PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.BBM Disebut Aman, Mengapa Antrean Mengular?Sengketa Lahan Petani Laoli di Luwu Timur Masuk PTUN, Aktivitas di Objek Perkara Diminta DihentikanNew and Now Gaza, Saatnya Perisai Umat DibutuhkanKuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi KesehatanAntrean BBM Mengular, Wali Kota Makassar Tekan Pertamina Benahi Pelayanan SPBUDarurat Bencana Kebijakan, Selamatkan NegeriPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.BBM Disebut Aman, Mengapa Antrean Mengular?Sengketa Lahan Petani Laoli di Luwu Timur Masuk PTUN, Aktivitas di Objek Perkara Diminta DihentikanNew and Now Gaza, Saatnya Perisai Umat DibutuhkanKuliah Tamu Unhas Bahas AI Tepercaya untuk Inovasi KesehatanAntrean BBM Mengular, Wali Kota Makassar Tekan Pertamina Benahi Pelayanan SPBUDarurat Bencana Kebijakan, Selamatkan Negeri
Opini

Petani Semakin Pintar Teknologi, Tapi Posisi Tawar Tetap Lemah

90
×

Petani Semakin Pintar Teknologi, Tapi Posisi Tawar Tetap Lemah

Sebarkan artikel ini
Naufa Amelia
Naufa Amelia, Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

OPINI—Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pertanian. Saat ini, pemandangan petani yang menggunakan telepon genggam di sawah atau kebun bukan lagi sesuatu yang asing.

Mereka memanfaatkan internet untuk mencari informasi harga komoditas, memantau kondisi cuaca, mempelajari teknik budidaya terbaru, hingga memasarkan hasil panen melalui media sosial.

Berbagai aplikasi pertanian juga mulai diperkenalkan untuk membantu petani mengelola usaha taninya dengan lebih efisien. Kondisi ini menunjukkan bahwa petani Indonesia semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi dan tidak lagi identik dengan kelompok yang tertinggal dalam arus modernisasi.

Perubahan tersebut menjadi kabar baik bagi pembangunan pertanian nasional. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki sekitar 16,78 juta petani milenial.

Kehadiran generasi petani yang lebih akrab dengan teknologi memberikan harapan baru bagi kemajuan sektor pertanian. Mereka lebih cepat menerima inovasi, lebih aktif mencari informasi, dan lebih berani mencoba cara-cara baru dalam mengembangkan usaha tani.

Berbagai program digitalisasi pertanian yang dilakukan pemerintah, perguruan tinggi, maupun sektor swasta juga semakin memperkuat proses transformasi tersebut.

Namun, di balik perkembangan yang menggembirakan itu, terdapat persoalan yang masih menjadi tantangan besar dalam dunia agribisnis Indonesia. Meskipun petani semakin pintar memanfaatkan teknologi, posisi tawar mereka dalam sistem pemasaran hasil pertanian masih tergolong lemah.

Kemampuan mengakses informasi ternyata belum otomatis membuat petani memiliki kekuatan untuk menentukan harga produknya sendiri. Akibatnya, petani tetap menjadi pihak yang paling rentan ketika terjadi gejolak harga di pasar.

Fenomena ini dapat dilihat dari berbagai komoditas pertanian yang sering menjadi perhatian masyarakat. Ketika harga cabai melonjak di tingkat konsumen hingga puluhan ribu rupiah per kilogram, tidak semua petani menikmati keuntungan yang sama. Begitu pula ketika harga bawang merah atau tomat mengalami kenaikan di pasar.

Dalam banyak kasus, harga yang diterima petani jauh lebih rendah dibandingkan harga yang dibayarkan konsumen. Selisih harga tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ketimpangan dalam rantai pemasaran produk pertanian di Indonesia.

Menurut saya, kondisi ini merupakan ironi di tengah pesatnya digitalisasi pertanian. Seorang petani saat ini dapat mengetahui harga pasar hanya melalui layar telepon genggamnya. Ia dapat mengakses informasi dari berbagai daerah dalam hitungan detik.

Namun, ketika hasil panennya siap dijual, ia tetap tidak memiliki kuasa untuk menentukan harga. Teknologi telah membuka akses informasi, tetapi belum mampu mengubah posisi petani dalam sistem agribisnis yang selama ini kurang menguntungkan.

Salah satu penyebab utama lemahnya posisi tawar petani adalah skala usaha tani yang relatif kecil. Sebagian besar petani Indonesia mengelola lahan dengan luas terbatas sehingga volume produksi yang dihasilkan juga tidak terlalu besar. Dalam kondisi seperti ini, petani sulit melakukan negosiasi dengan pembeli.

Mereka tidak memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk memengaruhi pasar. Akibatnya, petani lebih sering menerima harga yang ditetapkan oleh pedagang atau pihak lain yang memiliki kekuatan ekonomi lebih besar.

Selain itu, ketergantungan terhadap tengkulak masih menjadi persoalan yang sulit dihilangkan. Di banyak daerah, hubungan antara petani dan tengkulak telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Tidak sedikit petani yang memperoleh bantuan modal, pupuk, atau benih dari pedagang pengumpul sebelum musim tanam dimulai. Ketika panen tiba, mereka kemudian menjual hasil panennya kepada pihak yang sama.

Hubungan semacam ini memang membantu petani dalam memperoleh modal usaha, tetapi di sisi lain membuat mereka memiliki pilihan yang sangat terbatas dalam menentukan saluran pemasaran.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah panjangnya rantai distribusi hasil pertanian. Sebelum sampai ke tangan konsumen, produk pertanian biasanya harus melewati beberapa tahapan pemasaran. Mulai dari pedagang pengumpul, pedagang besar, distributor, hingga pengecer. Setiap pelaku memperoleh keuntungan dari proses tersebut.

Akibatnya, harga yang dibayar konsumen menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang diterima petani. Dalam kondisi seperti ini, petani yang bekerja keras mulai dari proses penanaman hingga panen justru memperoleh bagian keuntungan yang paling kecil.

Padahal, sektor agribisnis seharusnya tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani. Selama ini berbagai program pembangunan pertanian sering menitikberatkan pada penggunaan benih unggul, mekanisasi, atau teknologi budidaya modern.

Program-program tersebut memang penting karena dapat meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, peningkatan produksi tidak akan banyak berarti apabila petani tetap kesulitan memperoleh harga yang layak. Produksi yang tinggi tanpa sistem pemasaran yang adil justru berpotensi membuat harga semakin turun pada saat panen raya.

Dalam perspektif agribisnis, keberhasilan usaha tani tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh kemampuan mengelola pemasaran. Sayangnya, banyak petani masih menghadapi keterbatasan dalam aspek tersebut. Mereka sering kali tidak memiliki akses langsung ke pasar yang lebih luas.

Meskipun teknologi digital menyediakan berbagai platform pemasaran, tidak semua petani mampu memanfaatkannya secara optimal. Pengetahuan mengenai pemasaran digital, pengemasan produk, distribusi, dan manajemen usaha masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Oleh karena itu, digitalisasi pertanian harus diikuti dengan penguatan kelembagaan petani. Kelompok tani dan koperasi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan posisi tawar petani. Melalui pemasaran secara kolektif, hasil panen dari banyak petani dapat dikumpulkan sehingga volume produk menjadi lebih besar.

Dengan jumlah produksi yang lebih besar, peluang untuk bernegosiasi dengan pembeli juga semakin meningkat. Selain itu, koperasi dapat membantu petani memperoleh akses permodalan, informasi pasar, dan jaringan pemasaran yang lebih luas.

Pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur pendukung agribisnis. Penyediaan gudang penyimpanan, fasilitas pengolahan hasil pertanian, serta sistem logistik yang efisien dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada penjualan segera setelah panen.

Ketika petani memiliki fasilitas untuk menyimpan atau mengolah hasil panennya, mereka tidak lagi berada dalam posisi terpaksa menerima harga yang rendah. Produk yang diolah juga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan produk segar yang langsung dijual ke pasar.

Selain pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga perlu berperan aktif dalam menciptakan inovasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani. Inovasi tidak cukup hanya berupa aplikasi atau perangkat teknologi baru.

Yang lebih dibutuhkan adalah inovasi yang mampu memperkuat akses pasar, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperbaiki sistem distribusi hasil pertanian. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi simbol modernisasi, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara nyata.

Pada akhirnya, petani Indonesia telah membuktikan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Mereka semakin cerdas dalam mengelola usaha tani dan semakin terbuka terhadap berbagai inovasi.

Namun, kecanggihan teknologi tidak akan memberikan manfaat yang maksimal apabila posisi tawar petani masih lemah dalam rantai agribisnis. Sudah saatnya keberhasilan digitalisasi pertanian tidak hanya diukur dari banyaknya aplikasi yang digunakan atau pelatihan yang dilaksanakan, tetapi juga dari meningkat atau tidaknya kesejahteraan petani.

Teknologi seharusnya menjadi alat pemberdayaan yang membantu petani memperoleh keuntungan yang lebih adil. Jika petani semakin pintar teknologi tetapi tetap lemah dalam menentukan harga, maka pekerjaan besar pembangunan agribisnis Indonesia masih belum selesai. (*)


Penulis:
Naufa Amelia
(Mahasiswi Prodi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com