Advertisement - Scroll ke atas
Opini

Roblox, Kapitalisme, dan Ancaman terhadap Generasi

1325
×

Roblox, Kapitalisme, dan Ancaman terhadap Generasi

Sebarkan artikel ini
Roblox, Kapitalisme, dan Ancaman terhadap Generasi
Penulis: Eka Purnama Sary, S.Pd (Penggerak Mammesa Pammase)

OPINIRoblox, platform game online yang digandrungi anak-anak di seluruh dunia, belakangan jadi sorotan. Popularitasnya memang luar biasa: lebih dari 77 juta pengguna aktif harian, dengan mayoritas pemain adalah anak-anak usia sekolah. Namun, di balik serunya Roblox, tersimpan banyak bahaya yang kini makin terbongkar.

Belum lama ini, otoritas Arab Saudi menekan Roblox untuk mematikan fitur chat suara dan teks serta memblokir lebih dari 300 ribu game kategori “social gathering games.”

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Alasannya jelas: melindungi anak-anak dari predator online dan konten yang tidak sesuai usia. Kebijakan ini menjadi peringatan keras bahwa di balik warna-warni Roblox, ada ancaman nyata terhadap keamanan generasi.

Bahaya Roblox Mengintai

Pertama, paparan predator online. Fitur chat Roblox memungkinkan interaksi bebas dengan orang asing. Laporan BBC (2019) mencatat kasus anak-anak yang dijebak predator seksual lewat Roblox. Saudi akhirnya menonaktifkan chat karena dianggap paling rawan.

Kedua, konten tidak sesuai usia. Karena Roblox berbasis User Generated Content, siapa pun bisa membuat game. Akibatnya, muncul ribuan game dengan unsur kekerasan, horor, bahkan tema dewasa yang lolos dari moderasi. Common Sense Media menyebut Roblox kerap kecolongan dalam menyaring konten.

Ketiga, penipuan dan jebakan finansial. Tawaran “gratis Robux” banyak dipakai untuk menipu anak. Selain itu, sistem microtransaction mendorong anak membelanjakan uang orang tua tanpa kontrol.

Keempat, kecanduan dan dampak psikologis. Studi Frontiers in Psychology (2022) menyebutkan game online bisa memicu adiksi, gangguan tidur, hingga masalah sosial. Roblox didesain dengan mekanisme reward yang membuat pemain betah berjam-jam.

Kelima, eksploitasi kreator cilik. Laporan People Make Games (2021) membongkar bagaimana Roblox memberi iming-iming anak bisa kaya lewat membuat game, padahal sistem bagi hasil sangat timpang: Roblox mengambil hingga 75% keuntungan, sementara kreator kecil hanya dapat sisa.

Bahaya Roblox dalam perspektif kapitalisme

Fakta-fakta di atas tidak bisa dilepaskan dari sistem yang menaunginya: kapitalisme.

Pertama, Kapitalisme profit oriented.

Roblox dipandang bukan sekadar hiburan, tetapi mesin uang. Tahun 2023, Roblox mencatat pendapatan lebih dari 2,8 miliar USD, mayoritas dari pembelian Robux oleh pemain anak-anak (Statista, 2024). Ini bukti bahwa orientasi mereka bukan perlindungan generasi, melainkan profit semata.

Sebagaimana diingatkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, “Kapitalisme adalah sistem rusak yang menjadikan keuntungan sebagai asas, sekalipun menimbulkan kerusakan pada manusia.” (Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam). Roblox hanyalah satu wajah dari kerusakan itu.

Kedua, membuat anak terbiasa belanja dalam game.

Roblox punya mata uang virtual bernama Robux. Anak-anak bisa membeli pakaian avatar, item, atau akses game tertentu dengan Robux. Masalahnya, Robux hanya bisa didapat dengan uang asli.

New York Times (2022) mencatat kasus seorang anak 10 tahun yang menghabiskan ribuan dolar dari kartu kredit orang tuanya hanya untuk belanja di Roblox.

Sistem ini memang dirancang supaya anak terbiasa mengeluarkan uang sedikit demi sedikit, tapi terus-menerus, sehingga akhirnya jumlahnya membengkak.

Ketiga, eksploitasi tenaga kreatif anak.

Kapitalisme digital mengubah anak menjadi “pekerja murah.” Roblox membiarkan mereka berkreasi, tetapi keuntungan paling besar tetap masuk ke perusahaan.

Keempat, regulasi yang lemah dan reaktif.

Dalam kapitalisme, negara cenderung tunduk pada industri. Regulasi baru ditegakkan setelah banyak korban, bukan untuk mencegah sejak awal. Contohnya, fitur chat baru diblokir setelah muncul kasus predator dan tekanan publik.

Kelima, penetrasi budaya liberal Barat.

Banyak game Roblox yang memuat gaya hidup bebas: pesta virtual, avatar berpakaian terbuka, hingga interaksi lawan jenis tanpa batas. Semua ini mempercepat infiltrasi budaya Barat ke dalam benak anak-anak Muslim.

Solusi Islam: Melindungi Generasi dari Bahaya Digital

Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga, bukan sebagai konsumen. Oleh karena itu, Islam menawarkan solusi yang jauh lebih mendasar dan menyeluruh dibanding kapitalisme.

Pertama, akidah sebagai filter. Islam menetapkan bahwa setiap aktivitas, termasuk hiburan, harus sesuai dengan syariat. Hiburan boleh, tetapi tidak boleh melalaikan dari ibadah, apalagi merusak akhlak.

Kedua, peran negara Islam. Dalam sistem Islam, negara memiliki kewajiban melindungi generasi. Konten digital yang berbahaya akan difilter dengan standar syariat, bukan sekadar rating usia. Produsen game asing bisa dilarang masuk jika membahayakan akhlak. Sebaliknya, negara mendorong pengembangan game edukatif yang sehat dan bernilai ibadah.

Dalam hal ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan, “Negara wajib memelihara masyarakat dengan pemeliharaan yang benar, baik dalam pendidikan, pengajaran, maupun hiburan, agar seluruhnya berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam.” (Nizham al-Islam). Artinya, perlindungan anak dari bahaya digital bukan sekadar tanggung jawab keluarga, melainkan kewajiban negara Islam secara sistemis.

Ketiga, sistem ekonomi Islam. Islam melarang eksploitasi tenaga kerja anak dan praktik kapitalistik yang menjerat. Dalam sistem Islam, anak tidak dijadikan target pasar, melainkan generasi yang dipersiapkan menjadi pejuang peradaban. Islam melarang menjatuhkan diri dalam kebinasaan, termasuk dengan menjadikan anak-anak sebagai target pasar yang dieksploitasi. Allah berfirman:

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195).

Harta seharusnya diarahkan untuk kebaikan, bukan untuk jebakan konsumtif yang merusak generasi.

Keempat, peran keluarga dan masyarakat. Orang tua bertugas menanamkan literasi digital berbasis Islam, mendampingi anak dalam memilih hiburan, serta menanamkan kesadaran bahwa dunia digital pun harus diatur oleh syariat. Masyarakat Muslim juga berkewajiban saling mengingatkan dan menjaga generasi dari bahaya digital.

Penutup

Kasus Roblox membuka mata kita bahwa dunia digital bukanlah ruang netral. Di dalam kapitalisme, ia menjadi arena eksploitasi anak demi keuntungan segelintir korporasi. Bahaya predator, konten merusak, adiksi, hingga eksploitasi tenaga kreatif hanyalah gejala dari akar masalah: kapitalisme itu sendiri.

Islam, dengan syariat yang sempurna, menawarkan solusi hakiki. Bukan sekadar memblokir sebagian fitur, tetapi mengatur seluruh ekosistem digital agar selaras dengan tujuan agung: melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berperadaban. (*)

Penulis: Eka Purnama Sary, S.Pd (Penggerak Mammesa Pammase)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

error: Content is protected !!