JAKARTA — Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), mendorong Wahdah Islamiyah memperkuat kemandirian ekonomi umat dengan memperbanyak pengusaha Muslim dan muzakki.
Pesan itu disampaikan JK saat menerima silaturahmi Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah KH Muhammad Zaitun Rasmin bersama jajaran pimpinan Wahdah Islamiyah di kediamannya, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung menjelang Muktamar V Wahdah Islamiyah. Dalam kesempatan itu, JK mengingatkan organisasi kemasyarakatan Islam agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial dan wacana, tetapi hadir menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
“Ormas perlu punya perhatian pada persoalan umat. Tidak cukup hanya dengan seminar, tetapi harus ada langkah nyata,” kata JK.
Menurut JK, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius adalah kemandirian ekonomi umat. Ia mendorong peningkatan jumlah pengusaha Muslim agar semakin banyak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi sekaligus mampu menunaikan zakat.
“Mari perbanyak muzakki,” ujarnya.
JK bahkan menawarkan gagasan “satu rumah satu pengusaha”. Menurut dia, konsep tersebut dapat dikembangkan dengan prinsip deret ukur sehingga jumlah pengusaha di lingkungan keluarga dapat terus bertambah.
Ia mengingatkan umat Islam agar tidak hanya berperan sebagai konsumen. Penguatan ekonomi harus dibarengi dengan peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
JK menilai penguasaan teknologi masih menjadi salah satu tantangan dunia Islam. Ketergantungan terhadap pihak lain dalam pemenuhan kebutuhan teknologi strategis, kata dia, perlu dikurangi melalui penguatan pendidikan dan sumber daya manusia.
Karena itu, lembaga pendidikan Islam dan pesantren didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Bergeraklah dengan prinsip agama, sesuai dengan kondisi zamannya,” pesannya.
Dalam bidang pendidikan, JK juga meminta Wahdah Islamiyah lebih mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat dan dunia kerja. Ia menilai pengembangan lembaga pendidikan tidak harus selalu berorientasi pada pendirian universitas.
Sebaliknya, sekolah vokasi yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan industri dan lapangan kerja dinilai perlu diperbanyak. Pendidikan pesantren dan sekolah Islam juga diharapkan semakin dekat dengan teknologi, keterampilan dan kewirausahaan.
Selain ekonomi dan pendidikan, JK menyoroti persoalan pelayanan umat yang kerap dianggap sederhana, tetapi berdampak langsung terhadap kenyamanan masyarakat, salah satunya pengelolaan masjid.
Ia menyinggung kualitas sound system masjid yang menurutnya masih sering kurang diperhatikan. JK juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan masjid sebagai bagian dari pelayanan kepada jamaah.
Menurut JK, perhatian terhadap persoalan teknis seperti kualitas suara dan kebersihan masjid merupakan bagian dari dakwah yang menyentuh kebutuhan nyata umat. Dakwah, kata dia, tidak hanya berbicara mengenai persoalan besar, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi dalam kehidupan sehari-hari.

JK turut mengingatkan sejarah perkembangan Islam di Asia Tenggara yang tidak terlepas dari peran pedagang Muslim. Aktivitas perdagangan menjadi salah satu jalur penting penyebaran Islam sekaligus membangun interaksi dengan masyarakat yang beragam.
Karena itu, JK mendorong Wahdah Islamiyah terus mengembangkan gerakan yang tetap berpegang pada prinsip agama, namun mampu menjawab perubahan zaman.
Silaturahmi tersebut menjadi bagian dari rangkaian komunikasi dan persiapan menuju Muktamar V Wahdah Islamiyah yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 20–23 Agustus 2026.
Pembukaan Muktamar V akan berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (22/8/2026), dan dirangkaikan dengan Tabligh Akbar Nasional serta Pengukuhan 10.000 Guru Al-Qur’an.
Muktamar V diharapkan tidak sekadar menjadi momentum konsolidasi organisasi, tetapi juga menghasilkan gagasan dan program konkret untuk menjawab tantangan umat dan bangsa, terutama di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, dakwah, dan pelayanan umat. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Muhammad Akbar (Humas Muktamar V WI)













