PANGKEP — Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tabo-Tabo di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, mulai diarahkan bukan sekadar kawasan konservasi, tetapi juga menjadi ruang tumbuh ekonomi bagi generasi muda.
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, menggelontorkan fasilitasi 27 unit atau paket alat produktif senilai Rp130.437.000 untuk mendukung usaha kreatif pemuda di kawasan tersebut.
Fasilitasi itu diberikan dalam kegiatan Wirausaha Kreatif Kehutanan Pemanfaatan Jasa Lingkungan Edu-Ekowisata yang digelar di KHDTK Tabo-Tabo, Desa Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro, Kamis, (17/9/2026) lalu.
Bantuan tersebut menyasar para pemuda lokal yang sebelumnya mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek). Sebanyak 30 pemuda berusia 17–30 tahun telah mengikuti pelatihan dan kemudian membentuk Koperasi Jasa Panrita Deswita Mandiri sebagai wadah usaha bersama.
Pusgenri menilai pembentukan koperasi saja belum cukup. Kelembagaan yang baru lahir membutuhkan dukungan peralatan dan peningkatan kapasitas agar tidak berhenti sebagai organisasi formal tanpa aktivitas ekonomi.
Karena itu, alat produktif yang diberikan diarahkan langsung ke lima sektor usaha di KHDTK Tabo-Tabo, yakni camping ground, sekolah alam, trekking forest healing, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), serta wisata religi dan budaya.
Untuk camping ground, peralatan yang diberikan antara lain tenda, flysheet, sleeping bag, matras, lampu camping dan perlengkapan pendukung lainnya. Sementara spot sekolah alam diperkuat dengan binokuler, jaring serangga, buku panduan lapangan serta peralatan pengamatan keanekaragaman hayati.
Pada sektor trekking forest healing, bantuan mencakup binokuler, kamera profesional EOS RP, tandu portable, perlengkapan P3K hingga panel barcode pohon. Peralatan tersebut dapat mendukung kegiatan wisata berbasis edukasi dan pengenalan ekosistem hutan.
Sementara sektor HHBK mendapat dukungan peralatan yang berkaitan dengan pengolahan potensi aren dan madu, mulai dari alat sadap aren, perlengkapan panen madu Dorsata dan Trigona, alat panjat, vacuum sealer, spinner hingga peralatan pengolahan gula aren dan madu.
Sedangkan sektor wisata religi dan budaya diperkuat dengan handy talkie dan perangkat pengeras suara.
Tak berhenti pada bantuan barang, Pusgenri juga membekali para pengelola dengan pelatihan manajemen usaha dan pengelolaan ekowisata. Narasumber berasal dari praktisi serta perangkat daerah terkait di Kabupaten Pangkep.
Legalitas usaha juga menjadi perhatian. Dalam kegiatan tersebut digelar klinik perizinan Nomor Induk Berusaha (NIB) bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pangkep.
Langkah ini diarahkan agar koperasi yang dibentuk para pemuda memiliki fondasi legal sekaligus mampu menjalankan aktivitas usaha secara profesional.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Pangkep, Kepala DPMPTSP Pangkep, Kepala Balai P2SDM Wilayah VI Makassar serta sejumlah kepala perangkat daerah terkait.
Melalui program ini, Kementerian Kehutanan mendorong Koperasi Jasa Panrita Deswita Mandiri menjadi motor ekonomi baru bagi pemuda di sekitar KHDTK Tabo-Tabo.
Targetnya bukan sekadar menghasilkan kegiatan wisata, tetapi menciptakan pendapatan bagi pemuda melalui pemanfaatan jasa lingkungan dan hasil hutan bukan kayu tanpa mengabaikan fungsi kelestarian kawasan.
Program tersebut juga ditempatkan sebagai bagian dari dukungan terhadap target Indonesia FOLU Net Sink 2030, sekaligus mendorong lahirnya Genries atau Generasi Muda Pelestari Hutan yang memiliki kemampuan usaha dan kepedulian terhadap keberlanjutan hutan.
Dengan dukungan alat, keterampilan dan legalitas usaha, KHDTK Tabo-Tabo kini memiliki modal awal untuk menguji satu hal penting: bisakah potensi hutan diubah menjadi sumber ekonomi pemuda tanpa mengorbankan kelestariannya? (70n)







