Advertisement - Scroll ke atas
Makassar

Guru Besar FKM Unhas Sarankan Mobil Pengangkut Sampah Disemprot Disinfektan

314
×

Guru Besar FKM Unhas Sarankan Mobil Pengangkut Sampah Disemprot Disinfektan

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof. Sukri Palutturi, M.Kes, MSc.PH.,Phd, menyarankan agar pemrintah kota Makassar melakukan penyemprotan disinspektan sesuai standar kementrian kesehatan atau WHO seluruh mobil pengangkut sampah yang beroperasi setiap hari.

Selain itu menurut Prof. Sukri, karena mobil sampah yang mengangkut berbagai sampah baik rumah tangga maupun industri berpotensi menjadi media yang bisa membawa Coronavirus disease (Covid-19), sebaiknya tidak diparkir di tempat yang banyak penduduk.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

“Saya kira mobil pengangkut sampah itu bisa menjadi media penyebar virus, karena dari sampah yang dibuang seperti masker bekas digunakan oleh penderita covid, sangat berpotensi untuk menularkan apalagi jika petugas sampah tidak menggunakan kaos tangan dan sebagainya,” terang Prof. Sukri kepada Media Sulsel, Jum’at (17/4).

Selain itu lanjut Prof. Sukri yang juga sebagai ketua Persatuan Sarjana Kesehatan Masyarakan Indonesia (Persakmi) Sulsel, petugas sampah juga memiliki potensi yang besar menjadi media penyebar, karena mereka setiap hari keliling dari rumah ke rumah dan tetap melakukan kontak dengan orang lain.

“Sekarang banyak yang terinfeksi tanpa gejala, jadi sebaiknya petugas sampah harus dilengkapi dengan masker standart dan menggunakan sarung tangan, dan sampah jangan dibuka dari kantongnya, dan petugas sampah harus disiplin mengenakannya serta lebih sering cuci tangan dengan sabun di air mengalir serta tetap jaga jarak” lanjut Prof. Sukri yang juga merupakan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FKM Unhas itu.

Sementara itu, anggota Fraksi PAN DPRD Makassar, Hamzah Hamid, saat dihubungi secara terpisah mengatakan, bahwa dalam situasi seperti saat ini menjadi sangat penting petugas kebersihan dilengkapi dengan sejumlah alat pelindung diri mulai dari sepatu, masker dan kaos tangan.

Lebih lanjut Hamzah yang mengaku setiap saat bergaul dengan petugas sampah, mengaku telah menerima keluhan dari para petugas sampah tersebut yang mengatakan, bahwa mereka merasa diperlakukan seperti ayam yang dilepas, dan tidak diperdulikan yang penting mereka tetap bekerja.

“Penyampaian sejumlah petugas kebersihan ke saya, mereka ini seperti ayam yang dilepas saja, terserah mau mati atau mau apa yang penting kamu bekerja dan tidak dipeduli, menjadi miris juga sebenarnya jika melihat perhatian pemerintah kota Makassar yang tidak memperdulikan mereka itu,” tegas Hamzah.

Bahkan masih menurut Hamzah, sejumlah petugas sampah tersebut mengaku pasrah dengan situasi yang mereka hadapi, karena tidak pergi kerja mereka tidak diliburkan juga, tapi secara prinsipil mereka tidak mempermasalahkan hal itu, namun semestinya mereka dilengkapi dengan alat pelindung diri yang standart.

“Di suasana seperti ini, mereka ini tidak lagi memikirkan dirinya dengan bahaya yang ada, mereka tetap masuk bekerja, olehnya itu saya berharap pemerintah kota Makassar, mungkin melalui Dinas Sosial memperhatikan dengan memberikan kompensasi kepada mereka,” lanjut Hamzah.

Untuk diketahui di kota Makassar setidaknya terdapat tiga kelurahan yang menjadi titik kumpul baik petugas maupun mobil sampah yaitu meliputi kelurahan Batua, Biring Romang dan Tamangapa yang kesemuanya di kecamatan Manggala, yang tentu saja harus diberikan bantuan lebih khsusnya dalam memutuskan mata rantai peredaran covid-19. (464Ys)

error: Content is protected !!