Beranda » Event » Ratusan Musisi Lokal Hingga Internasional Tampil pada Ngayogjazz 2018
Ratusan Musisi Lokal Hingga Internasional Tampil pada Ngayogjazz 2018
Event

Ratusan Musisi Lokal Hingga Internasional Tampil pada Ngayogjazz 2018

BANTUL, YOGYAKARTA – Nita Aartsen, pianis dan vocalis Indonesia yang sudah melakukan konser di berbagai belahan dunia tampil memukau bersama Jean Sebastian Simonoviez dari Perancis (saxophone), Mikele Montolli dari Italia (bass) dan Ida Bagus Putu Bramanta dari Bali (drum). Mereka memainkan sejumlah lagu instrumental maupun vokal oleh Nita dan Simonoviez, diakhiri lagu Night And Day dengan vokal Nita.

“Belum pada ngantuk kan ya…oh dereng (Jawa: belum). Nama saya Nita Aartsen, namanya sedikit bule tetapi saya orang Indonesia campur-campur. Senang sekali malam ini bisa tampil untuk kedua kalinya di Ngayogjazz yang kian meriah dengan musisi yang datang dari berbagai negara,” kata Nita.

Para penonton rela duduk beralas tanah di antara banyak pohon pisang dan pohon mangga yang lebat buahnya di depan panggung Kamituwa, dengan latar belakang rumah Limasan milik Keluarga Sugito warga Dusun Kauman, Desa Gilangharjo.

Sebelum Nita Aartsen, di panggung yang sama juga tampil Kika Sprangers Quintet dari Belanda yang sedang melakukan tour ke Indonesia.

Willem Romers, pemain drum Kika Springers mengatakan kepada VOA, tampil di Ngayogjazz merupakan pengalaman baru.

“ Menyenangkan, ini luar biasa bahwa kami bisa tampil disini dan kami belum pernah mendapatkan pengalaman seperti ini sebelumnya. Tempatnya indah, tata suara bagus, penontonnya bersemangat dan saya dengar festival musik ini gratis. Juga, tempatnya berpindah-pindah di Yogyakarta ini, tentu ini menguntungkan semua pihak khususnya penonton,” ujar Willem.

Sebanyak 40 kelompok musik termasuk komunitas jazz dari berbagai kota di Indonesia yang terdiri ratusan musisi bermain di 6 panggung yang berbeda. Panggung Lurah khusus menyajikan kesenian tradisi berupa gejok lesung, panembromo (kelompok vokal bahasa Jawa) dengan iringan gamelan serta pertunjukan tari-tarian oleh kelompok warga setempat.

Sejumlah kelompok musik Blues dengan beragam aliran tampil di panggung Bayan. Di panggung yang sama juga tampil sejumlah komunitas jazz lokal dan Rodrigo Parejo Quartet dari Spanyol.

Ngayogjazz 2018 mengusung tema “Negara Mawa Tata, Jazz MawaCara” yang merupakan plesetan dari “ Desa Mowo Cara, Negara Mawa tata” yang artinya meskipun negara memiliki aturan tetapi desa juga memiliki adat dan tradisi sendiri.

Dr. Budi Subanar, budayawan yang juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengatakan, Ngayogjazz memiliki makna yang melebihi perhelatan musik.

“ Komunitas musik jazz itu sendiri menjadi sebuah kekuatan sebagai cara untuk mendinamisasi masyarakat dari perkotaan sampai ke desa, sebagai ekpresi yang mempertemukan orang kota dengan orang desa dan bukan sebagai sebuah peristiwa tetapi sebagai proses (budaya). Proses itu sendiri melibatkan berbagai pihak, proses itu sendiri memakan waktu dan keterlibatan untuk melawan tradisi instant dan keduanya menjadi lebih hidup,” tukas Budi.

Supriyanto, Sekretaris desa Gilangharjo sekaligus panitia penyelenggara dari pihak desa mengaku terkejut dengan ribuan penonton yang berbondong-bondong menonton Ngayogjazz 2018.

“Ini di atas ekspektasi kami, lautan manusia membuat kami sangat gembira. Masyarakat lokal belum begitu mengenal musik jazz. Sehingga ketika malam ini kita bisa mendengarkan dan melihat konsernya secara langsung ternyata musik jazz itu indah. Masyarakat kami juga mendapatkan dampak ekonomi baik yang berjualan makanan, kerajinan, batik dan parkir….mereka mendapatkan income,” ungkap Supriyanto.

Pergelaran Ngayogjazz berakhir Sabtu tengah malam di panggung utama, panggung Jagatirta dengan permainan jazz oleh legenda jazz Indonesia Idang Rasyidi bersama sejumlah musisi muda. Mereka mengiringi penyanyi senior Margie Segers dan dokter Tompi. Di panggung yang sama sebelumnya tampil Ozma Quintet dari Perancis dan Endah Laras asal Solo yang selalu membawa ukulele.

Naza, mahasiswa yang sedang studi di Yogyakarta mengaku gembira menonton festival musik yag selalu diselenggarakan di kampung itu.

“ Ini baru pertama kali saya nonton Ngayogjazz ini. Setiap panggungnya menarik termasuk lighting dan hiasan terbuat dari bambu itu bagus sehingga esensi seninya itu dapat di saya. Bintang-bintang tamunya bagus, tanpa dipungut biaya,” katanya.

Novindra Diratara, panitia penyelenggara festival musik yang digagas musisi Jaduk Ferianto itu berjanji akan terus mengembangkan jejaring untuk mendatangkan musisi terbaik termasuk dari luar Indonenesia.

“Selama 12 tahun menyelenggarakan Ngayogjazz kami mengandalkan jaringan. Kami tidak punya duit tetapi kami punya jaringan dengan IFI (Institut Budaya Perancis) maka kami minta bantuan IFI, untuk Belanda kami bekerjasama dengan Erasmus House. Sehingga dengan jaringan-jaringan itu yang akan terus kami bangun,” pungkasnya. [voa]