TORAJA UTARA—Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman yang kian cepat, generasi muda tak lagi cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Mereka dituntut membangun karakter kuat dan kebiasaan unggul sebagai fondasi utama menuju kesuksesan.
Pesan tegas ini disampaikan Guru Besar Pendidikan Agama Kristen sekaligus Ketua STT Bethel Indonesia, Dr. Frans Pantan, dalam kuliah tamu bertema “High Performance Habits: How Extraordinary People Become That Way” di Kampus UKI Toraja 3 Rantepao, Senin (13/4/2026).
Di hadapan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Dr. Frans menggarisbawahi bahwa kesuksesan sejati lahir dari kebiasaan kecil yang dibangun secara konsisten, bukan semata dari kepintaran akademik.
“Kesuksesan itu dibentuk dari apa yang kita lakukan setiap hari. Kalau hidup kita tidak memberi manfaat, kita kehilangan makna. Tapi saat kita berdampak bagi orang lain, di situlah nilai hidup kita,” ujarnya.
Ia menekankan, generasi unggul harus dibentuk dari keseimbangan empat aspek utama: kecerdasan otak, kemuliaan hati, keterampilan yang terasah, dan semangat yang tidak mudah padam. Tanpa itu, generasi muda berisiko tumbuh rapuh di tengah tekanan zaman.
Menurutnya, tantangan generasi saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Pengaruh lingkungan keluarga, arus media sosial, hingga perubahan gaya hidup menjadi faktor yang dapat membentuk—atau justru melemahkan—karakter anak muda.
“Kalau tidak dibentengi sejak dini, generasi kita bisa kehilangan arah. Karena itu, keluarga, organisasi keagamaan, dan pemerintah harus hadir bersama membentuk mental yang kuat dan membangun,” tegasnya.
Dr. Frans juga menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai titik awal pembentukan karakter. Ia menyebut, perubahan besar tidak dimulai dari luar, melainkan dari rumah.
“Karakter itu tidak lahir tiba-tiba. Harus dibangun sejak kecil. Dari situlah anak belajar menjadi pribadi yang optimistis dan siap memikul tanggung jawab,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa derasnya perkembangan media sosial tidak bisa dihindari, tetapi harus diimbangi dengan penguatan nilai dan karakter.
“Kecepatan informasi hari ini luar biasa. Kalau tidak diimbangi dengan karakter, generasi muda akan mudah goyah. Di sinilah pentingnya sinergi semua pihak untuk menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Frans juga menekankan keseimbangan antara kekuatan iman (religious power) dan keahlian (expert power). Menurutnya, kombinasi keduanya akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga relevan dan berdampak.
Kuliah tamu ini menjadi pengingat kuat bahwa masa depan generasi muda Toraja—bahkan Indonesia—tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar mereka, tetapi seberapa kuat karakter dan kebiasaan yang mereka bangun sejak hari ini. (4nny)

(Foto : Anny Marimbunna)













