BELOPA – Di tengah tren menurunnya tingkat literasi, Pemerintah Kabupaten Luwu memilih bergerak dari ruang kelas dan perpustakaan. Salah satu langkah nyatanya diwujudkan melalui Lomba Bertutur Tingkat Kabupaten Luwu yang mempertemukan siswa sekolah dasar dari berbagai kecamatan untuk menghidupkan kembali budaya membaca dan bercerita.
Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu itu bukan sekadar kompetisi keterampilan berbicara. Lomba tersebut menjadi bagian dari strategi membangun minat baca anak sejak dini sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan cerita rakyat kepada generasi muda.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu, Saiful Abdul Latief, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Karena itu, upaya penguatan budaya baca harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap buku dan budaya membaca. Literasi adalah modal utama untuk melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Menurut Saiful, literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, berpikir kritis, hingga mengomunikasikan gagasan secara efektif. Untuk mendukung tujuan tersebut, pihaknya terus mengembangkan berbagai program literasi melalui layanan perpustakaan, kegiatan edukatif, dan kolaborasi dengan sekolah.
Tak hanya menyasar peserta didik, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga menyiapkan langkah penguatan kapasitas guru. Pelatihan khusus bagi tenaga pendidik direncanakan menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem literasi yang lebih kuat di sekolah.
“Guru memiliki peran strategis dalam membentuk budaya membaca. Karena itu, mereka juga perlu dibekali kemampuan yang memadai untuk mentransformasikan pengetahuan dan membimbing siswa menjadi generasi dengan tingkat literasi yang tinggi,” jelasnya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Pimpinan Latansa Bimbel, Epi Aresih Tansal. Ia menilai pelatihan bagi guru penting dilakukan karena masih banyak pendidik yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam mengenai teknik bertutur dan mendongeng sebagai bagian dari pembelajaran literasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu, Andi Palanggi, mengungkapkan bahwa tingkat literasi di Kabupaten Luwu mengalami penurunan, sejalan dengan kondisi yang terjadi di Sulawesi Selatan. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.
“Program-program yang mendorong minat baca dan kemampuan berpikir kritis harus terus diperkuat. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk membangun kembali budaya literasi yang kuat,” kata Andi.
Melalui Lomba Bertutur, Pemkab Luwu berharap lahir generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dengan baik, berpikir kritis, kreatif, dan siap bersaing di masa depan. Di tengah tantangan rendahnya literasi, langkah kecil dari panggung bertutur ini diharapkan menjadi awal kebangkitan budaya baca di Bumi Sawerigading. (Ag4ys)














