MAKASSAR—Pemprov Sulsel melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulsel terus melakukan berbagai program dan inovasi dalam mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Sulsel.
Sekretaris Dinas Pariwisata Sulsel, Devo Khadafi mengaku, berbagai terobosan akan dilakukan dalam mengejar wisatawan masuk ke Sulsel yang disebut program Lima Sinergi.
“Tahun 2022 ini target Disbudpar fokus mengejar wisatawan domestik mengingat belum terbuka untuk wisatawan mancanegara (wisman) karena masih dalam suasana pandemi, ditambah lagi varian baru omicron sehingga untuk kebangkitan pariwisata kita membuat Program Lima Sinergi diantaranya sinergi membangun pariwisata berbasis digital,” kata Devo, Rabu (26/1/2022).
Ia menjelaskan, sinergi membangun pariwisata berbasis digital dengan mendorong digitalisasi informasi kepariwisataan. “Kita sekarang ini, ada Program Lima Sinergi untuk kebangkitan Pariwisata Sulsel,
Pertama, sinergi membangun pariwisata berbasis digital. Yaitu, dengan mendorong lagi digitalisasi informasi dan pelayanan kepariwisataan dan kemarin kita sudah kerjasama bank mandiri, BI dan angkasa pura untuk pemanfaatan bandara sebagai pusat informasi pariwisata,
Kedua, kita akan bersinergi stakeholder teman kepariwisataan berbasis pada desa wisata karena bukan hanya pembenahan obyek tapi juga infrastruktur, akomodasi, kebersihan dan pemberdayaan masyarakat sehingga satu kesatuan membangun wisata dalam meningkatan kesejahteraan masyarakat.” Jelasnya.
Langkah ketiga adalah mengembangkan new episentrum Pariwisata Sulsel. “Kita kembangkan new episentrum pariwisata di sulsel karena kita sudah punya destinasi estenting atau destinasi utama baik itu di Toraja, Toraja Utara, Makassa, Gowa dan Maros.
“Sehingga kita buat lagi yang menunjang yang terkait atraksi baru. Contoh Jeneponto juga new episentrum dengan memanfaatkan potensi yang ada. Jadi betul-betul bukan yang ada saja tapi kita dorong yang baru,” tuturnya.
Kemudian, lanjut Devo, langkah keempat adalah destinasi berbasis desa termasuk dengan pengembangan ekonomi kreatif disekitar pedesaan.
“Kita sinergi kabupaten kota kembangkan ekonomi kreatif (Ekraf) kalau ada area tidak termanfaatkan kita dorong teman kabupaten kota untuk kreatif dengan melakukan event yang menarik untuk milenial,” terangnya.
Ia menambahkan untuk program lima sinergi yang terakhir adalah pengembangan kebudayaan melalui event kekinian
“Sinergi ke lima adalah pengembangan kebudayaan melalui event kekinian berkelanjutan seperti fort roterdam gedung mulo, bisa kita jaga kelestarian melalui kegiatan event kekinian bisa tetap terjaga dan diketahui masyarakat,” pungkasnya. (*)













