MAKASSAR—Sosok H. Machfud Mahmud, SH, Direktur Utama Marhaban Makkah Madinah Tour & Travel Gowa, tampil dalam tayangan Orang Bicara di kanal YouTube Mediasulsel.com, dipandu Host Ambang Ardi dan co-host Andry Mardian. Dalam perbincangan hangat tersebut, pria yang akrab disapa Ustadz Mahfud ini mengisahkan perjalanan hidupnya dari seorang perintis hingga berhasil membangun perusahaan travel umrah yang kini dipercaya ribuan jamaah.
Meski berasal dari keluarga besar di Gowa dan memiliki kakek seorang kontraktor kaya, Machfud menegaskan bahwa dirinya bukanlah pewaris, melainkan perintis. Sang ayah yang bekerja sebagai karyawan kontraktor dikenal keras dalam mendidik anak-anaknya.
Sejak kecil, ia kerap diajak bekerja oleh sang ayah untuk belajar membaca karakter orang, diajarkan kemandirian, hingga ditanamkan etika sopan santun. “Bapak selalu menekankan jangan senang melihat orang susah, apalagi menambah kesulitan orang lain,” kenang Machfud.
Keputusan pendidikan pun diarahkan ayahnya. Niat masuk pesantren dialihkan ke Jakarta demi membuka wawasan. Ia menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Jakarta, setelah sempat singgah di Teknik Informatika. Dari bangku kuliah pula, jiwa wirausaha tumbuh lewat usaha kantin di pondok pesantren adiknya.
Sebelum sukses, Machfud sempat jatuh bangun dalam bisnis. Usaha laundry hingga galon di apartemen pernah kandas. Alih-alih diberi modal lagi, ayahnya justru menyuruhnya berangkat umrah.
Di pelataran Ka’bah, ia berdoa agar suatu saat memiliki travel umrah yang melayani jamaah dengan sepenuh hati. Pengalaman kurang menyenangkan saat pertama kali umrah—karena tidak dibangunkan mutawif untuk salat subuh—menjadi tekadnya untuk kelak sendiri yang mengetuk pintu kamar jamaah.
Doa itu terjawab. Tahun 2016 ia mendirikan Marhaban Makkah Madinah di Bekasi bersama adiknya, lalu memindahkan kantor ke Makassar pada 2017 atas instruksi sang ayah. Perusahaan ini pun tumbuh menjadi usaha keluarga. Nama Marhaban sendiri diambil dari nama kakeknya.
Sejak awal, Machfud memegang teguh prinsip pelayanan prima. Ia dan adiknya bahkan turun langsung mengetuk kamar jamaah satu per satu. Konsep ramah lansia dan ramah anak kemudian menjadi ciri khas travel ini.
Untuk mendukung layanan, Marhaban menggandeng rumah-rumah tahfiz gratis seperti Al-Kautsar. Para pembina dan santri dilibatkan sebagai pendamping jamaah. Hingga kini, sudah sekitar 4.900 jamaah yang dilayani meski biaya operasional cukup tinggi.
Di akhir podcast, Machfud menegaskan bahwa kunci keberhasilannya adalah birrul walidain—taat dan hormat kepada orang tua. Ia berpesan, “Tidak ada orang sukses di dunia ini kalau ia kurang ajar pada orang tuanya. Ikuti petunjuk mereka, karena orang tua lebih paham karakter anak dan apa yang terbaik untuknya.” (Ag4ys)













