OPINI—Belakangan ini, jagat media sosial riuh memperbincangkan sebuah karya literasi bertajuk Broken Strings. Buku yang ditulis oleh salah satu figur publik tanah air ini bukan sekadar narasi fiksi biasa, ia menjadi pemantik diskusi krusial mengenai sebuah ancaman senyap yang kerap bersembunyi di balik tirai perhatian: child grooming.
Secara terminologi, child grooming adalah sebuah orkestrasi manipulasi psikologis. Ini bukan serangan yang terjadi dalam semalam, melainkan proses panjang di mana seorang predator membangun jembatan emosional dan kepercayaan demi satu tujuan keji yakni eksploitasi seksual.
Tragisnya, proses ini dirancang sedemikian halus sehingga korban sering kali gagal menyadari niat jahat yang terselubung di balik kedekatan tersebut.
Predator dalam Jubah Kepercayaan
Satu hal yang perlu kita pahami dengan saksama adalah bahwa seorang groomer tidak selalu berwajah asing atau menakutkan. Mereka sering kali adalah sosok yang kita hormati atau kita cintai, mulai dari anggota keluarga, teman dekat, tokoh masyarakat, hingga figur otoritas seperti guru atau pelatih.
Strategi mereka sangat sistematis, meliputi beberapa tahapan yang mematikan seperti pelaku memilih anak yang tampak kesepian atau membutuhkan perhatian lebih, membanjiri korban dengan hadiah, pujian, dan perhatian ekstra untuk menciptakan rasa “istimewa”, pelaku perlahan menjauhkan anak dari orang tua atau sahabat, menciptakan ketergantungan emosional yang eksklusif, melalui sentuhan atau percakapan yang dianggap sebagai “rahasia spesial” pelaku mulai mengaburkan batasan moral korban, serta menggunakan rasa bersalah atau ancaman agar korban tetap bungkam dalam bayang-bayang ketakutan.
Munculnya karya seperti Broken Strings seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa edukasi mengenai batasan pribadi (personal boundaries) bukanlah hal yang tabu, melainkan kebutuhan mendesak. Kita harus menyadari bahwa dalam kasus grooming, korban tidak pernah bersalah. Beban moral sepenuhnya ada pada pundak pelaku yang menyalahgunakan kepercayaan.
Sebagai masyarakat, tugas kita bukan sekadar menjadi penonton drama di media sosial. Kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam melindungi hak anak-anak. Hal ini dimulai dengan membangun komunikasi yang terbuka di rumah, mengenali tanda-tanda perubahan perilaku pada anak, dan memberikan keberanian bagi mereka untuk berkata “tidak” pada sentuhan atau rahasia yang tidak nyaman.
Dahaga Kasih Sayang Celah Terjal bagi Predator
Di era yang serba kompetitif ini, sering kali kita terjebak dalam ambisi yang keliru. Anak-anak tak lagi dipandang sebagai jiwa yang perlu dipupuk, melainkan dianggap sebagai aset material, instrumen untuk meraih ketenaran, prestasi, dan pundi-pundi rupiah.
Namun, di balik gemerlap prestasi yang dipaksakan, sering kali tersimpan luka sunyi yang menjadi momok menakutkan bagi tumbuh kembang kepribadian sang buah hati.
Ketika orang tua hanya terpaku pada target angka dan popularitas, mereka kerap melupakan kebutuhan paling fundamental seorang manusia yakni koneksi emosional yang jujur. Anak yang dibebani ekspektasi tinggi tanpa dukungan kasih sayang yang memadai akan tumbuh dalam kesepian yang mendalam.
Alih-alih mendapatkan pelukan saat gagal mencapai target, mereka justru sering kali menjadi sasaran perundungan di rumah sendiri. Ejekan dan kata-kata yang menyudutkan dari orang tua adalah luka yang menggores mental secara permanen.
Pada titik inilah, anak berada dalam kondisi paling rentan. Rasa rendah diri dan kemarahan yang terpendam menciptakan kekosongan jiwa. Ketika mereka bertemu dengan sosok asing yang tampak menghargai usaha mereka, memberikan dukungan tanpa henti, dan menawarkan kehangatan palsu, pertahanan emosional anak akan runtuh. Inilah pintu masuk yang sempurna bagi predator grooming.
Manipulasi di Balik Topeng Kepedulian
Anak yang “lapar” akan perhatian akan dengan mudah terperangkap dalam jerat manipulasi. Bagi mereka, perhatian dari pelaku grooming adalah oase, tanpa mereka sadari bahwa itu hanyalah taktik untuk mengikat mereka secara emosional. Karena merasa berhutang budi dan merasa “dicintai”, anak dapat dengan mudah digiring untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma, yang secara keliru mereka anggap sebagai bentuk pengabdian atau cinta yang normal.
Kondisi ini diperparah ketika fondasi moral, nilai agama, dan norma sosial tidak ditanamkan sejak dini. Orang tua yang terlalu sibuk mengejar manfaat materi sering kali gagal mengajarkan konsep benar dan salah. Akibatnya, anak hidup dalam kebingungan moral. Mereka gamang, frustrasi, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya (insecure).
Kita perlu menyadari bahwa anak adalah individu yang utuh, bukan sekadar komoditas. Keberhasilan sejati seorang anak tidak diukur dari seberapa banyak ia menghasilkan benefit bagi orang tuanya, melainkan dari seberapa tangguh mentalitas dan integritas moralnya.
Memberikan edukasi agama dan menanamkan nilai kebaikan bukan sekadar kewajiban formalitas, melainkan perisai utama bagi anak dalam menghadapi dunia yang keras. Jika rumah gagal menjadi tempat pulang yang aman dan penuh kasih, maka anak-anak kita akan mencari “pulang” di tempat lain yang mungkin saja adalah pelukan seorang predator.
Sekularisme Menciptakan Kebebasan Tanpa Batas
Di balik gemerlap modernitas yang menjanjikan kebebasan tanpa batas, terselip sebuah paradoks yang kian nyata dalam kehidupan remaja kita. Narasi liberalisme yang mengagungkan kedaulatan individu secara ekstrem kini bukan sekadar wacana intelektual, melainkan telah menjelma menjadi gaya hidup.
Sayangnya, ketika kebebasan ini dilepaskan dari jangkar moral dan agama, ia tak lagi membebaskan, melainkan justru membelenggu masa depan generasi dalam lingkaran pergaulan bebas yang destruktif.
Masalah utama bermula dari sekularisme, sebuah paham yang memisahkan nilai spiritual dari urusan duniawi. Saat agama dipinggirkan ke sudut sempit kehidupan pribadi, remaja kehilangan standar berpikir yang absolut. Benar dan salah tak lagi diukur melalui timbangan Tuhan, melainkan melalui standar subjektif: manfaat jasmani dan kesenangan sesaat.
Kondisi ini menciptakan celah bagi suburnya child grooming dan eksploitasi. Dalam dunia yang serba “boleh” asal suka sama suka, remaja menjadi rentan terhadap manipulasi emosional. Tanpa batasan yang jelas antara halal dan haram, kebahagiaan semu (hedonisme) menjadi satu-satunya kompas yang mereka ikuti.
Dampak yang Melampaui Sekadar Pergaulan
Kebebasan yang “bablas” ini nyatanya membawa rentetan konsekuensi yang pahit dan multidimensional, di antaranya erosi moral dan normalisasi penyimpangan. Perilaku yang dahulu dianggap tabu kini dianggap lumrah atas nama hak asasi. Degradasi etika ini melunturkan rasa malu, yang sejatinya adalah benteng terakhir kehormatan seorang manusia.
Krisis identitas dan kesehatan mental juga menjadi dampak nyata. Tanpa landasan spiritual, remaja sering kali terombang-ambing dalam ketidakpastian. Hubungan tanpa ikatan formal dan tekanan sosial untuk tampil “modern” memicu kecemasan, depresi, hingga rendahnya harga diri.
Penyelamatan generasi tidak bisa dilakukan hanya dengan retorika. Ia memerlukan kembalinya peran agama sebagai standar hidup, penguatan fungsi keluarga sebagai pelindung pertama, dan lingkungan sosial yang tidak lagi menoleransi kemaksiatan atas nama kebebasan.
Membangun Benteng Perlindungan Menjaga Permata Bangsa
Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, ancaman terhadap keselamatan anak tidak lagi hanya datang dari pintu depan rumah, melainkan melalui layar-layar kecil di genggaman mereka.
Child grooming, sebuah upaya sistematis predator untuk memanipulasi emosi anak demi tujuan eksploitasi, telah menjadi hantu yang mengintai setiap celah kelengahan. Menghadapi ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan; diperlukan sinergi antara kehangatan keluarga, ketajaman literasi, dan ketegasan regulasi negara.
Keluarga adalah madrasah pertama dan utama. Langkah preventif paling mendasar bermula dari rumah. Seorang anak yang mendapatkan afeksi dan perlindungan optimal di rumah cenderung memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga tidak mudah termanipulasi oleh sanjungan palsu orang asing.
Pendidikan karakter dan sikap kritis juga mutlak diperlukan. Anak perlu diajarkan untuk memiliki “suara”. Mereka harus berani berkata “tidak”, berani menolak sentuhan yang tidak nyaman, dan berani berbicara ketika merasakan sesuatu yang salah.
Nilai agama sebagai filter menjadi benteng utama. Menanamkan nilai spiritual sejak dini bukan sekadar ritual, melainkan membangun kompas moral internal. Dialog, bukan monolog, harus menjadi pola komunikasi di rumah. Jadilah pendengar yang tulus, karena komunikasi dua arah yang hangat tanpa menghakimi akan membuat anak merasa aman untuk mengadukan kecurigaan apa pun sebelum terlambat.
Literasi digital dan pengawasan lingkungan juga tak kalah penting. Kita harus menyadari bahwa tontonan adalah tuntunan bagi pikiran yang sedang tumbuh. Apa yang anak baca, dengar, dan tonton akan mengendap dalam bawah sadar mereka. Jika tidak difilter, pola tingkah laku kekerasan atau pergaulan bebas bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Selain pengawasan gawai, orang tua wajib memahami lingkar pertemanan anak. Karakter anak adalah cermin dari lingkungannya. Oleh karena itu, memastikan mereka berada dalam ekosistem sosial yang positif adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mental dan masa depan mereka.
Tanggung jawab ini bersifat kolektif dan juga menjadi peran negara. Beban perlindungan tidak bisa hanya dipikul di pundak orang tua. Harus ada kontrol sosial dari masyarakat dan yang paling krusial adalah aturan tegas dari negara. Pemimpin adalah pelindung (junnah) yang berkewajiban menjaga fisik, mental, dan akal rakyatnya melalui regulasi yang menutup celah bagi para predator.
Mencegah child grooming adalah upaya memuliakan martabat manusia. Dengan perpaduan antara ketajaman mata orang tua, kekuatan iman, dan ketegasan hukum negara, kita dapat memastikan bahwa setiap anak tumbuh dalam dekapan perlindungan yang utuh, menjadi aset bangsa yang tangguh dan beradab di masa depan. Wallahu a’lam. (*)
Penulis:
Mariana
(Guru dari Kolaka, Sulawesi Tenggara)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.











