PANGKEP — Warga di 80 pulau berpenghuni di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) tak mau lagi hidup dalam keterbatasan listrik. Pemerintah Kabupaten Pangkep bersama PLN kini menargetkan seluruh wilayah kepulauan menikmati listrik 24 jam hingga 2029.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Elektrifikasi Desa dan Kepulauan di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Pangkep, Senin (15/9/2026). Rapat dipimpin Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau dan dihadiri Manager PLN UP2K Sulselrabar Rahmatan, para camat kepulauan, kepala desa serta organisasi perangkat daerah terkait.
Yusran menegaskan, persoalan listrik di kepulauan bukan sekadar soal lampu menyala pada malam hari. Keterbatasan pasokan listrik ikut membatasi aktivitas ekonomi, pendidikan hingga penghidupan nelayan.
Dari total 133 pulau di Pangkep, sebanyak 80 pulau tercatat berpenghuni. Wilayah tersebut menjadi sasaran utama pemerataan elektrifikasi.
“Selama ini warga kepulauan hanya menikmati listrik beberapa jam saja. Padahal kebutuhan listrik untuk es batu nelayan, untuk SPBE, untuk SPBN di Kampung Nelayan Merah Putih sangat mendesak,” tegas Yusran.
Menurutnya, kondisi tersebut menyangkut persoalan keadilan. Warga yang tinggal di pulau, kata dia, tidak boleh terus tertinggal hanya karena akses geografis.
PLN pun menyiapkan dua skema untuk mempercepat pemerataan listrik. Untuk wilayah darat dan pesisir yang masih memungkinkan dijangkau jaringan, PLN akan melakukan perpanjangan jaringan listrik.

Sementara pulau-pulau terpencil yang sulit dijangkau jaringan kabel akan diarahkan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Skemanya terdiri atas PLTS komunal dan individual.
Untuk skema komunal, dibutuhkan lahan sekitar satu hektare untuk kapasitas 1 megawatt yang dikelola PLN dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Sedangkan skema individual menggunakan kapasitas sekitar 1 kWp untuk setiap rumah.
Kabar baiknya, Pangkep tahun ini mendapat kuota tujuh lokasi prioritas dari total 28 lokasi se-Sulawesi Selatan, termasuk wilayah Takalar dan Selayar.
Kepala Desa Mattiromatae, Rizal Idris, menyambut rencana tersebut. Ia mengaku warga desanya sudah lama menunggu akses listrik yang lebih memadai.
“Anak-anak belajar dengan lampu seadanya dan hasil tangkapan nelayan tidak bisa disimpan lama karena tidak ada es batu,” ungkap Rizal.
Ia memastikan pemerintah desa siap mendukung proses tersebut, termasuk menyiapkan lahan dan kelengkapan administrasi. “Kami akan kawal sampai menyala,” tegasnya.
Setelah rapat, tim teknis PLN bersama Pemkab Pangkep dijadwalkan langsung turun melakukan survei ke tujuh pulau prioritas. Langkah ini menjadi tahap awal mengejar target Pangkep terang benderang dengan layanan listrik 24 jam hingga 2029. (M4d)













