Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Kesehatan Mental Masyarakat, Aja’ Tacapa’i

832
×

Kesehatan Mental Masyarakat, Aja’ Tacapa’i

Sebarkan artikel ini
Juniwati Lafuku, S.Farm.
Juniwati Lafuku, S.Farm.

OPINI—10 Oktober 2025 bertepatan dengan hari kesehatan mental sedunia, Pusat Disabilitas (Pusdis) Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Mental Health as a Right : Building Inclusive Support Systems”. Acara ini berlangsung di Aula Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unhas. (identitasunhas.com/10/10/2025)

Kesehatan Mental Warga Makassar

Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM)  mengungkapkan bahwa 69,3 % siswa di Makassar berada dalam kondisi mental yang sedang, dengan hanya 2,8% yang mencari bantuan profesional.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Data ini jelas mencengangkan. Jika demikian halnya, ramaja di Makassar sedang tidak baik-baik saja. Eskapapisme ke gunung dan hutan saja tidak cukup. Mereka butuh dukungan yang tepat dari keluarga, masyarakat dan negara agar segera pulih.

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) telah berkomitmen untuk melakukan upaya serius dalam menangani penyakit mental, seperti penguatan layanan kesehatan mental di fasilitas dasar, layanan terpadu mental health, edukasi sekolah, pemanfaatan media, dukungan komunitas dan program mitigasi sosial.

Sebagai bagian dari masyarakat, kami sangat mengapresiasi program pemerintah, hanya saja program ini tidak akan berjalan maksimal jika akar masalah (root cause) dari penyakit mental tidak ditumpas terlebih dahulu.

Root Cause Analysis of Mental Health, Apa di’?

Secara medis, penyakit mental disebabkan oleh kombinasi faktor genetik (riwayat keluarga), biologis (ketidakseimbangan kimia otak, cedera otak), psikologis (trauma, stres kronis, pelecehan), dan lingkungan (isolasi sosial, kemiskinan, penyalahgunaan zat). Tidak ada satu penyebab tunggal, melainkan interaksi dari berbagai faktor ini yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan mental.

Faktor biologis (www.halodoc.com).

Nyatanya beragam penyebab yang disebutkan diatas hanyalah sebab minor. Root cause analysis (analisis akar masalah) dari penyakit mental adalah tatanan kehidupan yang liberal (bebas), aturan hanya ada untuk dilanggar serta mengadopsi nilai hidup yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan).

Hasilnya seorang muslim akan mengalami kebingungan dalam menentukan arah hidup, tidak memiliki pegangan dalam bertindak dan kehilangan jati dirinya sebagai hamba Allah yang akan terus diuji dengan qadha (ketetapanNya).

Hari ini, kehidupan penuh dengan banjir informasi, tekanan dalam dunia kerja, tuntutan akademik, ritme hidup yang serba cepat, yang kadang membuat seseorang menjadi mudah fomo (fear of missing out), takut ketinggalan tren, hingga berujung pada lelah mental karena tak mampu menyesuaikan ritme hidup.

Disaat yang sama, ujian hidup datang dari arah ekonomi, sosial, politik, pendidikan, relasi pertemanan, keluarga hingga kesehatan, yang mau tidak mau menuntut kita untuk menemukan solusi. Disinilah, banyak yang merasa gagal karena tak mampu menjalani ujian hidup, yang berujung pada ragam penyakit mental.

Islam Peduli Kesehatan Mental Masyarakat

Sepenting itu kesehatan mental bagi masyarakat, Islam memberikan aturan dan batasan yang jelas agar masyarakat tetap menjadi sehat. Tidak seperti hari ini, masyarakat menjadi “sakit” karena aturan kehidupan yang ada tidak membawa pada rasa sakinah (ketenangan) dalam menjalani hidup.

Allah SWT menurunkan Al Qur’an bukan sebagai bacaan semata, namun isinya perlu diterapkan agar manusia mendapat keberkahan hidup. Sudah tentu kita mengenal aturan yang bersumber dari Al Qur’an dan as sunnah, yakni syariat Islam sebagai satu-satunya aturan yang paling cocok untuk mengatur manusia, karena datang dari yang menciptakan manusia.

Al Qur’an menegaskan bahwa hanya ulul albab (orang-orang yang berakal) yang mampu menghadapi tantangan jaman.

Pertama, sebagai seorang muslim harus meyakini Islam adalah agama yang benar (al haq) tanpa keraguan sedikitpun. Menjadi insan yang bertakwa dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Berupaya memiliki syaksiyah (kepribadian) Islam, baik aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) harus berdasarkan Islam.

Allah SWT berfirman:

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( Al-Baqarah (2): 155)

Kedua, menjadikan takwa sebagai kompas moral. masyarakat yang menjadi penjaga satu dengan lainnya dengan cara beramar ma’ruf nahi munkar. Karena perasaan, pemikiran dan peraturannya adalah Islam. Hingga kita dapati tatanan ruang-ruang publik yang penuh rasa aman, nyaman dan terbangun atas suasana keimanan.

Hal ini dapat kita jumpai pada saudra muslim kita di Gaza. Disana, aktivitas khalwat (berudaan yang bukan mahram) dan ikhtilat (campur baur) adalah aib di ruang publik dan harus dihindari. Kecuali pada perkara yang dibolehkan akan pertemuan laki-laki dan perempuan, misalnya dalam hal pendidikan, kesehatan, jual beli dan persaksian.

Ketiga, negara sebagai pemegang kendali dalam mengatur dan menerapkan aturan, hanya menerapkan syariah Islam sebagai aturan yang berlaku di semua sektor. Menutup semua pintu-pintu maksiat dan mencegah kedzaliman dengan menegakkan hukum yang adil.

Penguasa tidak tone-deaf dan para pejabat tidak sibuk menumpuk harta, karena jabatan adalah amanah dan tugas mereka untuk memastikan tidak ada diantara masyarakat yang mengalami gangguan mental.

Wallahua’lambishowab

 

Penulis: Juniwati Lafuku, S. Farm.

 

 

 

***

 

 

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!