MAKASSAR—Kelas perdana mata kuliah Microteaching di Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Makassar (UNM) diikuti rangkaian pembelajaran selama 16 pertemuan, September hingga Desember 2026.
Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk calon guru Generasi Z (Gen Z) yang mampu memadukan keterampilan pedagogis dengan kreativitas dan teknologi digital.
Pelaksanaan kelas tersebut bukan sekadar pemenuhan beban SKS akademik, tetapi ruang inkubasi dan transformasi bagi calon guru yang didominasi Gen Z.
Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan karakter peserta didik di sekolah, mata kuliah ini diarahkan untuk menyelaraskan keahlian pedagogis tradisional dengan kreativitas digital yang menjadi ciri khas Gen Z.
Gen Z lahir dan tumbuh di era informasi yang bergerak serbacepat. Sebagai calon pendidik, mereka memiliki keunggulan berupa literasi digital yang tinggi, kebiasaan berpikir visual, serta kemampuan mengadopsi teknologi secara cepat.
Namun, adaptabilitas teknologi saja tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai pendidik yang efektif. Kelas microteaching mengambil peran sentral dalam mengarahkan energi kreatif Gen Z agar tidak hanya berfokus pada estetika media pembelajaran.
Mahasiswa juga diarahkan memperhatikan kedalaman substansi, metodologi pengajaran, dan pengelolaan kelas.
Pendidikan Administrasi Perkantoran sendiri telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Dunia perkantoran modern tidak lagi berpusat pada kearsipan manual atau tata kelola kertas (paper-based office), tetapi telah beralih ke ranah smart office, otomatisasi administrasi, dan tata kelola digital.
Karena itu, calon guru Administrasi Perkantoran di UNM dituntut mampu mengajarkan materi-materi modern tersebut dengan pendekatan yang interaktif, kontekstual, dan menyenangkan.
Rentang 16 pertemuan dari September hingga Desember 2026 memberikan struktur bagi mahasiswa untuk mengalami proses unlearning, learning, dan relearning.
Pemaparan pada kelas perdana menetapkan fondasi pemahaman mengenai keterampilan dasar mengajar, mulai dari membuka pelajaran, bertanya, memberi penguatan, hingga menutup pembelajaran dengan berkesan.
Dalam simulasi mengajar berskala kecil (micro), mahasiswa diberikan ruang untuk bereksperimen dengan berbagai model pembelajaran inovatif.
Model tersebut antara lain Project-Based Learning (PjBL), Problem-Based Learning (PBL), hingga pemanfaatan gamification dalam pembelajaran administrasi.
Umpan balik (feedback) dari dosen pengampu dan sesama rekan sejawat (peer teaching) di setiap pertemuan turut digunakan untuk mengasah kecerdasan emosional dan fleksibilitas mengajar mahasiswa.
Proses refleksi yang kontinu juga membantu Gen Z yang dikenal menyukai umpan balik cepat (instant feedback) mengidentifikasi kelemahan mengajar secara real-time.
Mahasiswa dapat memperbaiki gaya komunikasi serta melatih resiliensi ketika menghadapi situasi kelas yang tidak terduga.
Salah satu potensi mahasiswa Gen Z di UNM adalah kemampuan merancang konten yang menarik. Dalam konteks microteaching, potensi tersebut dapat disalurkan melalui pembuatan modul ajar digital, presentasi interaktif berbasis platform modern, hingga simulasi praktik perkantoran berbasis aplikasi.
Namun, tantangan yang sering dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara “kemasan” dan “isi”.
Pemaparan kelas perdana menegaskan bahwa kreativitas harus selalu mengabdi pada tujuan pembelajaran (learning outcomes).
Media pembelajaran yang canggih tidak boleh mendistraksi pemahaman siswa terhadap konsep dasar administrasi perkantoran.
Sebaliknya, inovasi yang dihadirkan harus mampu menyederhanakan konsep abstrak, seperti manajemen komunikasi kantor atau tata kelola dokumen elektronik, menjadi materi yang mudah dicerna dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pelaksanaan microteaching di Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNM juga membawa misi sosial yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Selatan dan Indonesia bagian timur pada umumnya.
Sekolah-sekolah menengah kejuruan (SMK) kelompok bisnis dan manajemen membutuhkan pasokan guru-guru muda yang energik, adaptif, serta membawa penyegaran dalam proses belajar-mengajar.
Penggemblengan yang terencana selama satu semester penuh diharapkan membuat lulusan UNM tidak hanya siap secara akademis, tetapi juga siap secara mental untuk menjadi agen perubahan (agent of change) di sekolah tempat mereka bertugas kelak.
Mereka diharapkan mampu menginspirasi peserta didik, mengikis stigma bahwa mata pelajaran administrasi bersifat membosankan atau sekadar hafalan, serta membawa iklim belajar yang inklusif dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Pemaparan kelas perdana microteaching di Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran UNM untuk periode September–Desember 2026 merupakan bagian dari proses pembentukan calon pendidik.
Dengan pengawalan konsisten dari para dosen pengampu serta komitmen belajar mahasiswa, program 16 pertemuan ini diarahkan untuk melahirkan calon pendidik yang kreatif dan inovatif secara visual dan teknologis, sekaligus matang secara metodologis dan karakter.
Sebagai gambaran praktis mengenai atmosfer simulasi pengajaran dan uji kinerja dalam ranah ini, contoh pelaksanaan praktik mengajar dapat dicermati pada Video Ukin PPG Daljab Manajemen Perkantoran UNM.
Video tersebut menampilkan simulasi praktik mengajar nyata pada bidang Manajemen Perkantoran di Universitas Negeri Makassar yang dapat menjadi rujukan standar bagi mahasiswa microteaching. (*)











