Jalur Pendakian Ditutup, Camat Tinggimoncong Bentuk Tiga Posko Penyekatan
Camat Tinggimoncong Iis Nurismi bersama TNI, Polri, ormas dan relawan melakukan penyekatan yang dimulai dari posko PPKM Malino kemudian Kelurahan Pattapang, dan Posko Lembanna

GOWA—Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 berlangsung di Kabupaten Gowa semua tempat usaha baik wisata alam maupun buatan ditutup sementara. Salah satunya seluruh tempat wisata di wilayah Kecamatan Tinggimoncong, seperti Lembanna dan Gunung Bawakaraeng.

Camat Tinggimoncong Iis Nurismi mengatakan, selama PPKM ini pihaknya bersama pemerintah kecamatan, TNI, Polri, ormas dan relawan melakukan penyekatan yang dimulai dari posko PPKM Malino kemudian Kelurahan Pattapang, dan Posko Lembanna. Hal itu dilakukan untuk mencegah masuknya masyarakat ke wilayah ini untuk melakukan wisata.

“Ada tiga posko yang harus mereka lalui ketika masuk di Kecamatan Tinggimoncong dan itu semua dijaga secara ketat oleh tim gabungan personil secara bergantian,” ungkapnya.

Saat ini kata Camat Tinggimoncong  kebanyakan masyarakat datang untuk melakukan pendakian di Lembanna atau di Gunung Bawakaraeng sehingga pihaknya betul-betul menjaga ketat agar tidak ada yang lolos.

Kendati demikian dirinya tidak menampik masih banyak masyarakat yang lolos untuk melakukan pendakian karena terdapat beberapa titik untuk sampai ke jalur pendakian.

“Kemungkinan memang ada yang lolos karena jalur pendakian terdapat beberapa titik,” jelasnya.

Olehnya dirinya mengimbau agar wisatawan maupun kelompok pecinta alam untuk sementara waktu mengurungkan niatnya melakukan pendakian. Terlebih saat ini cuaca sangat ekstrim sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan.

“Dimasa-masa seperti ini, mari kita saling menjaga, menjaga diri dan orang yang ada disekitar kita. Serta urungkan niat berkegiatan yang rawan menimbulkan kerumunan, cuaca juga sangat ekstrim angin kencang dan dingin serta masih banyak kegiatan-kegiatan yang dapat kita lakukan untuk bangsa dan negara ini selain melakukan pendakian,” imbaunya. (*)