Buah Sekuler-kapitalis
Tak dipungkiri fenomena pergaulan bebas saat ini tak lepas dari pengaruh konsep berpikir sekulerisme (pemisahan aturan agama dari kehidupan) yang diemban oleh negara. Konsep inilah yang kemudian melahirkan gaya hidup liberal (bebas) yang diadopsi dari barat.
Akibat menafikkan nilai-nilai dan aturan agama, masyarakat seolah menuhankan hawa nafsunya. Perzinahan yang telah jelas suatu keharaman, dianggap sebagai bagian dari pemenuhan dorongan naluri.
Ironinya lagi masyarakat maupun negara seolah nampak memberikan dukungan dengan pemberlakuan undang-undang tentang hak asasi.
Kata pelacuran maupun pezina, istilahnya justru diperhalus dengan penyebutan pekerja seks komersial, seolah menunjukkan perbuatan haram tersebut adalah sebuah pekerjaan yang harus diberikan hak dan ruang untuk diakui.
Sungguh sebuah ironi, negara yang harusnya menjadi periayah (pengurus) kemaslahatan rakyat, justru malah menjadi institusi yang seolah melegalkan bentuk penyimpangan seksual.
Inilah hal yang juga menjadi dampak pengadopsian ideologi sekularisme-kapitalisme tersebut. Standar perbuatan atau pengambilan keputusan bukan berdasarkan pada halal-haram tetapi hanya pada orientasi untung-rugi.
Oleh sebab itu, sudah saatnya masyarakat menyadari hal ini, bahwa solusi yang lahir ditengah pengadopsian ideologi sekuler-kapitalis, sejatinya tak mampu menyelesaikan problem kehidupan dengan tuntas, termasuk masalah angka peningkatan sifilis.













