OPINI—Malam pergantian tahun, baru-baru ini masih menjadi momen yang begitu dirayakan oleh kaum muslim. Namun, menyisakan pilu. Bagaimana tidak, kaum muslim asyik menghiasi langit dengan kembang api, nampak senyum sumringah bagi yang menyaksikannya. Sementara, di langit Gaza semakin menyala dengan ledakan bom, nampak wajah yang meminta pertolongan, puing-puing bangunan, dan darah yang terus bercucuran.
Menurut Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), setiap jam ada satu anak gaza yang tewas. Setidaknya, 14.500 anak Palestina telah meninggal dunia dalam serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza sejak 2023. Disisi lain, komisaris UNRWA Philippe Lazzarini memperingatkan bahwa anak-anak di Gaza menghadapi risiko kematian akibat cuaca dingin karena ketiadaan tempat tinggal yang memadai.
Terdeteksi ada tiga anak yang meninggal di kamp pengungsian karena kedinginan. Kondisi semakin pelik, kala bantuan perlengkapan musim dingin seperti selimut dan kasur tertahan selama berbulan-bulan, sebab harus menunggu persetujuan entitas Zion*s Yahudi untuk memasuki Gaza.
Entitas Zion*s : Semakin Brutal
Lazzarini menyoroti pelanggaran yang terus terjadi di Jalur Gaza, ia mengatakan entitas Zion*s telah melanggar semua peraturan perang, salah satu diantaranya adalah melakukan serangan terhadap sekolah dan rumah sakit yang sudah menjadi rutinitas mereka.
Serangan brutal entitas Zion*s yang terbaru terjadi di Rumah Sakit Al-Awda dan Rumah Sakit Kamal Adwan yang merupakan fasilitas kesehatan utama di Jalur Gaza Utara. Menurut WHO, penghancuran sistem kesehatan secara sistematis di Gaza menjadi tanda kematian bagi puluhan ribu jiwa rakyat Palestina yang membutuhkan penanganan kesehatan secara mendesak.
Mengetahui kondisi tersebut, Ismail Al-Thawabta, Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah di Gaza mendesak komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan semua pihak terkait untuk segera menghentikan perang brutal itu dan meminta pertanggungjawaban para pemimpin pendudukan atas kejahatan mereka terhadap kemanusiaan.
Berdasarkan realitas buruk ini, tak mengherankan jika UNICEF menyatakan bahwa tahun 2024 telah menjadi salah satu tahun terburuk yang pernah tercatat bagi anak-anak. Sebab, konflik terus berkecamuk di seluruh dunia, termasuk di Gaza, Sudan, Ukraina, dan di sejumlah tempat-tempat lainnya.
Solusi Parsial
Berbagai seruan internasional untuk menghentikan genosida di Gaza masih saja tidak mempan. Salah satunya adalah solusi dua negara. Padahal, jika tujuannya adalah menyolusi krisis Palestina, semestinya kaum muslim fokus dengan fakta terjadinya gelombang migrasi warga Yahudi ke Palestina sebagai cikal bakal berdirinya entitas Zion*s Yahudi.
Juga tindakan perampasan dan pengusiran yang Zion*s Yahudi lakukan terhadap warga muslim Palestina dari rumah-rumah mereka, sebagai konsekuensi peningkatan jumlah warga Yahudi. Oleh karenanya, solusi atas krisis Palestina adalah merebut kembali tanah dan rumah warga muslim Palestina dari tangan Yahudi, bukan malah menawarkan untuk berbagi tanah dengan penjajah.
Lebih dari itu, Siapapun yang masih waras akan melihat kemustahilan mengakhiri penjajahan Zion*s Yahudi lewat jalur politik. Berbagai perundingan yang dilakukan oleh negara-negara Barat, termasuk PBB, pada faktanya tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi warga Palestina. Sebab, justru PBB juga terlibat dalam kelahiran dan pengakuan negara Yahudi tersebut. Mustahil pula meminta bantuan kepada negara-negara Barat karena mereka, baik AS maupun Uni Eropa, juga mendukung kaum Yahudi dengan senjata dan pasukan.
Tampak bahwa entitas Yahudi menjadi kuat karena disokong oleh kekuatan besar. Karena itu, sudah seharusnya Palestina pun didukung oleh kekuatan besar kaum Muslim. Jika Barat yang kafir bersatu membela entitas Yahudi, mengapa para pemimpin Dunia Islam hanya diam dan mengecam?
Korban ‘Ashabiyyah!
Sikap abai dunia Islam terhadap Gaza adalah dampak buruk sikap ‘ashabiyyah dalam wujud nasionalisme. Ikatan akidah sesama muslim tidak tampil terdepan dalam menyikapi krisis kemanusiaan di Gaza. Sebaliknya, ide nasionalisme yang telanjur mengakar di negeri-negeri muslim telah menjadi racun politik yang menyebabkan para penguasa muslim hanya mementingkan negeri masing-masing dan tidak berkutik.
Semestinya, para penguasa negeri muslim bisa berbuat lebih banyak. Selain pengiriman militer sebagai langkah strategis, langkah lain yang bisa diambil oleh para penguasa muslim adalah pemboikotan terhadap produk-produk Israel beserta negara-negara pendukungnya. Namun, langkah-langkah itu tidak diambil. Ini adalah bukti nyata rusaknya kepemimpinan para penguasa negeri muslim.
Tidak hanya itu, cinta kekuasaan juga menghalangi mereka untuk bersatu atas nama akidah Islam demi melawan kebrutalan Zion*s Yahudi. Meski sebagian penguasa Arab dan negeri muslim mengirimkan bantuan kemanusiaan, itu mereka lakukan semata demi meredam kemarahan rakyat yang sangat kecewa terhadap penguasanya karena tidak pernah mengambil opsi militer dalam rangka membantu Palestina dan menggempur entitas Zion*s Yahudi.
Solusi Tuntas
Jika menelusuri sejarah, negeri-negeri muslim sejatinya adalah satu kesatuan wilayah dalam naungan Khilafah Islamiah. Penjajah kafir yang sangat berhasrat untuk meruntuhkan peradaban Islam saat itu berupaya untuk melemahkan kaum muslim secara internal. Mereka menghembuskan ide nasionalisme, melakukan politik belah bambu di antara umat Islam, hingga umat lupa dengan persatuan akidah dan membuat Khilafah runtuh di tahun 1924.
Ini menunjukkan bahwa persatuan kaum muslim dalam naungan Negara Islam (Khilafah) adalah solusi tuntas masalah Palestina. Dengan adanya Khilafah akan menyatukan pemikiran, perasaan, dan peraturan di tengah-tengah kaum muslim sesuai dengan sudut pandang Islam. Walhasil, keberadaan khilafah akan membuat kaum muslim dengan sangat mudah melakukan jihad sebagai langkah efektif membebaskan tanah Palestina dan menghentikan jeritan kaum muslim. (*)
Penulis: Rahmayani (Aktivis Muslimah)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.











