OPINI—Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat dan mulai menjadi bagian dari berbagai aktivitas manusia. AI bukan lagi sekadar teknologi untuk menjawab pertanyaan atau menghasilkan gambar, tetapi telah masuk ke dunia kesehatan, keuangan, pendidikan, riset, hingga pengembangan teknologi itu sendiri.
Kondisi ini menghadirkan harapan besar sekaligus kekhawatiran yang tidak dapat diabaikan.
Salah satu perkembangan yang paling mendapat perhatian adalah kemungkinan terjadinya intelligence explosion atau “ledakan kecerdasan”.
Dalam riset yang terbit 28 September 2026, 22 peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, membahas kemungkinan AI semakin banyak mengotomatisasi penelitian dan pengembangan AI sehingga kemajuan teknologi dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Para peneliti menegaskan bahwa skenario tersebut masih penuh ketidakpastian, tetapi dampaknya sangat besar sehingga pemerintah perlu mempersiapkan diri sejak dini.
Kekhawatiran tersebut muncul karena AI yang semakin mampu membantu menciptakan teknologi AI berikutnya dapat membentuk suatu siklus percepatan.
Jika sebelumnya manusia menjadi aktor utama dalam pengembangan teknologi, ke depan AI dapat mengambil porsi yang semakin besar dalam proses tersebut.
Akibatnya, perkembangan AI berpotensi bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk memahami serta mengaturnya.
Di sisi lain, AI juga menawarkan manfaat besar. Dalam bidang kesehatan, AI telah digunakan untuk mendukung keselamatan pasien, analisis data kesehatan, penemuan obat, dan pengambilan keputusan.
Di Abu Dhabi, misalnya, sistem keselamatan pasien berbasis AI telah terhubung dengan rumah sakit dan digunakan oleh puluhan ribu orang.
Namun, teknologi yang sama juga bersifat dual use: dapat digunakan untuk kemaslahatan maupun kejahatan.
Para peneliti memperingatkan kemungkinan hilangnya kendali manusia terhadap sistem AI yang sangat canggih, melemahnya mekanisme pengawasan, serta penyalahgunaan oleh negara maupun kelompok tertentu.
Risiko juga mencakup keamanan siber dan potensi pemanfaatan AI untuk aktivitas berbahaya.
Ketika Teknologi Melaju, Regulasi Tertinggal
Persoalan utamanya bukan sekadar apakah AI akan semakin pintar, tetapi siapa yang mengendalikan AI, untuk tujuan apa, dan berdasarkan nilai apa.
Teori dual-use technology menjelaskan bahwa suatu teknologi dapat memiliki manfaat sekaligus potensi penyalahgunaan.
Karena itu, kecanggihan teknologi tidak otomatis menghasilkan kemaslahatan. Faktor manusia, tujuan penggunaan, sistem pengawasan, serta kepentingan ekonomi dan politik sangat menentukan dampaknya.
Fenomena ini terlihat dari kesulitan pemerintah mengejar perkembangan AI.
MetroTV melaporkan bahwa perkembangan AI yang cepat telah menciptakan kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan pemerintah meresponsnya.
Bahkan regulasi yang baru disahkan dapat membutuhkan penyesuaian karena teknologi berkembang lebih cepat daripada proses legislasi.
Dalam perspektif Islam, persoalan teknologi tidak berhenti pada kecanggihan alat. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah dengan akal dan diberi amanah untuk mengelola bumi.
Allah Swt. berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Akal bukan alasan manusia bebas menentukan segala sesuatu berdasarkan hawa nafsu. Akal justru menjadi sarana untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan mengembangkan ilmu yang bermanfaat.
Allah bahkan berfirman:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.”
(QS. Al-Baqarah: 31)
Karena itu, dalam perspektif Islam, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak menghasilkan kemudaratan.
Dalam pembahasan fikih peradaban Islam, produk teknologi dapat dipahami sebagai bagian dari madaniyah yang pada dasarnya bersifat netral, sementara nilai, tujuan, dan penggunaannya perlu dilihat berdasarkan standar syariat.
Dengan kerangka tersebut, AI tidak otomatis menjadi baik atau buruk hanya karena teknologinya.
Yang perlu diperhatikan adalah data yang digunakan, tujuan pembuatannya, keputusan yang dihasilkan, serta manusia dan institusi yang mengendalikannya.
Karena itu pula, kurang tepat jika bahaya AI disimpulkan semata-mata berdasarkan identitas agama seseorang.
Risiko muncul ketika AI digunakan tanpa tanggung jawab moral, tanpa pengawasan, dan tanpa batas etika, baik oleh individu, perusahaan maupun negara.
Seorang Muslim pun tetap dapat menyalahgunakan teknologi jika tidak memiliki ketakwaan dan integritas.
AI Harus Menjadi Sarana Kemaslahatan
Islam memberikan prinsip yang jelas bahwa ilmu dan teknologi harus diarahkan untuk kemaslahatan manusia.
Rasulullah saw. bersabda:
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan adanya ruang bagi manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Namun, kebebasan tersebut tidak berarti bebas dari pertanggungjawaban kepada Allah.
Maka, solusi menghadapi perkembangan AI bukan menolak teknologi, melainkan membangun tata kelola teknologi yang kuat, etis, transparan, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Pemerintah perlu meningkatkan kapasitas riset dan pengawasan AI, mewajibkan pengujian keamanan terhadap sistem berisiko tinggi, memperkuat perlindungan data, serta memastikan keputusan penting tetap memiliki mekanisme pertanggungjawaban manusia.
Lembaga pendidikan juga perlu membekali generasi muda dengan literasi AI sekaligus akidah, adab, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab.
AI harus menjadi alat bantu belajar dan berkarya, bukan pengganti akal, tanggung jawab, dan proses pendidikan manusia.
Dalam kerangka Islam, perkembangan teknologi harus ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan kehidupan yang tunduk kepada nilai syariat.
Tujuannya bukan sekadar menciptakan AI yang semakin cerdas, tetapi memastikan kecerdasan tersebut membawa manusia semakin dekat kepada kemaslahatan, bukan semakin dekat kepada kerusakan.
Sebab, tantangan terbesar AI bukan hanya pertanyaan, “Seberapa cerdas AI akan menjadi?”
Melainkan, “Untuk tujuan apa kecerdasan itu digunakan, dan siapa yang bertanggung jawab ketika kecerdasan tersebut membawa dampak bagi kehidupan manusia?” (*)
Penulis:
Nur Afni
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










