PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Karhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam SemalamDi Balik Takhta Toalala: Qadi, Masjid, dan Jejak Islam di Kerajaan EnrekangJorge Martin Kembali Geser Marquez di Puncak Klasemen Sementara GP 2026Karhutla Meluas, Rakyat Menghirup Asap, Bencana Alam atau Krisis Tata Kelola?Kijang Kapsul Masih Diburu di Makassar, Harga Bekas Bisa Tembus Rp100 JutaAku Hanya Ingin Didengar: Ketika Luka Harus Dipendam SendiriPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Karhutla Parepare Tembus 257 Kasus, Lima Hektare Lahan Terbakar dalam SemalamDi Balik Takhta Toalala: Qadi, Masjid, dan Jejak Islam di Kerajaan EnrekangJorge Martin Kembali Geser Marquez di Puncak Klasemen Sementara GP 2026Karhutla Meluas, Rakyat Menghirup Asap, Bencana Alam atau Krisis Tata Kelola?Kijang Kapsul Masih Diburu di Makassar, Harga Bekas Bisa Tembus Rp100 JutaAku Hanya Ingin Didengar: Ketika Luka Harus Dipendam Sendiri
Opini

Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Kelam Generasi Sekuler

7
×

Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Kelam Generasi Sekuler

Sebarkan artikel ini
Fitri Suryani, S.Pd.
Fitri Suryani, S.Pd.

OPINI—Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sebenarnya tidak selalu hidup dalam keadaan benar-benar ramai. Seseorang bisa memiliki banyak teman, aktif di kampus, memiliki ribuan pengikut di media sosial, bahkan hidup dalam lingkungan yang penuh aktivitas, tetapi tetap merasakan kesepian yang mendalam.

Kesepian bukan lagi sekadar persoalan tidak memiliki teman untuk berbicara. Ia dapat menjadi tanda adanya keterputusan manusia dari keluarga, masyarakat, bahkan dari makna hidup yang diyakininya.

Fenomena ini patut menjadi perhatian ketika sejumlah kasus yang melibatkan generasi muda muncul dalam waktu berdekatan. Pada Kamis, 10 September 2026, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus.

Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, pada Minggu, 6 September 2026.

Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian luas karena sebelumnya yang bersangkutan sempat mengunggah pesan perpisahan dan memberikan donasi dalam jumlah besar kepada komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental (Kompas, 10-09-2026).

Yang lebih memprihatinkan, data layanan Healing119.id menunjukkan bahwa dalam periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, pengguna layanan didominasi kelompok usia 21–30 tahun.

Kemenkes juga menyebut kelompok usia muda banyak menyampaikan keluhan berkaitan dengan kesepian, sementara keinginan untuk mengakhiri hidup paling banyak tercatat pada kelompok usia 11–30 tahun.

Tentu, setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda dan tidak tepat menyimpulkan bahwa satu faktor tertentu menjadi penyebab tunggal. Masalah kesehatan mental merupakan persoalan kompleks yang dapat dipengaruhi berbagai faktor psikologis, keluarga, sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Namun, rangkaian fakta tersebut seharusnya menjadi alarm bahwa ada persoalan lebih besar yang perlu dibicarakan: mengapa semakin banyak anak muda merasa begitu berat menjalani kehidupan?

Ketika Kesuksesan Tidak Menjamin Ketenangan

Salah satu persoalan masyarakat modern adalah kuatnya orientasi pada pencapaian individual. Sejak kecil, seseorang sering diarahkan untuk menjadi “sukses”: mendapatkan nilai tinggi, masuk perguruan tinggi bergengsi, memperoleh pekerjaan yang baik, memiliki penghasilan besar, membangun citra positif, dan mencapai standar kehidupan tertentu.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berprestasi. Persoalannya muncul ketika keberhasilan materi dan pengakuan sosial menjadi ukuran utama nilai seseorang.

Akibatnya, hidup seolah menjadi perlombaan. Seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika berhasil, ia takut kehilangan pencapaian. Ketika gagal, ia merasa dirinya tidak berharga.

Budaya positivity yang tidak disertai ruang untuk mengakui kesulitan juga dapat membuat seseorang merasa harus selalu terlihat baik-baik saja.

Di media sosial, kehidupan orang lain tampak sempurna: prestasi, perjalanan, pekerjaan, pertemanan, dan berbagai pencapaian dipamerkan. Sementara itu, kegagalan dan kesedihan sering disembunyikan.

Akibatnya, seseorang dapat berada di tengah keramaian tetapi merasa tidak memiliki tempat untuk benar-benar bercerita.

Inilah salah satu wajah individualisme: manusia didorong untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Ketika menghadapi tekanan, ia merasa harus kuat sendirian.

Ketika gagal, ia merasa harus segera bangkit tanpa boleh menunjukkan kelemahan. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan, perhatian, dan hubungan yang bermakna.

Saat Agama Dipisahkan dari Kehidupan

Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk yang mengejar kesenangan dunia. Kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu penghambaan kepada Allah Swt.

Akidah memberikan kerangka bagi seorang Muslim dalam memahami siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan ke mana kehidupannya akan berakhir.

Ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim tidak memandang hidup hanya berdasarkan keadaan saat ini. Kesulitan dipahami sebagai bagian dari ujian kehidupan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk kesulitan dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.

Keyakinan tersebut bukan berarti Islam mengajarkan seseorang untuk mengabaikan masalah atau menolak bantuan profesional. Justru ketika seseorang mengalami tekanan berat, ia membutuhkan pertolongan dari keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, dan lingkungan yang mendukung.

Islam juga secara tegas melarang bunuh diri. Larangan tersebut merupakan bagian dari penghormatan Islam terhadap kehidupan manusia.

Karena itu, seorang Muslim dibangun agar memiliki harapan kepada rahmat Allah sekaligus berusaha mencari jalan keluar dari persoalannya.

Dengan demikian, persoalan kesehatan mental tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan individu. Ada dimensi spiritual, keluarga, sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebijakan publik yang juga perlu diperhatikan.

Islam membangun hubungan sosial berdasarkan ukhuwah dan kepedulian. Keluarga bukan hanya tempat seseorang tinggal, tetapi juga tempat memperoleh kasih sayang, perlindungan, nasihat, dan dukungan.

Seorang anak yang mengalami kegagalan tidak semestinya hanya ditanya, “Mengapa kamu gagal?” tetapi juga perlu ditanya, “Apa yang sedang kamu rasakan?”

Seorang mahasiswa yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar-benar baik. Seorang pekerja yang mampu memenuhi kebutuhan materi belum tentu terbebas dari kesepian.

Karena itu, kepedulian sosial perlu dibangun kembali. Teman bukan hanya orang yang hadir ketika bersenang-senang. Teman juga adalah orang yang bersedia mendengarkan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan.

Masyarakat pun perlu menghilangkan stigma terhadap orang yang meminta pertolongan. Mencari bantuan psikologis bukan tanda kelemahan.

Sebaliknya, keberanian mengakui bahwa diri sedang membutuhkan bantuan merupakan langkah penting untuk mendapatkan pertolongan yang tepat.

Pendidikan yang Tidak Sekadar Mengejar Prestasi

Persoalan berikutnya adalah pendidikan. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pintar secara akademik, tetapi juga membentuk karakter, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan menghadapi persoalan kehidupan.

Dalam konstruksi pendidikan Islam, akidah menjadi dasar pembentukan kepribadian. Ilmu tidak dipisahkan dari kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah, kepada dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Dengan kerangka seperti itu, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, pekerjaan, jabatan, atau pendapatan.

Keberhasilan juga berkaitan dengan ketakwaan, akhlak, kemanfaatan bagi orang lain, serta kemampuan menjalani kehidupan sesuai tuntunan Allah.

Perspektif ini memberikan ukuran kehidupan yang berbeda. Ketika seseorang gagal mencapai suatu target duniawi, kegagalan tersebut tidak otomatis membuat seluruh hidupnya kehilangan makna.

Ia tetap memiliki nilai sebagai hamba Allah dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Selain itu, dalam gagasan politik Islam, negara dipandang memiliki tanggung jawab dalam mengurus urusan rakyat.

Negara tidak hanya berfungsi sebagai pengatur administrasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjamin kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, keamanan, serta menciptakan lingkungan sosial yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan secara layak.

Konsep tersebut dikenal dalam literatur Islam melalui prinsip bahwa penguasa adalah ra’in, yaitu pihak yang bertanggung jawab terhadap rakyat yang berada di bawah pengurusannya.

Jika konsep tersebut diterapkan dalam kerangka institusi Islam sebagaimana dibahas dalam literatur politik Islam, sistem pendidikan diarahkan berdasarkan akidah Islam, sedangkan pengaturan ekonomi didasarkan pada prinsip-prinsip syariat.

Tujuannya, dalam kerangka pemikiran tersebut, bukan sekadar mengejar pertumbuhan materi, tetapi memastikan kebutuhan masyarakat dan kemaslahatan umum diperhatikan.

Dalam perspektif Islam, akidah memberikan fondasi spiritual, keluarga menjadi tempat perlindungan pertama, masyarakat menjadi ruang kepedulian, dan negara memiliki tanggung jawab dalam menciptakan kehidupan yang layak.

Dari itu, generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar motivasi untuk “menjadi sukses”.

Mereka membutuhkan makna hidup, keluarga yang hadir, masyarakat yang peduli, pendidikan yang membentuk kepribadian, akses pertolongan yang mudah, serta lingkungan yang membuat mereka merasa bahwa hidup mereka berharga.

Oleh karena itu, masalah yang dialami generasi muda saat ini tidak lepas dari kehidupan sekuler yang diterapkan.

Dari itu, perlu adanya sinergi antara lingkungan keluarga, masyarakat, dan negara dalam menciptakan generasi yang tangguh.

Hal itu hanya mungkin terealisasi jika sistem yang ada merupakan sistem yang menjadikan aturan-Nya sebagai pedoman hidup. (*)

Wallahu a’lam.

Fitri Suryani, S.Pd.


Penulis:
Fitri Suryani, S.Pd.
(Freelance Writer)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com