OPINI—Bagi banyak anak muda hari ini, Gaza bukan sekadar nama tempat. Ia jadi simbol luka, ketidakadilan, dan pertanyaan besar tentang kemanusiaan. Di tengah timeline yang dipenuhi konten hiburan, tugas kuliah, kerja part-time, dan pencarian jati diri, tiba-tiba muncul video reruntuhan, tangisan anak-anak, dan angka korban yang tak lagi bisa dihitung dengan perasaan saja.
Pemblokade di setiap penjuru dan tidak adanya pasokan sehari-hari, tidak dirasakan secara langsung oleh kita sekarang. Namun, tahukah kita bahwa ketika badan seorang muslim tengah sakit, maka semua anggota badan lainnya ikut merasakannya. Pertanyaannya: Apakah cukup hanya ikut bersedih dan merenung?
Empati Anak Muda: Bukan Tren, Tapi Kesadaran
Kadang orang dewasa suka meremehkan generasi sekarang. Dibilang gampang ikut-ikut tren, cepat lupa, atau cuma peduli kalau lagi viral. Padahal, kalau dilihat lebih jujur, justru anak muda yang paling cepat bergerak itu:
Kita menyebarkan info dari jurnalis independen, buat desain, puisi, dan lagu tentang Gaza. Tidak lupa, ikut donasi digital, patungan, sampai aksi damai. Empati anak muda bukan basa-basi. Tapi memang ada satu tantangan besar: kehilangan arah setelah peduli. Tapi itulah partisipasi generasi hari ini, siap membela saudara mereka berada diluar sana. Kalau bukan mereka siapa lagi yang harus diharapkan suaranya?
Gaza Bukan Sekadar Perang, Tapi Soal Identitas Kemanusiaan
Di bawah runtuhan bangunan dan asap perang, ada hal yang lebih dalam yang mengingatkan perasaan kita saat ini: bahwa dunia ini sedang tidak adil. Gaza jadi pengingat bahwa:
Hak hidup bisa ditentukan oleh kekuasaan.
Aturan internasional sering tajam ke bawah, tumpul ke atas. Media besar bisa menyingkirkan kenyataan demi suatu hal tertentu. Sebagai generasi yang tumbuh dengan internet dan akses informasi zaman sekarang, anak muda sekarang makin susah dibohongi. Mereka tahu perang bukan sekadar “konflik dua pihak,” tetapi ada penjajahan, blokade, terkuburnya setiap jiwanya yang mencapai jumlah 6.000 dan 460 kematian akibat malanutrisi, serta sejarah panjang yang sering disederhanakan sampai disepelekan.
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi yang Ribut Soal Keadilan?
Anak muda bukan pejabat, bukan diplomat, bukan pemegang senjata. Tapi justru karena itu, mereka punya kekuatan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: kendali atas ruang publik digital. Tentu nggak semua orang harus jadi aktivis garis depan. Tapi diam total itu pilihan, bukan batasan.
Tagar bisa mengubah sorotan media.
Tekanan netizen bisa membuat brand, artis, atau pemerintah bersikap. Boikot digital bisa menggerakkan miliaran uang iklan. Opini online bisa menjebol narasi tunggal yang sudah lama dilanggengkan. Dan inilah yang coba penulis lakukan. Capek? Wajar. Tapi Jangan mati rasa melihat video kekerasan terus-menerus bisa bikin mental drop. Ada istilahnya: compassion fatigue—kelelahan karena terlalu banyak menyerap penderitaan.
Kalau kamu termasuk yang merasa “aku peduli, tapi aku tidak kuat lihatnya lagi,” itu manusiawi. Tapi jangan biarkan rasa lelah berubah jadi apatis. Dan jangan juga tipe “bukan aku yang rasain tidak usah peduli”. Caranya?
Ganti cara dukungan: bisa lewat karya, tulisan, diskusi, penggalangan dana. Pilih sumber informasi yang sehat dan tipemu bukan traumatis. Fokus pada edukasi diri: pahami sejarah, bukan hanya repost kejadian semata.
Anak Muda Bukan Penonton: Kita Generasi yang Mencatat
Nggak semua orang punya kemampuan mengirim bantuan fisik ke Gaza, tapi setiap tindakan kecil bisa jadi bagian dari catatan sejarah. Sekecil apapun partisipasimu, itu dapat menyelamatkan puluhan jiwa yang mati. Bukan jelas apa kata pepatah “apa yang kamu tabur, itu juga yang kamu tuai” Yang terpenting, generasi muda harus menyadari, memperjuangkan keadilan bukan soal negara mana yang kita bela, tapi manusia mana yang kita lindungi.
Lalu, Harus Apa?
Tidak ada satu bentuk perjuangan yang paling benar. Tapi beberapa sikap ini mungkin relevan untuk anak muda masa kini: Dan yang paling penting: jangan biarkan dunia meninabobokanmu dengan alasan “kamu masih muda.” Justru karena kita muda, suara kita sulit dikendalikan. Tetap tahu fakta yang sebenarnya. Jangan ikut narasi yang memanipulasi.
Gaza mungkin jauh secara geografis. Tapi rasa sakit, rasa marah, dan rasa ingin membantu tidak kenal batas negara. Kita bukan superhero, bukan diplomat, bukan orang yang bisa hentikan perang dengan satu kalimat dan ketukan palu.
Tapi kita adalah generasi yang bisa memilih untuk tidak buta, tidak bisu, dan tidak lupa. Dan kadang, itu sudah jauh lebih kuat dari pada peluru. Gaza sedang menguji banyak hal sekaligus sampai hari ini: nurani kita, keberanian kita, logika kita, bahkan agama dan moral kita. Tapi yang paling diuji sebenarnya adalah: apakah kita rela hidup dalam dunia yang membiarkan tragedi besar terjadi tanpa perlawanan?
Anak muda selalu jadi wajah masa depan. Kalau generasi ini memilih peduli, belajar, bicara, dan bertindak dengan caranya sendiri, maka narasi besar dunia tidak lagi hanya disetir oleh mereka yang punya senjata dan kekuasaan. Tapi juga oleh mereka yang punya hati dan pikiran. Karena mungkin kita belum bisa menyelamatkan Gaza. Tapi kita bisa memastikan bahwa dunia tidak lagi berpura-pura tuli saat Gaza berteriak. Dari situlah perubahan biasanya dimulai. (*)
Penulis: Adinda Yuzliva ILmira (Siswi Al Ishlah Maros dan peserta TOWR FLP Maros)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.







