OPINI—Indonesia hari ini menghadapi bencana bukan lagi sebagai peristiwa luar biasa, melainkan sebagai rutinitas. Banjir datang hampir setiap musim hujan. Longsor menyusul di lereng-lereng yang kehilangan penyangga.
Cuaca ekstrem muncul tanpa pola yang bisa ditebak. Dan masyarakat, seperti biasa, diminta untuk maklum. Pertanyaannya sederhana, sampai kapan bencana akan terus diperlakukan sebagai nasib?
Di tengah situasi ini, dunia justru memberikan pelajaran yang ironis dari sosok yang tampaknya jauh dari kebencanaan, Alex Honnold, pemanjat ekstrem asal Amerika Serikat.
Alex dikenal luas setelah mendaki El Capitan tanpa tali dalam film Free Solo. Tak ayal, kini dia hadir kembali untuk memicu adrenalin tiap mata yang menontonnya. Aksi yang bisa dikatakan “gila” dengan memanjat gedung pencakar langit Taipei 101, salah satu bangunan tertinggi di dunia yang ia taklukkan tanpa pengaman.
Namun siapa pun yang benar-benar memahami dunia ekstrem tahu satu hal, Alex bukanlah representasi kenekatan, melainkan simbol mitigasi paling disiplin.
Pendakiannya bukan dilakukan karena nekat, tetapi karena persiapan panjang. Jalur dipelajari detail, risiko dihitung dengan teliti, bahkan aksinya sempat ia tunda karena hujan yang turun membuat permukaan gedung terlalu licin untuk ditaklukkan. Inilah pelajaran terpenting, keberanian tanpa mitigasi adalah bunuh diri. Dan di titik inilah Indonesia seharusnya bercermin.
Secara geografis, Indonesia memang tidak bisa menghindari bencana dan ini adalah sunnatullah, ketetapan yang sifatnya absolut. Kita berada di Cincin Api Pasifik, memiliki ribuan sungai, serta menghadapi dampak perubahan iklim global.
Namun masalah utama Indonesia bukan ancaman alamnya, melainkan datang dari kerentanannya. Banjir yang terus berulang di Jakarta, Semarang, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi bukan semata akibat hujan.
Ia adalah hasil dari tata ruang yang gagal, drainase yang rapuh, kebijakan yang tambal sulam, serta mitigasi yang sekadar formalitas. Indonesia bukan kekurangan pengetahuan tentang risiko, tetapi kekurangan kemauan untuk bersiap.
Kita sering berbicara soal perubahan iklim seolah itu ancaman masa depan. Padahal ia sudah hadir hari ini. Hujan ekstrem turun dalam durasi singkat dengan intensitas tinggi. Sungai meluap lebih cepat. Wilayah resapan hilang karena beton.
Banjir kini tidak hanya merendam kampung, tetapi melumpuhkan kota. Bencana hidrometeorologi telah menjadi tsunami kedua, mirip yang dikatakan Gubernur Aceh ketika banjir dan longsor menyapu sebagian Sumatra akhir tahun lalu.
Mitigasi bencana sering muncul dalam dokumen kebijakan, seminar, atau pidato pejabat. Tetapi di lapangan, kesiapsiagaan publik masih rapuh. Kita melihat banjir datang, lalu bantuan datang, lalu banjir datang lagi. Bencana datang berulang, tetapi tidak pernah benar-benar ditangani sampai akar. Siklus ini adalah tanda kegagalan mitigasi struktural.
Salah satu persoalan terbesar adalah budaya pasrah yang terus direproduksi. Bencana dianggap takdir semata, seolah mitigasi adalah bentuk melawan alam. Padahal dalam perspektif akademik, bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi pertemuan antara ancaman dan kerentanan sosial. Artinya korban bencana sering kali bukan karena hujan atau gempa bumi semata, tetapi karena sistem yang gagal melindungi warga.
Bukan hanya membangun tanggul, tetapi membenahi tata ruang. Bukan hanya menyalakan sirene, tetapi membangun literasi publik. Bukan hanya menunggu banjir, tetapi mencegah banjir menjadi bencana. Cuaca ekstrem, banjir, longsor, gempa bumi adalah representasi dari Gedung Taipei 101 yang ditaklukkan oleh Alex Honnold, risiko besar yang tidak bisa dihindari.
Namun yang membedakan antara selamat dan tragedi bukanlah keberuntungan, melainkan kesiapan. Jika kita terus menormalisasi bencana sebagai rutinitas, maka kita bukan sedang menghadapi bencana, tetapi membiarkan bencana menjadi sistem.
Dan dalam dunia ekstrem, kita tahu konsekuensinya. Satu kesalahan kecil cukup untuk jatuh, dan mungkin kita tidak akan melihat lagi aksi berani nan dekat dari seorang Alex Honnold. (*)
Salam Tangguh Siap Untuk Selamat …!!!
Penulis:
Muh. Imran Tahi
(Pengamat Meteorologi & Geofisika BMKG Wilayah IV Makassar)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.














