Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Keluarga Runtuh, Generasi Rapuh!

275
×

Keluarga Runtuh, Generasi Rapuh!

Sebarkan artikel ini
Riska Nilmalasari D.A (Praktisi Pendidikan)
Riska Nilmalasari D.A (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Fenomena perceraian di Indonesia kian hari semakin mengkhawatirkan. Ia tak lagi bisa dipandang sebagai masalah pribadi, melainkan persoalan sosial yang berdampak luas. Data nasional dan daerah menunjukkan tren yang terus menanjak, sementara angka pernikahan justru bergerak menurun.

Lebih ironis, perceraian tidak hanya terjadi pada pasangan muda, tetapi juga pada mereka yang telah lama menikah (fenomena yang dikenal sebagai grey divorce). Kondisi ini menandakan adanya krisis mendalam dalam pemahaman, ketahanan, dan tujuan pernikahan itu sendiri.

Perceraian bukan sekadar berakhirnya ikatan suami istri. Ia sering menjadi titik runtuhnya institusi keluarga (tempat pendidikan pertama bagi setiap manusia). Nilai, akhlak, karakter, hingga cara seseorang memandang hidup, semuanya bermula dari keluarga.

Ketika fondasi ini rapuh, anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak: rentan mengalami gangguan psikologis, sulit membangun kepercayaan, hingga kehilangan figur teladan yang seharusnya mengarahkan hidup mereka. Dari kondisi inilah lahir generasi yang lemah, mudah terpengaruh, dan kesulitan menghadapi tekanan hidup.

Berbagai faktor menjadi pemicu perceraian: pertengkaran berkepanjangan, tekanan ekonomi, KDRT, perselingkuhan, hingga fenomena baru seperti kecanduan judi online. Banyak pasangan tidak benar-benar siap memasuki kehidupan rumah tangga yang menuntut komitmen, pengorbanan, dan kemampuan mengelola konflik.

Bahkan, pernikahan sering dipahami sekadar sebagai wadah mengejar kebahagiaan emosional atau status sosial. Ketika kenyamanan memudar, perceraian dianggap sebagai jalan keluar termudah. Padahal, pernikahan adalah ikatan suci yang menuntut kedewasaan, kesabaran, dan kesiapan menghadapi suka duka bersama.

Dampak perceraian paling dalam dirasakan anak. Banyak kajian menunjukkan bahwa anak dari keluarga yang bercerai rentan mengalami trauma, perubahan perilaku, penurunan prestasi, hingga menyalahkan diri sendiri.

Sebagian besar juga berisiko mengulang pola serupa dalam kehidupan pernikahan mereka kelak. Artinya, perceraian tak berhenti pada satu generasi, tetapi dapat menjadi lingkaran masalah yang terus berulang.

Jika ditarik lebih jauh, maraknya perceraian tak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan sekuler kapitalis yang mengatur masyarakat hari ini. Sistem pendidikan menekankan pencapaian materi tanpa fondasi spiritual yang kuat. Pergaulan bebas membuka ruang bagi krisis moral dan perselingkuhan.

Sementara sistem ekonomi kapitalis melahirkan tekanan hidup yang berat, kesenjangan sosial, dan beban finansial yang kerap menjadi pemantik konflik rumah tangga. Dalam situasi seperti ini, keluarga dipaksa berjuang sendirian, sementara negara tampak abai dalam menjamin kesejahteraan warganya.

Islam memandang keluarga sebagai pilar peradaban. Pernikahan adalah ibadah, bukan sekadar kontrak sosial. Tujuannya bukan hanya kebahagiaan duniawi, tetapi juga membangun ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) yang bertumpu pada ketakwaan.

Sistem pendidikan Islam membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dewasa secara moral dan spiritual. Dengan karakter yang bertumpu pada ketakwaan, seseorang akan memandang pernikahan sebagai amanah besar, bukan permainan perasaan.

Sistem pergaulan Islam pun menjaga batas interaksi laki-laki dan perempuan, menutup celah menuju perzinahan, dan menghindarkan peluang perselingkuhan.

Sementara sistem ekonomi-politik Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat, memastikan kebutuhan dasar (pendidikan, kesehatan, pangan, papan) terpenuhi. Dengan itu, tekanan ekonomi yang sering menjadi pemicu perceraian dapat ditekan secara signifikan.

Maraknya perceraian adalah tanda jelas bahwa keluarga tengah berada dalam krisis besar. Selama kehidupan masih dibingkai oleh nilai-nilai sekularisme dan kapitalisme, akar masalah ini akan sulit diselesaikan.

Islam menawarkan solusi menyeluruh: membangun keluarga kuat, mencetak generasi berakidah kokoh, dan menata masyarakat agar lebih manusiawi dan sejahtera. Dari sinilah harapan keluarga yang utuh dan generasi yang tidak lagi rapuh dapat tumbuh. (*)

Wallahu’alam bishshawab.


Penulis:
Riska Nilmalasari D.A
(Praktisi Pendidikan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!