BELOPA—Di tengah gempuran konten digital yang semakin mendominasi keseharian anak-anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Luwu memilih cara berbeda untuk menumbuhkan budaya baca. Melalui Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Tahun 2026, Dispersip menghadirkan panggung bagi puluhan siswa untuk menghidupkan kembali kisah-kisah kepahlawanan, legenda rakyat, dan budaya lokal Luwu.
Sebanyak 52 siswa dari berbagai kecamatan tampil penuh percaya diri di Aula Dispersip Luwu. Mereka tidak sekadar bercerita, tetapi juga menunjukkan kemampuan memahami bacaan, mengolah pesan, dan menyampaikannya kembali dengan gaya yang menarik.
Ajang ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Perpustakaan sekaligus wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Luwu dalam memperkuat budaya literasi sejak usia dini.
Penanggung jawab kegiatan, Nurkaya Hamid, mengatakan lomba bertutur merupakan salah satu metode efektif untuk mendekatkan anak-anak dengan buku sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya daerah.
“Momentum ini kami hadirkan untuk menyambut Hari Ulang Tahun Perpustakaan sekaligus mengajak anak-anak semakin dekat dengan buku dan budaya membaca. Kami ingin perpustakaan tidak hanya dikenal sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kreativitas, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya lokal,” kata Nurkaya, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, cerita rakyat dan kisah kepahlawanan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda karena sarat dengan pesan moral yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal senada disampaikan penanggung jawab kegiatan lainnya, Erna Ramli. Ia menilai lomba bertutur merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang gemar membaca, berpikir kritis, dan mampu berkomunikasi dengan baik.
“Kami berharap kegiatan ini mampu meningkatkan minat baca dan tingkat literasi anak-anak Kabupaten Luwu. Ketika anak gemar membaca, mereka akan memiliki wawasan yang luas, daya pikir yang kritis, dan kemampuan komunikasi yang baik,” ujarnya.
Menurut Erna, lomba bertutur menjadi sarana yang menyenangkan untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut sekaligus membangun kepercayaan diri anak sejak dini.
Semangat literasi yang dibangun Dispersip Luwu juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan nonformal. Salah satunya Latansa Bimbingan Belajar yang mengirimkan lima peserta terbaik untuk berkompetisi mewakili sekolah masing-masing.
Pengelola Latansa Bimbel, Epi Aresih Tansal, mengapresiasi konsistensi Dispersip Luwu dalam menghadirkan ruang-ruang literasi bagi anak-anak.
“Lomba bertutur memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak untuk belajar tampil percaya diri, memahami isi bacaan, dan menyampaikan kembali cerita dengan cara yang menarik. Ini merupakan bagian penting dari proses literasi yang selama ini kami tanamkan kepada peserta didik di Latansa,” tuturnya.
Epi menegaskan bahwa kemampuan bertutur tidak lahir secara instan, melainkan merupakan hasil dari kebiasaan membaca yang baik dan berkelanjutan.
Karena itu, ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan dan mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat.
Lebih dari sekadar kompetisi, Lomba Bertutur 2026 menjadi bukti bahwa perpustakaan masih memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Dari panggung sederhana itu, anak-anak Luwu belajar berbicara, memahami nilai budaya, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap buku.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, Dispersip Luwu mengirim pesan penting: budaya membaca dan kearifan lokal tetap dapat hidup, selama ada ruang yang terus memberi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar, berkarya, dan bercerita. (Ag4ys)













