Memuat Ramadhan...
BMKG
Memuat data BMKG...
LIVE
Opini

Fakta Mengejutkan di Balik Kerusakan Bumi: Sistem Dunia Gagal, Islam Sudah Peringatkan

350
×

Fakta Mengejutkan di Balik Kerusakan Bumi: Sistem Dunia Gagal, Islam Sudah Peringatkan

Sebarkan artikel ini
Riska Nilmalasari D.A. (Praktisi Pendidikan)
Riska Nilmalasari D.A. (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Kerusakan bumi tidak lagi bisa disangkal. Ia hadir dalam bentuk yang nyata, brutal, dan semakin sering. Banjir bandang menghancurkan permukiman dalam hitungan jam. Kekeringan ekstrem melumpuhkan pertanian yang menjadi sandaran hidup jutaan manusia.

Selain itu, kebakaran hutan juga menghanguskan ekosistem yang butuh puluhan tahun untuk pulih. Udara semakin beracun, air semakin tercemar, dan krisis pangan mulai mengetuk pintu peradaban modern.

Ironisnya, semua ini terjadi di tengah klaim kemajuan teknologi dan slogan besar “pembangunan berkelanjutan”. Dunia tampak maju, tetapi bumi justru mundur menuju kehancuran.

Di sinilah fakta mengejutkan itu muncul: kerusakan bumi bukan karena manusia tidak mampu mencegahnya, tetapi karena sistem yang mengatur kehidupan memang tidak dirancang untuk melindunginya.

Sistem sekuler-kapitalisme memosisikan alam semata sebagai objek ekonomi. Nilai hutan diukur dari berapa besar keuntungan yang bisa diambil dari kayunya. Laut dinilai dari berapa banyak sumber daya yang bisa dieksploitasi. Tambang dipandang sebagai aset bisnis, bukan amanah yang harus dijaga.

Dalam logika ini, kelestarian bukan prioritas. Keuntungan adalah tujuan utama. Akibatnya, eksploitasi menjadi hal yang dilegalkan. Perusakan menjadi bagian dari mekanisme. Dan krisis ekologi menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, solusi yang ditawarkan sering kali hanya bersifat kosmetik. Kampanye lingkungan digencarkan, istilah “ramah lingkungan” dipopulerkan, tetapi eksploitasi tetap berlangsung. Sistem yang menjadi akar masalah tetap dipertahankan.

Dunia seolah mencoba memadamkan api, sambil terus menyiram bensin di saat yang sama.

Berabad-abad lalu, Islam telah memberikan peringatan yang hari ini terbukti nyata. Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, tetapi penjelasan mendalam tentang sebab krisis ekologis: ulah manusia dan sistem yang mereka bangun.

Islam memandang manusia bukan sebagai penguasa absolut bumi, tetapi sebagai khalifah fil ardh (penjaga yang memikul amanah). Alam bukan milik bebas yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan titipan yang harus dijaga keseimbangannya.

Berbeda dengan kapitalisme yang menyerahkan pengelolaan sumber daya pada kepentingan pasar, Islam menetapkan bahwa sumber daya vital seperti air, hutan, energi, dan tambang adalah milik umum. Negara wajib mengelolanya untuk kepentingan rakyat, bukan menyerahkannya kepada korporasi yang berorientasi keuntungan.

Prinsip ini bukan sekadar idealisme moral, tetapi mekanisme perlindungan yang nyata. Ketika eksploitasi tidak didorong oleh motif keuntungan semata, maka perusakan dapat dicegah sejak awal.

Hari ini, generasi muda hidup dalam bayang-bayang kecemasan ekologis. Mereka menyaksikan langsung bagaimana bumi terus mengalami degradasi, tetapi merasa tidak memiliki kendali untuk menghentikannya. Ini bukan sekadar krisis lingkungan, tetapi krisis harapan.

Islam menawarkan sesuatu yang tidak diberikan sistem modern: arah yang jelas dan tanggung jawab yang tegas. Menjaga alam bukan sekadar pilihan etis, tetapi bagian dari keimanan. Bahkan tindakan sederhana seperti menanam pohon dinilai sebagai amal yang bernilai abadi.

Lebih dari itu, Islam menempatkan negara sebagai pelindung, bukan sekadar regulator. Negara bertanggung jawab memastikan kebijakan tidak tunduk pada kepentingan ekonomi jangka pendek yang merusak keseimbangan alam.

Krisis ekologi pada akhirnya mengungkap satu kenyataan yang sulit diterima: masalah terbesar bukan pada bumi, tetapi pada sistem yang mengatur manusia.

Ketika sistem gagal melindungi kehidupan, maka kehancuran bukan lagi kemungkinan—melainkan keniscayaan.

Islam, jauh sebelum krisis ini mencapai titik kritis, telah memberikan peringatan sekaligus solusi. Bukan hanya untuk menyelamatkan lingkungan, tetapi untuk mengembalikan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Pertanyaannya kini bukan apakah peringatan itu benar. Tetapi apakah manusia bersedia mendengarkan, sebelum kerusakan menjadi tidak dapat diperbaiki. (*)

Wallahu’alam Bishowab.


Penulis:
Riska Nilmalasari D.A
(Praktisi Pendidikan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com