Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Ironi Hari Guru: Persoalan Guru dan Kualitas Siswa

691
×

Ironi Hari Guru: Persoalan Guru dan Kualitas Siswa

Sebarkan artikel ini
Ironi Hari Guru: Persoalan Guru dan Kualitas Siswa
Rahmayani (Aktivis Muslimah)

OPINI—Setiap 25 November, Hari Guru Nasional diperingati dengan penuh harapan. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Tema ini menegaskan betapa pentingnya peran guru sebagai penggerak utama dalam membangun generasi yang tangguh.

Namun, di balik apresiasi tersebut, kondisi para guru di Indonesia menyimpan ironi yang mendalam.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Guru adalah ujung tombak pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Menteri Agama RI dalam peringatan Hari Guru Nasional 2024 menekankan bahwa “guru yang berdaya mampu memanfaatkan teknologi, menanamkan nilai karakter, dan menjadi teladan bagi murid-muridnya.”

Sayangnya, realita yang dihadapi guru hari ini justru penuh dengan kompleksitas persoalan yang menghambat perannya.

Kompleksitas Persoalan Guru

Guru di Indonesia sering kali harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata gaji pekerja di bidang pendidikan adalah Rp2,8 juta per bulan. Namun, sebagian guru honorer hanya menerima Rp250 ribu per bulan—angka yang jauh dari layak untuk hidup di era ini.

Banyak guru akhirnya terpaksa melakukan pekerjaan sampingan, mulai dari mengajar les privat hingga menjadi ojek online, demi menutupi kebutuhan dasar. Kondisi ini tentu memengaruhi fokus mereka dalam mendidik siswa.

Selain tekanan ekonomi, guru juga menghadapi ancaman kriminalisasi. Kasus-kasus seperti guru yang dipenjara karena mendisiplinkan siswa atau diserang oleh orang tua siswa menjadi sorotan.

Akibatnya, banyak guru memilih untuk tidak lagi mendisiplinkan siswa demi menghindari risiko hukum. Hal ini memunculkan fenomena “masa bodoh” di kalangan pendidik, yang tentu berdampak negatif pada pembentukan karakter siswa.

Ironisnya, beberapa guru justru melakukan tindakan yang mencoreng profesinya. Data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat bahwa 72% pelaku kekerasan seksual di sekolah adalah guru laki-laki.

Ada juga kasus guru yang terlibat judi online hingga menjual aset sekolah untuk mendanai kebiasaannya. Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan moral yang harus dibenahi secara sistemik.

Dampak dari berbagai persoalan ini terlihat nyata pada kualitas siswa. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 293 kasus kekerasan di sekolah sepanjang 2024, yang sebagian besar melibatkan siswa sebagai pelaku. Hal ini mencerminkan adanya ketidakharmonisan dalam ekosistem pendidikan kita.

Menggali Akar Masalah

Masalah pendidikan ini bukan hanya persoalan individu, melainkan lahir dari sistem kehidupan yang didasarkan pada sekularisme dan kapitalisme. Sistem ini melahirkan kebijakan yang sering kali saling bertentangan, seperti UU Perlindungan Anak dan UU Guru, yang justru memperkeruh keadaan.

Sekularisme juga membentuk masyarakat yang materialistis, di mana pendidikan hanya dipandang sebagai sarana memperbaiki status ekonomi.

Hubungan antara guru, siswa, dan orang tua dalam sistem ini sering kali didasarkan pada kekuatan materi. Tak jarang, siswa berani melaporkan gurunya karena merasa memiliki posisi sosial atau ekonomi yang lebih tinggi.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa akar permasalahan pendidikan kita adalah sistem yang tidak mendukung tumbuhnya nilai-nilai penghormatan, tanggung jawab, dan akhlak.

Solusi dari Sistem Islam

Islam menawarkan solusi menyeluruh untuk menyelesaikan persoalan pendidikan. Dalam sistem pendidikan Islam, guru dihormati sebagai figur penting dalam membentuk karakter generasi. Murid diajarkan untuk bertakzim kepada guru, sebagaimana tercermin dalam adab-adab Islam.

Negara juga menjamin kesejahteraan guru. Pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, gaji guru mencapai 2.000 dinar per tahun—angka yang sangat besar pada masanya.

Selain itu, negara memberikan akses pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok secara gratis, sehingga guru dapat fokus mendidik tanpa tekanan ekonomi.

Islam juga memastikan sinergi antara sekolah, keluarga, dan negara dalam membentuk karakter siswa. Orang tua didorong untuk aktif mendukung pendidikan anak, sementara negara mengontrol media dan lingkungan sosial agar selaras dengan nilai-nilai Islam.

Dengan mekanisme ini, tidak ada ruang bagi tindakan kriminal atau pelanggaran moral baik dari guru maupun siswa.

Sistem pendidikan Islam terbukti mampu mencetak generasi berkualitas. Sejarah mencatat, peradaban Islam melahirkan tokoh-tokoh besar yang karyanya masih menjadi rujukan hingga kini. Bahkan, pada masa keemasannya, banyak pelajar dari bangsa lain datang ke dunia Islam untuk menimba ilmu.

Persoalan pendidikan yang melibatkan guru dan siswa saat ini tidak bisa diselesaikan dengan solusi parsial. Dibutuhkan perubahan mendasar yang hanya bisa diwujudkan melalui penerapan sistem Islam secara menyeluruh.

Dengan sistem ini, guru dapat kembali menjadi teladan mulia, dan generasi muda dapat tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak dan berkompeten. (*)

Wallahu a’lam bishawab.

 

Penulis: Rahmayani (Aktivis Muslimah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!