Jika ditelisik secara cermat, akan terlihat bahwa berbagai implementasi program Moderasi Beragama tidak berkorelasi secara linier. Namun, muncul akibat kekhawatiran yang berlebihan dari apa yang mereka (Barat) sebut sebagai teroris, radikal, intoleran, dan berbagai diksi yang mereka ciptakan sendiri. Lebih jauh lagi, rakyat menduga kuat program ini lahir dengan tujuan membendung geliat Islam hakiki.
Keberagaman dan intoleran sering kali menjadi dalih. Padahal, sepanjang kehidupan antar umat beragama di negeri ini, kondisinya baik-baik saja. Di beberapa daerah yang minoritas nonmuslim, kehidupan mereka tidak terusik oleh isu agama.
Justru sebaliknya, jika umat Islam minoritas, akan ada gesekan-gesekan hingga bentrokan. Bahkan di banyak negara, umat Islam teraniaya begitu rupa, melampaui batas-batas kemanusiaan. Jika demikian, siapa sebenarnya yang intoleran?
Pun, di negeri ini umat Islam selalu menjadi pihak tertuduh. Wajar saja, banyak suara yang mengatakan bahwa program Moderasi Baragama adalah program yang dimotori Barat dalam rangka mengalihkan perhatian umat akan kondisi negeri yang sebenarnya “sakit parah” dalam semua aspek. Selain itu upaya Barat dalam rangka makin menancapkan hegemoninya di negeri muslim yang sangat kaya akan sumber daya alam.
Artinya, program ini harus ditolak karena sejatinya akan menimbulkan kerusakan. Bukan malah menjadikan solusi. Program tersebut menambah daftar panjang kerusakan. Lihatlah profil pemuda saat ini.
Generasi alay yang tidak memiliki visi hidup yang jelas akibat sistem pendidikan sekuler kapitalis. Banyaknya kriminalitas, seperti kasus aborsi, begal, pembunuhan, perkosaan, narkoba, dan segudang permasalahan lainnya yang tak kunjung reda.
Problem di tingkat birokrasi pun tak kalah kompleksnya. Korupsi masih menjadi PR bersama. Pusaran oligarki dan sistem transaksional masih mewarnai perpolitikan. Hampir semua hal menjadi lahan bancakan, tak terkecuali dana-dana bantuan sosial untuk rakyat miskin. Miris!
Kerusakan lingkungan akibat pembangunan eksploitatif juga menyumbang bencana dimana-mana, yang berdampak pada kemiskinan dan penyakit sosial lainnya. Lalu dengan kondisi negeri yang karut marut seperti ini, rakyat disibukkan dengan berbagai program Moderasi Beragama yang sejatinya mengusung misi yang sangat berbahaya yakni pluralisme.
















