TORAJA UTARA—Ritus Sukacita Merok di kawasan cagar budaya Buntu Pune, Toraja Utara, menarik perhatian wisatawan mancanegara. Sepasang wisatawan asal Spanyol, Dago dan istrinya, mengaku takjub saat menyaksikan langsung tradisi adat Toraja dalam syukuran Tongkonan Kamiri dan Tongkonan Potoksia, Jumat (6/11/2026).
Bagi keduanya, perjalanan ke Toraja, Sulawesi Selatan, menghadirkan pengalaman budaya yang berkesan. Mereka mengaku sangat menikmati kesempatan menyaksikan langsung rangkaian upacara adat tersebut.
Dago dan istrinya takjub setelah mengetahui bahwa upacara itu merupakan ungkapan syukur atas dua tongkonan yang telah lama berdiri, tetapi baru diresmikan dan dirayakan melalui rangkaian upacara adat saat ini.
Keduanya mengetahui pelaksanaan ritus tersebut dari pemandu wisata yang mendampingi perjalanan mereka selama berada di Toraja. Ketertarikan untuk melihat langsung tradisi masyarakat setempat membawa mereka ke Buntu Pune.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap adat, Dago dan istrinya mengenakan sarung dan pakaian berwarna cerah sesuai anjuran berpakaian bagi pengunjung. Pilihan pakaian tersebut selaras dengan suasana Merok yang merupakan ritus adat sukacita.
Di Buntu Pune, Merok berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Ribuan rumpun keluarga keturunan Tongkonan Kamiri dan Potoksia datang dari berbagai wilayah untuk mengikuti rangkaian pentahbisan rumah adat leluhur mereka.
Rumpun keluarga yang hadir menempati alang dan tenda yang telah disediakan. Sejumlah tamu undangan dari unsur pemerintah, pihak gereja, masyarakat, wisatawan, hingga awak media juga hadir menyaksikan rangkaian upacara tersebut.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 13 Oktober hingga 7 November 2026 itu memasuki tahapan Ma’tanna Ma’papa pada Jumat. Sejumlah prosesi mewarnai tahapan tersebut, di antaranya Mantunu Bai, Massingi’ Tongkonan, arakan Lettoan yang diiringi tari Pa’katia, Ma’bugi, hingga Ma’buang.
Kehadiran rumpun keluarga dari berbagai wilayah membuat kawasan Buntu Pune dipenuhi aktivitas selama rangkaian upacara berlangsung. Di tengah prosesi adat, keluarga, tamu undangan, dan pengunjung berbaur menyaksikan tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut.
Pelaksanaan Ritus Sukacita Merok tahun ini juga berkolaborasi dengan Toraja Highland Festival (THF) 2026 yang berlangsung pada 5–7 November. Kolaborasi tersebut bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Toraja kepada khalayak lebih luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.

Ketua MASATA Toraja Utara, Ny. Damayanti B. Palimbong, dalam sambutannya menyampaikan dukungan terhadap pelestarian Ritus Merok sekaligus pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Menurutnya, kolaborasi antara kegiatan adat dan festival pariwisata dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi Toraja tanpa mengabaikan nilai-nilai adat yang terkandung di dalamnya.
Melalui Toraja Highland Festival, MASATA turut mempromosikan kawasan Buntu Pune dan rangkaian Ritus Merok. Sejumlah kegiatan pendukung juga digelar, antara lain lomba dan pameran fotografi yang melibatkan fotografer lokal maupun nasional, pameran lukisan, serta bazar UMKM.
Damayanti berharap kolaborasi serupa dapat terus dikembangkan pada masa mendatang. Tidak hanya melalui Ritus Merok, tetapi juga dengan memperkenalkan berbagai tradisi Toraja lainnya, termasuk Ma’nene.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Toraja Utara, Salvius Pasang, hadir mewakili Bupati Frederik Victor Palimbong yang sedang menjalankan tugas di luar daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Salvius menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi MASATA dan masyarakat adat dalam kegiatan tersebut.
Ia menekankan bahwa pengembangan pariwisata Toraja perlu bertumpu pada kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat. Pelestarian tradisi dan aktivitas budaya, menurutnya, dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Rangkaian Toraja Highland Festival 2026 dijadwalkan berlanjut hingga Sabtu (7/11/2026). Sejumlah agenda disiapkan, di antaranya Fine Bike dengan titik start di Buntu Pune dan finis di Alun-alun Kota Rantepao.
Selain itu, terdapat pameran fotografi dan lukisan, bazar UMKM, serta pertunjukan seni di panggung terbuka Buntu Pune.

Bagi Dago dan istrinya, menyaksikan Merok merupakan pengalaman untuk mengenal lebih dekat tradisi masyarakat Toraja. Sementara bagi rumpun keluarga Tongkonan Kamiri dan Potoksia, rangkaian upacara tersebut merupakan bagian dari penghormatan dan ungkapan syukur atas rumah adat leluhur mereka.
Di Buntu Pune, dua pengalaman itu bertemu. Tradisi yang terus dijaga masyarakat Toraja memberikan pengalaman baru bagi pengunjung dari berbagai tempat, termasuk wisatawan dari luar negeri. (*)













