LUWU — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu mendorong masyarakat untuk ikut mendokumentasikan sejarah dan kekayaan budaya daerah melalui tulisan. Upaya itu diwujudkan lewat Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang digelar Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Layanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu tersebut merupakan bagian dari program kerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui Dana DAK Nonfisik Tahun 2026.
Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai pelajar, guru, pengelola perpustakaan, pustakawan, mahasiswa hingga masyarakat umum. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya perhatian terhadap pengembangan literasi, khususnya kepenulisan berbasis potensi daerah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu, Andi Palanggi, S.STP., yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi pelaksanaan bimtek. Menurutnya, kemampuan masyarakat menggali dan menuliskan kearifan lokal penting untuk menjaga identitas Luwu agar tidak hilang ditelan zaman.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu, Ir. H. Saiful Abdul Latief, ST., MM., mengajak peserta menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum mengembangkan kreativitas sekaligus menggali berbagai potensi lokal.
Ia mengatakan Luwu memiliki kekayaan sejarah, budaya, tradisi, tokoh, kearifan lokal serta berbagai potensi masyarakat yang layak didokumentasikan melalui tulisan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang merekam pengetahuan tentang daerahnya.
“Potensi lokal yang kita miliki sangat banyak, seperti asal-usul penamaan suatu daerah di Kabupaten Luwu. Tinggal bagaimana kita menggali, mendokumentasikan, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan agar dapat menjadi pengetahuan dan warisan bagi generasi yang akan datang,” ujarnya sekaligus membuka kegiatan bimtek.
Saiful juga menegaskan perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem literasi melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Perpustakaan, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan memperoleh informasi, tetapi juga menjadi ruang masyarakat untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan kreativitas, dan menghasilkan karya.
Untuk memperkaya wawasan peserta, panitia menghadirkan sejumlah praktisi dan pegiat literasi, yakni penulis buku Idwar Anwar, SS., M.Hum., Asran, S.Pd., MM., selaku penulis sekaligus Founder Akkitanawa, serta Irawan, S.Pd., MM.
Para pemateri berbagi pengalaman mengenai proses kepenulisan, mulai dari menemukan dan mengembangkan ide, menggali sumber tulisan, mengolah pengalaman serta potensi lokal menjadi bahan tulisan hingga menghasilkan karya yang memiliki nilai informasi dan manfaat bagi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan semakin memahami bahwa menulis bukan sekadar aktivitas akademik. Kepenulisan juga menjadi sarana untuk merekam sejarah, menjaga budaya, mengabadikan pemikiran dan pengalaman masyarakat, sekaligus memperkenalkan potensi Kabupaten Luwu kepada generasi mendatang. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Epi Aresih Tansal (Pengelola Latasa Bimbel)













