MAROS — Buah pinus yang selama ini belum banyak dilirik berhasil disulap mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi briket. Tak hanya itu, getah pinus juga diolah menjadi lilin aromaterapi. Inovasi bernama MAPPATUO ini bahkan mendapat apresiasi dari Bupati Maros.
Inovasi tersebut diperkenalkan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) UKM PERISAI UMI dalam kegiatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK di Kantor Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Selasa , 4 Agustus 2026 lalu.
MAPPATUO dikembangkan dengan memanfaatkan potensi hasil hutan yang tersedia di Desa Bonto Manurung. Buah pinus diolah menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif, sedangkan getah pinus dimanfaatkan sebagai bahan dasar lilin aromaterapi.
Produk tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan barang yang memiliki nilai guna, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengolahan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah.
Dalam kegiatan HKG PKK, Tim PPK ORMAWA UKM PERISAI UMI memperkenalkan MAPPATUO secara langsung kepada Ketua TP PKK Kabupaten Maros. Tim memaparkan konsep inovasi sekaligus menunjukkan produk briket buah pinus dan lilin aromaterapi berbasis getah pinus.
Respons positif diberikan Ketua TP PKK Kabupaten Maros setelah melihat langsung produk tersebut. Ia menilai MAPPATUO merupakan inovasi menarik yang berpotensi terus dikembangkan.
“Menurut saya, MAPPATUO ini inovasi yang sangat bagus, mantap sekali. Briket dari buah pinus dapat menjadi bahan bakar alternatif dengan minim asap. Selain itu, ada juga lilin aromaterapi dari getah pinus yang harum dan menarik. Saya sangat mengapresiasi inovasi anak-anak UMI. Mantap, semoga terus dikembangkan,” ujarnya, sesuai keterangan tertulis yang diterima mediasulsel.com, Selasa (11/8/2026).
Apresiasi tersebut semakin diperkuat dengan respons masyarakat yang hadir dalam kegiatan. Produk MAPPATUO yang dipamerkan tim berhasil terjual, menunjukkan adanya ketertarikan terhadap produk yang memanfaatkan potensi lokal tersebut.
Bagi Tim PPK ORMAWA UKM PERISAI UMI, penjualan produk menjadi pengalaman penting untuk menguji respons konsumen secara langsung. Masukan dan minat masyarakat selanjutnya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produk, kemasan, serta strategi pemasaran.
Melalui MAPPATUO, mahasiswa UMI ingin mendorong agar pemanfaatan buah dan getah pinus tidak berhenti sebagai hasil hutan, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Tim berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan bersama masyarakat Desa Bonto Manurung hingga menjadi produk unggulan yang mampu membuka peluang usaha dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Pengembangan MAPPATUO mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (BELMAWA) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA).
Tim PPK ORMAWA UKM PERISAI UMI juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Bonto Manurung, masyarakat, dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program serta pengembangan inovasi MAPPATUO. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Ainun Nurul Safitri (Mahaiswa FKM UMI)













