OPINI—Di langit senja akhir Dzulhijjah, para pemantau hilal kembali bersiaga. Bukan sekadar mencari lengkung tipis bulan sabit pertama, tapi menjemput detik-detik pergantian tahun dalam kalender Islam. Hilal 1 Muharram bukan sekadar tanda waktu, ia adalah simbol harapan, awal baru dan keberkahan yang datang mengiringi langkah umat islam menuju 1447 Hijriah.
Dzulhijjah, bulan terakhir dalam tahun Hijriah, ditutup dengan napas panjang ibadah dan pengorbanan. Di dalamnya terdapat hari-hari paling utama, Arafah, Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Ia ibarat titik klimaks perjalanan spiritual setelah sebelumnya ummat Islam larut dalam kemuliaan Ramadhan. Dan setelahnya, Muharram hadir sebagai jeda penuh makna, membuka lembar baru yang diwarnai keheningan, perenungan dan tentu tekad untuk melangkah lebih baik dengan penuh semangat.
Sayangnya, masih ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa Muharram adalah bulan “keramat” dalam arti yang keliru. Muharram masih diartikan bulan sial, bulan pantangan atau waktu terlarang untuk menikah dan memulai sesuatu. Ini adalah mitos yang tak berdasar dan perlu untuk diluruskan.
Islam sejatinya tidak mengenal hari, waktu dan bulan sial justru risalah mulia ini mengajarkan kita semua waktu adalah baik dan diantaranya adalah waktu terbaik termasuk di bulan Muharram ini.
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Al-Qur’an bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Rajab. Dalam bulan haram ini, umat Islam dianjurkan menjauhi segala bentuk maksiat dan memperbanyak ibadah.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menegaskan bahwa puasa di hari Asyura yakni 10 Muharram dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Di sinilah letak keutamaannya, bukan bulan yang ditakuti bahkan sebaliknya bulan yang penuh rahmat dan ampunan.
Tahun Baru Islam bukan sekadar momentum pergantian angka. Ia adalah pengingat hijrah baik secara sejarah maupun makna. Hijrah dari gelap menuju terang, dari keraguan menuju keyakinan dan dari kelalaian menuju kesadaran.
Maka menyambut Muharram bukanlah dengan euphoria tapi dengan niat tulus untuk istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan. Di tengah hingar bingar masyarakat dunia menyambut tahun Masehi, kalender Hijriah kadang dilupakan.
Padahal justru di situlah sejarah ummat Islam dimulai. Sejarah perjuangan, sejarah iman yang dibawa dari padang pasir hingga sampai ke pelosok kampung kita hari ini.
Bulan ini bukanlah saat untuk bersembunyi dari takdir. Justru sebaliknya, inilah saat yang baik untuk menyusun niat, bermuhasabah dengan memulai langkah-langkah baru. Seperti Nabi yang berhijrah demi menyelamatkan keyakinannya, kita pun bisa berhijrah dari kebiasaan buruk menuju hidup yang lebih bersih, jujur dan tentu lebih bermakna.
Kini, saat hilal 1 Muharram 1447 H telah tampak dan langit malam membuka lembar barunya, mari kita isi awal tahun ini dengan doa dan harapan terbaik. Hilal Muharram tidak hanya muncul di langit.
Ia juga muncul di hati. Tanda bahwa setiap kita selalu bisa memulai kembali, meski dengan bekal sederhana. Tinggalkan tahun lalu dengan rasa Syukur dan songsong hari esok dengan semangat hijrah yang lebih kokoh.
Karena sejatinya, tahun baru bukan sekadar soal waktu yang berganti, tapi soal jiwa yang berbenah.
Selamat tahun baru 1447 Hijriah. Semoga cahaya kecil di ufuk sana menjadi awal bagi cahaya besar dalam hidup kita semua. Aamiin. (*)
Penulis: Muh. Imran Tahir (Pengamat Meteorologi & Geofisika, BMKG Wilayah IV Makassar)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.














