“Berikan aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku seorang pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” – Bung Karno.
OPINI—Puluhan tahun yang lalu sang proklamator telah mengingatkan bangsa ini akan pentingnya peran pemuda bagi kemajuan bangsa. Pemudalah yang memegang peran sebagai agen perubahan, kontrol sosial, sekaligus kekuatan moral suatu bangsa. Tak mengherankan jika kualitas pemuda saat ini akan sangat menentukan nasib bangsa di masa mendatang.
Merujuk pada UU No 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, pemuda didefinisikan sebagai warga negara usia 16-30 tahun. Jumlahnya menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2019 mencapai 64,19 juta jiwa atau sekitar seperempat dari total penduduk Indonesia. Dengan jumlah sebesar itu pemuda sangatlah potensial dalam menentukan arah gerak perubahan bangsa.
Namun pemuda seperti apa yang bisa membawa bangsa ini mendapatkan kejayaan bonus demografi agar tidak berbalik menjadi beban demografi?
Pemuda Indonesia harus meningkatkan 3 jenis kemampuan dasar untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai agen perubahan, kontrol sosial dan kekuatan moral bangsa. Ketiga kemampuan dasar itu adalah kompetensi, kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi.
Kompetensi dapat ditingkatkan dengan membuka akses seluas-luasnya bagi para pemuda Indonesa untuk dapat mengenyam pendidikan. Pemerataan akses pendidikan salah satunya direpresentasikan dari peningkatan Angka Partisipasi Sekolah (APS) mulai jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Selama kurun waktu 2003-2019, APS usia 7-12 tahun meningkat dari 96,42% menjadi 99,24%. APS usia 13-15 tahun meningkat dari 81,01% menjadi 95,51%. Yang menggembirakan peningkatan tertinggi terjadi pada APS usia 19-24 tahun yang meningkat dari 11,71% menjadi 25,21%.
Di sisi lain juga terjadi peningkatan rata lama sekolah dari 8,32 tahun pada tahun 2015 menjadi 8,75 tahun pada tahun 2019. Ini berarti rata-rata penduduk Indonesia mampu menyelesaikan pendidikan formalnya hingga kelas 2 SMP. Masih perlu upaya keras untuk meningkatkan pemerataan akses pendidikan sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi generasi muda. Salah satunya melalui pendidikan vokasional berupa kursus atau pun pelatihan.
Pemuda yang memiliki kompetensi akan memiliki daya saing yang kuat dalam menghadapi berbagai perubahan di era revolusi industri 4.0, apalagi di tengah gempuran pandemi yang belum jelas kapan akan berhenti.
Di sisi lain, generasi muda juga perlu membangun kepercayaan diri sebagai generasi penerus bangsa. Tentunya kepercayaan diri yang berbasis kompetensi. Karena bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka.
Faktor penting lainnya adalah kemampuan komunikasi yang efektif. Yang menarik, agar dapat berkomunikasi secara efektif ternyata dibutuhkan keberanian.
Pertama, keberanian untuk bertanya. Keberanian untuk bertanya merupakan bentuk kepedulian dan profesionalisme. Jadi biasakan bertanya, bukan sekedar duduk termenung di pojok ruangan, namun pastikan bertanya dengan cara yang santun.
Kedua, keberanian untuk menantang. Menantang diri sendiri, rekan kerja bahkan atasan untuk beradu inovasi dalam suatu sistem kerja yang kompetitif dan profesional berbasis kompetensi. Karena mereka yang berani menantang adalah mereka yang punya niat baik untuk memperbaiki keadaan.
Ketiga, keberanian untuk menawarkan solusi. Banyak orang memiliki kemampuan mengkritik, namun jarang yang bisa menawarkan solusi. Padahal sejatinya setiap permasalahan lebih membutuhkan solusi. Dan pastinya siapapun akan lebih senang mendengarkan solusi positif ketimbang kritik yang masif.
Keempat, keberanian untuk mengimplementasikan ide. Tak jarang orang hanya mampu memberi ide, tapi tak benar-benar tahu bagaimana mengimplementasikan ide tersebut secara nyata. Bahkan tak sedikit yang menghilang pada saat ide tersebut benar-benar diimplementasikan.
Kelima, keberanian untuk belajar terus menerus. Kita harus berani melakukan introspeksi terhadap semua kelemahan dan kekurangan diri. Jangan pernah takut untuk menerima saran dan masukan dan jangan jumawa atas semua hasil yang telah dicapai.
Dunia berubah. Sudah bukan masanya lagi memegang teguh filsafat Tong Kosong Nyaring Bunyinya, tapi jadilah Tong Berisi Yang Nyaring Bunyinya. Pepatah bilang Diam Itu Emas, tapi Bicara Yang Bermanfaat Adalah Berlian.
Teruslah belajar dan beradaptasi terhadap semua keterbatasan. Temukan solusi atas setiap permasalahan. Tetaplah santun dalam menyampaikan gagasan. Tunjukkan kapasitas diri sebagai generasi penerus yang layak dibanggakan.
Ayo generasi muda, bersatu dan bangkitlah. Optimalkan potensimu demi Indonesia Maju Yang Bermartabat. Jadilah generasi emas yang mampu mewariskan kejayaan demi harga diri bangsa di masa mendatang. (*)

















