MAKASSAR—Kualitas literasi masyarakat Indonesia secara umum, termasuk juga di Sulsel masih rendah. Melihat fenomena ini, Sekolah Literasi Desa (SLD) Sulawesi Selatan terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, terutama di daerah pedesaan dan marjinal.
Pernyataan ini disampaikan oleh inisiator dan pendiri SLD Sulsel, Nurhidayat S.Pd., M.Pd., dalam peringatan 8 tahun berdirinya SLD Sulsel yang didirikan pada tahun 2016.
“Semoga pengurus SLD periode ini tetap kompak dan terus berupaya menciptakan program-program baru yang lebih inovatif,” ujar alumni pascasarjana UNM Makassar ini.
Nurhidayat berharap, pengurus SLD dapat merancang program literasi yang inovatif untuk memberikan dampak signifikan pada kemajuan pendidikan dan literasi masyarakat. Hal ini disampaikan saat menghadiri perayaan Milad ke-8 SLD di Aula Mabes PMI Kota Makassar (23/5).
Ketua SLD periode 2024/2025, Heru menyatakan, pihaknya akan melanjutkan program-program SLD untuk meningkatkan kualitas pendidikan di desa-desa Sulsel.
“Insyaallah kami akan berkomitmen melanjutkan estafet kepemimpinan SLD dan terus berusaha menjalankan program-program yang inovatif,” kata Heru.
Selain program literasi, SLD juga aktif membangun desa binaan melalui kerja sama dengan pemerintah setempat untuk meningkatkan kualitas desa dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
“SLD adalah organisasi yang berfokus pada perbaikan pendidikan dan literasi di daerah marjinal dan pedesaan. Kami berkomitmen untuk turut serta dalam membangun negeri, sesuai dengan tagline kami ‘dari desa untuk negeri’,” jelas Heru.
Secara terpisah, pengamat pendidikan Sulsel yang juga merupakan Dewan Pembina SLD Sulsel Ady Akbar menjelaskan, rendahnya kualitas literasi masyarakat di Indonesia disebabkan oleh banyak aspek mulai dari aspek infrastrktur maupun suprastruktur pendidikan.
“Rendahnya literasi masyarakat merupakan hasil dari kegagalan pemerintah mengelola pendidikan. Infrastruktur pendidikan belum memadai, beban kerja guru yang berat sehingga guru tidak optimal mengajar di kelas, hingga persoalan distribusi guru yang tidak merata. Oleh karena itu, harus ada kesadaran kolektif dari banyak pihak,” pungkas mahasiswa doktoral Universitas Pendidikan Indonesia ini. (rls)







