PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Munafri Bawa Makassar Raih Penghargaan Kota Terbaik TP2DD 2026 • Andi Sudirman Ungkap Strategi Sulsel Percepat Ekonomi dan Keuangan Digital • 593 Anggota BPD Jeneponto Dilantik, Paris Yasir Tekankan Amanah dan Sinergi Desa • Kredit Rp4,875 Miliar Macet, BPK Bongkar Celah Pencairan Bank Sulselbar Bone • Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan dan TPPU • Desa Beroanging Ikut Verifikasi Abdidaya Ormawa 2026, Program BKMF Sinapsis FIKK UNM Diuji • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Munafri Bawa Makassar Raih Penghargaan Kota Terbaik TP2DD 2026 • Andi Sudirman Ungkap Strategi Sulsel Percepat Ekonomi dan Keuangan Digital • 593 Anggota BPD Jeneponto Dilantik, Paris Yasir Tekankan Amanah dan Sinergi Desa • Kredit Rp4,875 Miliar Macet, BPK Bongkar Celah Pencairan Bank Sulselbar Bone • Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan dan TPPU • Desa Beroanging Ikut Verifikasi Abdidaya Ormawa 2026, Program BKMF Sinapsis FIKK UNM Diuji •
Opini

Fenomena Sindrom Baby Blues, Ibu Butuh Support System!

1053
×

Fenomena Sindrom Baby Blues, Ibu Butuh Support System!

Sebarkan artikel ini
Fenomena Sindrom Baby Blues, Ibu Butuh Support System!
Nurhikmah, S.Pd (Tim Pena Ideologis Maros)

OPINI—Memiliki anak tentu menjadi cita-cita sebagian besar perempuan. Sayangnya di tengah kebahagiaan itu tak sedikit dari mereka yang belum memiliki kesiapan menjadi seorang ibu, sehingga mengalami sindrom baby blues. Bahkan berdasarkan data laporan Indonesia National Adlescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2023, 25 persen wanita di Lampung mengalami gangguan depresi setelah melahirkan.

Kemudian, hasil penelitian Andrianti (2020) terungkap, 32 persen ibu hamil mengalami depresi dan 27 persen depresi pasca melahirkan. Selain itu, penelitian skala nasional menunjukkan 50-70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues. Angka ini tertinggi ketiga di Asia. (Republika.co.id, 28/05/2023)

Masih dikutip pada media yang sama, Ketua Komunitas perempuan dari Wanita Indonesia Keren (WIK) dan psikolog, Maria Ekowat menjelaskan, kondisi baby-blues biasanya terjadi karena kondisi hormonal, meskipun wanita ibu sudah lama mempersiapkan diri sebagai calon ibu.

Bahkan, Maria mengatakan kondisi baby-blues parah juga bisa dialami wanita yang hamil karena ‘kecelakaan’ hingga berada dalam rumah tangga yang tak harmonis, atau mengalami KDRT.

Pada dasarnya memang ada dua faktor yang mempengaruhi terjadinya baby blues syndrom ini, mulai dari faktor internal berupa kurangnya kesiapan menjadi orang tua, maupun faktor eksternal baik dari keluarga, lingkungan, maupun hal-hal lain yang mempengaruhinya.

Kurangnya kesiapan menjadi orang tua ini, sejatinya tak terlepas dari lemahnya mentalitas, ilmu pengetahuan maupun tsaqofah yang dimiliki kebanyakan ibu saat ini.

Hal itu dapat terjadi salah satu penyebabnya akibat dari penerapan kurikulum pendidikan hari ini yang memang tidak menjadikan kesiapan menjadi orang tua sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Bahkan Pendidikan Indonesia justru jauh dari nilai-nilai agama yang dibutuhkan sebagai pegangan hidup.

Pendidikan yang harusnya menjadi salah satu support system terpenting bagi para generasi menjadi bakal calon pemimpin maupun madrasatul ula bagi anak keturunannya kelak, justru hanya menjadi lembaga yang bertujuan menciptakan output materialistik, fokus mengejar materi dan membangun karier semata. Namun, minim moral dan lemah mental.

Di tambah masalah pergaulan bebas yang memicu tingginya kasus nikah muda yang secara tidak langsung melahirkan pula ibu-ibu muda yang secara emosional dan mental belum matang, juga makin marak terjadi.

Ini tak terlepas dari penerapan sistem sekuler kapitalis, sebuah sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan dan menjadikan materi sebagai standar perbuatan.

Dalam mabda sekuler, pertimbangan halal-haramnya suatu perbuatan bukanlah hal yang begitu penting, karena standarnya memang sebatas kesenangan duniawi. Maka wajar banyak terlahir generasi hedon dengan mental healt yang lemah.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com