OPINI—Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali menjadi ancaman serius bagi kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Ketika rupiah terus terdepresiasi, dampaknya tidak hanya terasa di pasar keuangan atau kalangan pengusaha besar, tetapi langsung menghantam kehidupan rakyat menengah-bawah. Harga bahan baku naik, biaya produksi meningkat, harga kebutuhan pokok ikut terdorong, dan beban hidup masyarakat semakin berat.
Belakangan, rupiah bahkan sempat menyentuh level yang mengkhawatirkan terhadap dolar AS. Kondisi ini berdampak luas karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku, energi, hingga kebutuhan industri tertentu. Ketika dolar menguat, biaya impor melonjak dan pada akhirnya dibebankan kepada masyarakat dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.
Kelompok yang paling terdampak tentu masyarakat kecil. Nelayan misalnya, mengeluhkan harga BBM yang naik drastis dan kelangkaan solar subsidi yang membuat mereka kesulitan melaut. Di sisi lain, pendapatan mereka justru tidak meningkat. Akibatnya, banyak masyarakat harus memutar otak demi bertahan hidup.
Kondisi ekonomi yang semakin sulit juga membuat masyarakat terjebak dalam pinjaman online (pinjol). Data menunjukkan total pinjaman pinjol masyarakat Indonesia terus meningkat hingga mencapai angka yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa banyak rakyat tidak lagi memiliki daya tahan ekonomi dan akhirnya menjadikan utang sebagai jalan keluar sementara.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, pemerintah justru memandang keadaan masih dalam batas aman. Bahkan muncul pernyataan bahwa masyarakat desa tidak terlalu terdampak karena “tidak memakai dolar.” Pernyataan seperti ini menunjukkan adanya jarak antara penguasa dan realitas yang dialami rakyat di lapangan.
Padahal pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar uang. Dampaknya nyata terhadap harga pangan, transportasi, energi, dan kebutuhan sehari-hari. Ketika harga-harga naik, masyarakat kecil yang paling merasakan tekanan karena penghasilan mereka tetap, sementara kebutuhan terus meningkat.
Jika dianalisis lebih dalam, salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah konstelasi politik internasional. Ketegangan global, termasuk konflik dan perang antarnegara besar seperti AS dan Iran, memengaruhi aktivitas pasar dunia dan arus modal internasional. Ketika kondisi global tidak stabil, dolar AS cenderung menguat dan mata uang negara berkembang seperti rupiah melemah.
Namun persoalannya bukan hanya faktor global. Yang lebih penting adalah bagaimana negara menghadapi dampak tersebut. Ketidakpekaan pemerintah terhadap kondisi rakyat membuat solusi yang diambil sering tidak menyentuh akar masalah. Alih-alih melindungi masyarakat, kebijakan yang dibuat justru memperbesar beban hidup rakyat.
Utang negara terus bertambah, sementara rakyat juga semakin bergantung pada utang pribadi seperti pinjol. Ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi saat ini gagal memberikan rasa aman dan kesejahteraan. Masyarakat dipaksa bertahan sendiri di tengah tekanan ekonomi tanpa perlindungan nyata dari negara.
Dalam perspektif Islam, kondisi ini terjadi karena sistem ekonomi yang diterapkan berbasis kapitalisme ribawi. Sistem ini menjadikan dolar sebagai pusat kekuatan ekonomi global dan membuka ruang besar bagi praktik riba, spekulasi, serta ketimpangan distribusi kekayaan.
Islam memiliki sistem ekonomi yang berbeda dan lebih stabil. Dalam kitab Nidzamul Iqtishadi fil Islam, Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa Islam menetapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak. Sistem ini memiliki nilai intrinsik sehingga tidak mudah dipermainkan oleh kepentingan politik global maupun spekulasi pasar.
Berbeda dengan uang kertas saat ini yang nilainya bergantung pada kepercayaan pasar dan kebijakan negara besar, emas dan perak memiliki kestabilan yang lebih kuat. Dengan sistem tersebut, inflasi yang ekstrem dan pelemahan mata uang dapat diminimalkan.
Selain itu, Islam juga melarang riba dalam seluruh aktivitas ekonomi. Larangan riba sangat penting karena sistem utang berbunga justru memperparah ketimpangan dan menjerat masyarakat dalam lingkaran kesulitan. Pinjol yang hari ini menjamur adalah salah satu bukti bagaimana sistem ribawi menghancurkan kehidupan rakyat kecil.
Islam juga mewajibkan negara menjaga stabilitas harga dan distribusi kebutuhan pokok. Negara tidak boleh membiarkan barang-barang penting dikuasai oligarki atau dipermainkan pasar. Pengelolaan sumber daya alam seperti energi harus dilakukan negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta demi keuntungan bisnis.
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar jabatan politik, tetapi amanah besar. Pemimpin adalah ra’in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung). Artinya, negara wajib hadir melindungi masyarakat dari kesulitan hidup dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Ketika rakyat kesulitan membeli pangan, energi mahal, dan utang semakin menjerat, maka negara tidak boleh lepas tangan. Negara harus segera mengambil langkah nyata untuk melindungi masyarakat, bukan justru mengeluarkan kebijakan yang memperberat keadaan.
Karena itu, persoalan pelemahan rupiah tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan teknis semata. Akar masalahnya adalah sistem ekonomi kapitalisme yang rapuh dan bergantung pada kekuatan global. Selama sistem ini tetap dipertahankan, maka rakyat akan terus menjadi pihak yang paling dirugikan setiap kali krisis terjadi.
Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar: sistem mata uang yang stabil, larangan riba, pengelolaan kekayaan untuk rakyat, serta kepemimpinan yang benar-benar bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat.
Akhirnya, melemahnya rupiah harus menjadi pengingat bahwa sistem ekonomi hari ini tidak mampu memberikan keamanan hidup bagi rakyat kecil. Sudah saatnya umat melihat kembali Islam bukan hanya sebagai agama ibadah ritual, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan secara nyata. (*)
Penulis:
Nur Afni, S.Si
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.









