TORAJA UTARA — Belajar ke luar negeri bagi Waode Surya Darmadali Manginda bukan sekadar pengalaman akademik. Dari Australia, dosen Bahasa dan Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar itu justru membawa pulang gagasan untuk membuka lebih banyak kesempatan kerja dan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas di Toraja Utara.
Waode mengikuti Australia Awards Indonesia Short Course – Social Protection and Community Empowerment pada 19 September hingga 4 Oktober 2026. Program tersebut membawanya mengikuti rangkaian pembelajaran di Newcastle, Canberra, dan Sydney, Australia, setelah sebelumnya menjalani tahapan pre-course di Indonesia.
Selama mengikuti program, Waode melihat masih ada pendekatan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.
“Kadang-kadang banyak hal yang tidak disadari bahwa pendekatan, pelaksanaan, dalam kegiatan masih belum ramah dengan penyandang disabilitas,” kata Waode kepada MediaSulsel.com, Kamis (8/10/2026).
Pengalaman itu kemudian mendorong Waode bersama peserta lainnya merancang proyek “Pathways to Work: Unlocking Inclusive Employment for People with Disabilities” di Kabupaten Toraja Utara.
Program tersebut dirancang untuk membangun jalur yang lebih jelas bagi penyandang disabilitas, mulai dari pendidikan, peningkatan keterampilan, kesiapan kerja, koneksi dengan dunia usaha hingga peluang ekonomi.
Rancangannya mencakup pemetaan kebutuhan, asesmen peserta, pelatihan, mentoring, penguatan kesiapan kerja, koneksi dengan pemberi kerja dan pasar, hingga job matching. Peserta juga akan dipantau setelah memasuki dunia kerja maupun ketika memilih mengembangkan usaha mandiri.

Pendidikan Harus Membuka Jalan ke Dunia Kerja
Bagi Waode, persoalan penyandang disabilitas tidak berhenti pada akses pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pendidikan dan keterampilan yang dimiliki benar-benar membuka jalan menuju pekerjaan dan kemandirian ekonomi.
Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas yang digunakan dalam penyusunan proyek, terdapat sekitar 300 lulusan D4/S1 penyandang disabilitas di Toraja Utara yang belum bekerja. Sekitar 45 persen di antaranya merupakan perempuan.
Kondisi itu menunjukkan masih adanya jarak antara pendidikan yang telah ditempuh dengan kesempatan ekonomi yang tersedia.
“Tujuan kami bukan hanya membuat penyandang disabilitas menjadi lebih job-ready, tetapi juga memastikan bahwa dunia kerja dan ekosistem kewirausahaan menjadi lebih disability-inclusive,” ujarnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan program tidak hanya dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan.
“Keberhasilan program ini bukan sekadar berapa banyak peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi berapa banyak yang akhirnya mendapatkan pekerjaan yang layak, membangun usaha yang berkelanjutan, atau memperoleh akses ekonomi yang benar-benar meningkatkan kemandirian mereka,” kata Waode.
Proyek tersebut dikembangkan bersama sejumlah penerima Australia Awards dari berbagai latar belakang, termasuk Kementerian PPN/Bappenas, BPJS Ketenagakerjaan Pusat, akademisi di bidang disabilitas, serta Konekin yang bergerak dalam pendidikan dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Di Toraja Utara, pelaksanaannya akan dikembangkan melalui kolaborasi Lingkar Perempuan Global (LPG) dan TP PKK Kabupaten Toraja Utara bersama pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, dunia usaha, komunitas serta pemangku kepentingan lainnya.

Menyiapkan Pelatihan untuk 30 Perempuan
Setelah kembali dari Australia, Waode mulai menyiapkan tindak lanjut proyek tersebut. Tahap awal dilakukan melalui asesmen bersama tim sebelum pelaksanaan pelatihan.
Pelatihan ditargetkan berlangsung pada November–Desember 2026 dengan sasaran awal 30 perempuan penyandang disabilitas di Toraja Utara.
Dukungan Ketua TP PKK Kabupaten Toraja Utara, Ny. Damayanti Batti Palimbong, S.IP., M.A., turut menjadi bagian dalam proses perencanaan kegiatan tersebut.
Program ini juga sejalan dengan fokus Pokja II TP PKK Toraja Utara pada bidang pelatihan dan keterampilan. Waode sendiri merupakan Ketua Pokja II TP PKK Toraja Utara sekaligus pendiri Lingkar Perempuan Global.
Ia selama ini aktif dalam pemberdayaan perempuan, pengembangan UMKM, literasi keuangan dan digital, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
Bagi Waode, pekerjaan yang lebih penting dari sekadar memberikan pelatihan adalah mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.
“Mereka bukan hanya penerima manfaat yang membutuhkan bantuan, tetapi individu yang memiliki pendidikan, keterampilan, potensi, dan kontribusi ekonomi yang dapat dikembangkan,” ujarnya.
Pengalaman mengikuti program internasional itu pun diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Pengetahuan dan jejaring yang diperoleh Waode dari Australia kini diarahkan untuk membangun ekosistem yang lebih inklusif, agar penyandang disabilitas di Toraja Utara memiliki pilihan yang lebih luas untuk bekerja, berwirausaha dan mencapai kemandirian ekonomi.(4nny)













