publik kembali dikejutkan oleh peristiwa memilukan. Seorang anak berusia 12 tahun berinisial AI, siswa kelas VI SD di Medan, Sumatra Utara, pada Rabu (10/12/2025), tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan paparan game online dan tontonan digital yang kerap dikonsumsi pelaku.
Motif pembunuhan dipicu oleh dendam setelah sang ibu menghapus game online di ponsel pelaku. Pengalaman kekerasan dalam rumah tangga yang pernah dialami pelaku turut memperparah kondisi emosionalnya.
Hasil identifikasi psikolog menyatakan emosi anak masih labil dan belum terkendali, diperburuk oleh paparan konten media sosial. Kasus ini menegaskan bahwa gawai dapat memengaruhi emosi dan kesehatan mental anak secara serius.
Kesenangan yang Menyesatkan
Ironisnya, rumah dan keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman kini justru kerap menjadi sumber ancaman. Penggunaan gawai yang tidak bijak berujung pada menurunnya kepekaan sosial. Manusia semakin jauh dari kemampuan berinteraksi secara sehat, bersyukur atas nikmat Allah, dan menjaga ikatan kekeluargaan.
Hubungan darah berubah menjadi amarah, silaturahmi berakhir perselisihan, dan kelembutan tergantikan kekerasan. Fenomena ini nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan, ibarat gunung es dari rusaknya tatanan kehidupan akibat media digital.
Media sosial memang memiliki sisi positif dalam mempercepat arus informasi. Namun, sisi negatifnya kian mendominasi karena konten yang tidak terkendali. Akibatnya, manusia mengalami degradasi moral, etika, akhlak, dan norma. Umat Islam pun semakin jauh dari nilai-nilai Islam.
Pengguna digiring larut dalam dunia maya melalui game online, judi daring, hingga pinjaman online, yang menumbuhkan ketergantungan pada sesuatu yang instan. Dampaknya, lahirlah individu yang kehilangan jati diri sebagai muslim dan lupa hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Generasi tumbuh rapuh tanpa landasan akidah Islam. Tanpa standar halal dan haram, manusia mudah terseret arus informasi dan modernisasi. Nilai yang dipegang bukan lagi benar atau salah, melainkan untung atau rugi. Inilah buah dari sistem sekularisme-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan.
Biang Kerusakan
Selama sistem kapitalisme sekuler mengatur kehidupan, kerusakan akan terus menghimpit manusia. Ruang digital yang dikuasai raksasa global menghadirkan hiburan menarik namun merusak. Setiap platform dimanfaatkan untuk meraup keuntungan tanpa memedulikan nasib generasi.
Negara yang seharusnya menjadi pelindung justru kerap abai. Demi kepentingan ekonomi dan pemasukan pajak, negara memfasilitasi aktivitas para kapitalis, sementara perlindungan generasi terabaikan. Akibatnya, kerusakan mental akibat paparan dunia digital semakin mengkhawatirkan.
Orang tua sebagai pendidik utama generasi pun kehilangan peran. Himpitan masalah kehidupan membuat mereka kewalahan, bahkan menjadikan gawai sebagai “pengasuh” anak. Kehadiran orang tua meredup, hanya menjadi figuran dalam rumah tangga.
Kembalikan Fungsi Keluarga, Masyarakat, dan Negara
Keluarga adalah benteng pertama dari paparan negatif dunia digital. Orang tua seharusnya mendampingi penggunaan gawai, bukan menyerahkan sepenuhnya pada layar. Masyarakat pun semestinya menjadi lingkungan aman dengan visi dan pola didik yang sejalan.
Namun, realitas menunjukkan semua berjalan sendiri-sendiri karena negara tidak hadir menguatkan fondasi umat. Konten dan program yang seharusnya mendidik justru diarahkan pada kepentingan pasar.
Kerusakan generasi akan berdampak langsung pada masa depan bangsa. Generasi adalah pemegang estafet yang harus dijaga agar tidak tergerus arus modernisasi yang merusak. Negara memiliki peran strategis dalam menguatkan akidah umat sebagai bekal menjalani kehidupan.
Akidah yang kuat akan membentuk pola pikir dan pola sikap sesuai tuntunan Islam. Dengan demikian, masyarakat memiliki kepribadian Islam yang utuh dan kesadaran tujuan hidup yang melahirkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Solusi Hakiki
Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin telah menyediakan solusi atas seluruh problematika kehidupan manusia. Persoalan generasi hari ini tidak akan selesai selama masih bertumpu pada sistem sekularisme-kapitalisme buatan manusia.
Dalam Islam, negara mengarahkan digitalisasi agar selaras dengan syariat dan fitrah manusia, mengaitkan seluruh aktivitas dengan ketaatan kepada Allah SWT. Diperlukan peran individu, masyarakat, dan negara untuk membentengi generasi dari jebakan dunia digital yang membajak potensi dan identitas sebagai muslim.
Sudah sepatutnya kaum beriman mengambil peran bersama, bersinergi memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah. (*)
Wallahu a’lam.
Penulis:
Yulianti, SE
(Aktivis Dakwah & Pemerhati Sosial)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











