MAKASSAR – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, wacana transformasi bantuan sosial (bansos) dari pola konsumtif menuju bantuan produktif kembali mencuat. Konsep ini dinilai dapat menjadi salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Salah satu inovasi yang mulai mendapat perhatian adalah Sagu Cooker Bellatrix, alat penanak sagu otomatis yang dikembangkan dan dipasarkan PT Sagu Cooker Indonesia. Perangkat ini dirancang untuk memudahkan masyarakat mengolah berbagai pangan berbahan dasar sagu seperti papeda, kapurung, sinonggi, hingga pugalu secara lebih praktis, higienis, dan efisien.
Pengembangan teknologi tersebut dinilai selaras dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada aspek penguatan ketahanan pangan, diversifikasi pangan lokal, pemberdayaan ekonomi desa, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Di Sulawesi Selatan, implementasi awal telah dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman memperkenalkan sekaligus menyerahkan bantuan Sagu Cooker Bellatrix kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan pangan lokal berbasis inovasi daerah.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sagu sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah yang menjadikan sagu sebagai salah satu sumber pangan utama.
Bansos Tak Lagi Sekadar Konsumtif
Sejumlah pemerhati pembangunan menilai skema bantuan sosial ke depan perlu diarahkan menjadi lebih produktif. Bantuan tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi keluarga penerima manfaat.
Dalam konteks tersebut, Sagu Cooker Bellatrix dipandang sebagai salah satu alternatif bantuan produktif yang dapat diterapkan di kawasan sentra sagu, khususnya di Indonesia Timur.
Selain mempermudah proses pengolahan pangan lokal, penggunaan teknologi ini juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi energi rumah tangga, menjaga kualitas dan higienitas makanan, serta membuka peluang usaha mikro berbasis olahan sagu.
Berpotensi Menjangkau Jutaan Masyarakat
Sebagai ilustrasi kebijakan, apabila pemerintah menyalurkan satu juta unit Sagu Cooker Bellatrix kepada satu juta keluarga penerima manfaat, dengan asumsi rata-rata lima anggota keluarga setiap rumah tangga, maka program tersebut berpotensi memberikan manfaat langsung kepada sekitar lima juta jiwa.
Potensi dampak yang diproyeksikan meliputi:
- Mendorong diversifikasi konsumsi pangan berbasis sagu.
- Memperkuat ketahanan pangan masyarakat di kawasan Indonesia Timur.
- Mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
- Meningkatkan efisiensi pengolahan pangan rumah tangga.
- Membuka peluang usaha mikro berbasis pangan lokal.
Selaras dengan SDGs dan Asta Cita
Konsep bantuan produktif berbasis teknologi pengolahan sagu juga dinilai memiliki keterkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya pengurangan kemiskinan, penghapusan kelaparan, pertumbuhan ekonomi inklusif, pengurangan kesenjangan, serta konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
Di tingkat nasional, gagasan tersebut disebut sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kedaulatan pangan, mengembangkan ekonomi desa, dan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Hasanuddin sekaligus Kepala Pusat Litbang Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampisela, M.Sc., mengatakan Sagu Cooker Bellatrix dikembangkan sebagai inovasi yang tidak hanya memudahkan masyarakat mengolah pangan lokal, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi komoditas sagu.
“Sagu Cooker Bellatrix bukan sekadar alat elektronik rumah tangga. Inovasi ini kami hadirkan sebagai solusi modern agar masyarakat Indonesia Timur dapat mengolah pangan lokal secara lebih mudah, higienis, efisien, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sagu sebagai salah satu identitas pangan Nusantara,” ujarnya.
PT Sagu Cooker Indonesia menyatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung diversifikasi pangan nasional melalui pemanfaatan teknologi tepat guna yang dapat diakses masyarakat di daerah sentra sagu. (Advert)







