BLITAR — Waktu hingga empat jam harus dihabiskan warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur, demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite. Antrean kendaraan mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Kamis (15/10/2026), di tengah beredarnya isu kelangkaan BBM yang memicu keresahan masyarakat.
Antrean panjang tersebut terjadi di berbagai wilayah, bukan hanya di satu atau dua SPBU. Warga yang hendak berangkat bekerja terpaksa menghabiskan waktu di antrean, sementara sebagian lainnya khawatir kehabisan BBM sebelum mendapatkan giliran pengisian.
Arie, salah seorang warga Wlingi Blitar, mengaku melihat antrean kendaraan di sejumlah SPBU sepanjang perjalanan dari wilayah tempat tinggalnya di Wlingi hingga Kota Blitar. Menurutnya, kondisi itu berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
“Mulai dari SPBU Pandean Wlingi hingga di Blitar kota, saya lihat antrean panjang terjadi di semua SPBU. Bahkan ada teman yang mengaku sampai butuh waktu 4 jam untuk mengantre,” ungkap Arie melalui sambungan telepon.
Situasi tersebut semakin menyulitkan warga ketika BBM di SPBU habis sebelum giliran mereka tiba. Waktu yang terbuang untuk mengantre pun menjadi keluhan, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas dan bekerja.
“Akibat dari antrean banyak aktifitas kita yang terganggu. Yang lebih parah lagi kalo sudah antre lama, tiba-tiba saat tiba giliran stok BBM di SPBU-nya habis,” keluhnya.
Di tengah antrean yang terus memanjang, pengelola SPBU Bence, Garum, Yulianto, memastikan stok BBM di tempatnya masih tersedia. Ia mengatakan, salah satu langkah yang diterapkan pengelola adalah membatasi pembelian untuk mencegah penimbunan dan menjaga agar BBM dapat dinikmati lebih banyak warga.
“Untuk saat ini stok tersedia. Namun antrean terus memanjang karena kami menerapkan pembatasan pembelian. Untuk sepeda motor maksimal Rp50.000, sedangkan untuk kendaraan roda empat dibatasi Rp200.000 per pengisian,” kata Yulianto, sebagaimana dikutip dari Berita Satu.
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak berlebihan menyikapi informasi kelangkaan BBM. Pembatasan pembelian akan terus diberlakukan selama diperlukan, dengan mempertimbangkan ketersediaan stok dan kelancaran pasokan.
Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menegaskan tidak ada pengurangan alokasi distribusi BBM bersubsidi untuk wilayah Blitar Raya. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan penyaluran BBM tetap dilayani melalui Fuel Terminal Malang dan Fuel Terminal Madiun.
Menurut Ahad, meningkatnya konsumsi Pertalite antara lain dipengaruhi peralihan sebagian konsumen dari Pertamax ke Pertalite. Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, Pertamina menyesuaikan distribusi dengan memprioritaskan armada suplai ke SPBU yang mencatatkan konsumsi dan antrean tertinggi.
“Sebenarnya tidak ada pengurangan pasokan untuk Blitar Raya. Peningkatan konsumsi salah satunya disebabkan peralihan dari Pertamax ke Pertalite, dan suplai kami sesuaikan ke SPBU yang tingkat konsumsinya lebih tinggi,” pungkasnya.
Pernyataan Pertamina tersebut menegaskan bahwa antrean panjang di Blitar bukan disebabkan pengurangan alokasi pasokan, melainkan juga berkaitan dengan meningkatnya konsumsi BBM jenis Pertalite. Meski demikian, kondisi di lapangan masih menyisakan persoalan bagi warga yang harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Kepastian pasokan dan informasi yang jelas kepada masyarakat menjadi penting agar kekhawatiran tidak berkembang menjadi pembelian berlebihan yang berpotensi memperpanjang antrean di SPBU. (Ag4ys/B-Network)







