Advertisement - Scroll ke atas
Kesehatan

Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA

389
×

Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA

Sebarkan artikel ini
Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA
dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat, menjelaskan pendekatan nutrisi personal berbasis food genomics, dengan ilustrasi makanan sehat seimbang sebagai dasar pola makan harian.

JAKARTA—Pendekatan pola makan berbasis DNA mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat yang lebih personal. Metode yang dikenal sebagai food genomics atau nutrigenomik ini menyesuaikan asupan nutrisi berdasarkan profil genetik individu, menyasar perbedaan respons tubuh yang selama ini kerap terjadi pada diet konvensional.

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan disesuaikan dengan kode genetik masing-masing individu. Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan, mulai dari metabolisme hingga potensi intoleransi, tidak sama pada setiap orang.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat.

Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran terhadap pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat tiap individu. Di Indonesia, pemeriksaan food genomics masih terbatas, meski penelitian terkait hubungan gen dan nutrisi sudah cukup banyak.

Tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur dengan waktu analisis sekitar satu hingga dua minggu. Hasil pemeriksaan kemudian diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk memberikan rekomendasi nutrisi personal, termasuk pengaturan makronutrien, vitamin tertentu seperti vitamin D, lemak esensial omega-3, hingga rekomendasi olahraga.

“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Tetapi pada penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” tambah Davie Muhamad.

Selain memberikan rekomendasi nutrisi, panel nutrigenomik juga dapat menggambarkan potensi alergi atau intoleransi makanan, sehingga membantu individu menghindari asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Masyarakat tetap dapat memulai langkah sederhana dengan pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang.

Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu modalitas penunjang gaya hidup sehat yang lebih presisi, dengan potensi integrasi bersama teknologi kecerdasan buatan, big data, dan perangkat wearable.

“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutupnya. (*)

error: Content is protected !!