OPINI—Hentikan menyebut pembantaian di Palestina sebagai sekadar kekacauan biasa. Narasi menyesatkan itu sengaja dipelihara agar terkesan terjadi konflik yang setara.
Faktanya, tanah Palestina sedang dihabisi melalui proyek penjajahan dan pemusnahan etnis (ethnic cleansing) paling keji dalam sejarah modern.
Sejak awal, entitas Zionis tidak pernah datang untuk berbagi rumah. Mereka diselundupkan oleh imperialisme Inggris melalui Deklarasi Balfour untuk mencaplok tanah kaum Muslimin.
Hari ini, entitas tersebut dipelihara secara intim oleh Amerika Serikat sebagai alat militer untuk mencengkeram Timur Tengah. Mengharapkan kedamaian dari para pembantai dan pelindungnya bukan lagi sekadar kenaifan, melainkan bentuk ketidakpedulian mutlak terhadap kemanusiaan.
Ambisi Israel Raya dan Topeng Bisnis BoP Amerika
Kekejaman di lapangan hari ini berdiri di atas dua fakta yang tak terbantahkan.
Pertama, aneksasi wilayah Tepi Barat terus dilakukan secara brutal oleh Zionis Israel. Data terkini badan kemanusiaan PBB (UN OCHA) mencatat teror Tepi Barat mencapai level tertinggi melalui ribuan serangan fisik dan ancaman pembunuhan oleh pemukim ilegal bersenjata.
Agresi ini menghancurkan puluhan masjid dan merampas tanah melalui rencana pembangunan 2.300 unit perumahan ilegal Zionis baru demi menghapus jejak peradaban Islam.
Kedua, proyek New Gaza melalui kesepakatan BoP (Bottom of the Pyramid) makin masif. Alih-alih menjadi bantuan kemanusiaan murni, proyek rekonstruksi pascaperang di Jalur Gaza telah bergeser menjadi agenda ekonomi global yang dikendalikan oleh poros Washington-Tel Aviv.
Membaca fakta ini, kita dapat melihat bahwa aneksasi dan pengosongan lahan secara sistematis akan terus dilakukan oleh Zionis sekalipun PBB dan dunia menentangnya.
Ini menunjukkan tujuan Zionis membangun “Israel Raya” (Eretz Yisrael) sangat serius. Dampaknya, kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diberikan oleh Zionis karena hal itu bertentangan dengan proyeksi wilayah mereka.
Solusi dua negara (two-state solution) adalah hal yang mustahil disepakati oleh Zionis Israel. Mengharapkan mereka berbagi kedaulatan adalah fatamorgana yang mematikan.
Ironisnya, proyek Neo Gaza justru vulgar menjadi ladang bisnis raksasa bagi Amerika Serikat melalui strategi BoP-nya.
Strategi ini adalah cara paling licik dari kapitalisme global untuk menjajah tanpa senjata. Korporasi multinasional AS masuk menguasai sektor pangan, energi, telekomunikasi, dan sistem digital di Gaza, memaksa warga Palestina menjadi konsumen abadi yang bergantung pada Barat.
Skema BoP ini membuka jalan bagi investasi swasta asing untuk merampas aset strategis, seperti pengelolaan air bersih, listrik, hingga gas alam di lepas pantai Gaza (Gaza Marine).
Terjadilah siklus ekonomi genosida yang menjijikkan: Zionis menghancurkan Gaza menggunakan senjata AS, lalu korporasi AS membangunnya kembali demi keuntungan komersial di atas darah para syuhada.
Menolak Diplomasi, Persatuan Otoritas Tunggal Dunia Islam
Melihat watak asli Zionis yang anti-perdamaian dan keterlibatan Barat yang begitu pekat, seluruh tawaran solusi moderat saat ini harus dicampakkan.
Satu-satunya jalan keluar yang logis, adil, dan tuntas wajib berdiri tegak di atas tiga konstruksi perjuangan kaum Muslimin.
Pertama, Zionis Israel mustahil berdamai. Mobilisasi kekuatan militer bersama dan perlawanan fisik yang sah dari negeri-negeri Muslim melawan Zionis adalah kata kunci tunggal untuk membebaskan Palestina.
Entitas Zionis merebut tanah dengan moncong senjata, maka mereka hanya bisa diusir dengan kekuatan militer yang setara.
Mengirimkan kekuatan militer riil dari seluruh negara Muslim adalah jawaban fisik atas agresi fisik, bukan meja perundingan yang mandul. Selama militer negara-negara Muslim di sekitar Palestina hanya menjadi penonton di barak mereka, pembantaian akan terus berlanjut.
Kedua, topeng BoP harus dibongkar secara vulgar di hadapan umat agar umat tidak tertipu mendukung penguasanya bergabung dengan proyek BoP tersebut.
Kaum Muslimin harus disadarkan bahwa diplomasi ekonomi berkedok kemanusiaan ini adalah racun. Segala bentuk kerja sama penguasa Muslim dengan skema ekonomi Barat ini adalah bentuk pengkhianatan nyata karena secara tidak langsung melegitimasi eksistensi penjajah dan memberikan keuntungan materi bagi negara pendukung genosida.
Ketiga, persatuan negeri-negeri Muslim di bawah satu institusi global yang independen, tunggal, dan berdaulat harus semakin masif diperjuangkan melalui dakwah politis.
Akar dari ketidakberdayaan Palestina adalah sekat nasionalisme (nation-state) yang mencerai-beraikan kekuatan 1,9 miliar umat Islam menjadi puluhan negara yang lemah secara politik.
Palestina membutuhkan perisai politik global tunggal yang mandiri dari dikte Barat.
Oleh karena itu, merestrukturisasi arsitektur politik dunia Islam menjadi satu kesatuan otoritas global yang padu bukan sekadar utopia, melainkan kebutuhan geopolitik mendesak dan satu-satunya solusi institusional yang mampu melenyapkan hegemoni Barat serta mencabut akar penjajahan Zionis dari tanah kaum Muslimin.
Sudah terlampau banyak darah tertumpah demi memberi kita pelajaran bahwa sistem sekuler global ini cacat dan memihak pada penjajah.
Kini saatnya umat Islam mengambil alih kendali sejarah, mencampakkan ilusi solusi dua negara, dan menyatukan saf dalam satu komando politik yang gagah berani untuk membebaskan Al-Aqsa. (*)
Penulis:
Salmah Paita
(Aktivis Dakwah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.







