JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, KH Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan peringatan Sumpah Pemuda ke-98 sebagai momentum memperkuat persatuan sekaligus menyelamatkan masa depan generasi muda Indonesia.
Menurut pimpinan umum Wahdah Islamiyah tersebut, pemuda saat ini menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Mulai dari terbatasnya lapangan pekerjaan, ancaman narkoba dan judi online, krisis keteladanan, hingga pengaruh negatif media sosial.
Ia menilai, tuntutan agar generasi muda menjadi unggul harus dibarengi dengan kehadiran negara, keluarga, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat dalam memberikan perlindungan serta membuka ruang bagi pengembangan potensi mereka.
“Kita tidak boleh hanya menuntut pemuda menjadi generasi unggul, sementara berbagai persoalan yang mengancam masa depan mereka belum kita tangani dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Zaitun juga mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda 1928 harus terus dihidupkan, terutama di tengah tantangan polarisasi dan perbedaan yang berpotensi mengganggu persatuan bangsa.
Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjadikan kemajuan teknologi sebagai sarana mempererat hubungan, bukan justru memicu permusuhan.
“Dahulu pemuda menyatukan bangsa yang terpisah oleh jarak dan perbedaan. Hari ini, jangan sampai teknologi yang menghubungkan kita justru menjadi sarana perpecahan. Pemuda harus menjadi perekat persatuan, bukan pemicu permusuhan,” tegasnya.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MUI Bidang Ukhuwah, ia turut mengajak generasi muda Islam memperkuat persaudaraan, menjauhi fanatisme kelompok yang merusak, serta mengambil peran dalam dakwah yang mencerahkan dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Ia menekankan, kepedulian terhadap persoalan umat, solidaritas kemanusiaan, termasuk terhadap Palestina, harus berjalan seiring dengan tanggung jawab membangun Indonesia.
Zaitun berharap pemuda Islam dapat tampil sebagai bagian dari solusi berbagai persoalan bangsa dengan memperkuat iman, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Pemuda Islam harus tampil sebagai bagian dari solusi persoalan bangsa. Kuat dalam iman, unggul dalam ilmu, mulia dalam akhlak, dan luas kontribusinya. Keislaman dan kecintaan kepada Indonesia harus menjadi kekuatan untuk menghadirkan kemaslahatan,” tuturnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan optimisme dan slogan. Diperlukan langkah konkret melalui perluasan kesempatan bagi generasi muda, penguatan pendidikan karakter, serta pembentukan generasi yang mandiri, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Ia pun mengajak generasi muda tidak sekadar mengenang sejarah Sumpah Pemuda, tetapi meneruskan keberanian para pendahulu dalam menjaga persatuan dan memberikan kontribusi bagi bangsa.
“Jangan hanya mewarisi semangat Sumpah Pemuda. Warisi keberanian mereka untuk bersatu, berkorban, dan berbuat sesuatu yang besar bagi bangsa,” pungkasnya. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muhammad Akbar (Humas UZR)













