Selundupkan Motor dan Sepeda Mewah, Erick Thohir Pecat Dirut Garuda

0
14

Motor gede dan sepeda diduga diselundupkan di dalam pesawat baru PT Garuda Indonesia Tbk oleh Dirutnya sendiri. Menteri BUMN Erick Thohir langsung memecat bos perusahaan penerbangan berplat merah itu.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara dipecat oleh Menteri BUMN Erick Thohir, karena diduga menyelundupkan barang mewah berupa motor gede Harley Davidson dan sepeda Brompton.Dalam penyelidikan yang terus berkembang, kata Erick, kesaksian menyatakan bahwa Ari Askhara memerintahkan bawahannya untuk mencari motor mewah tersebut. Selain itu, terdapat bukti transfer atau transaksi keuangan yang ikut melibatkan direksi dan staf lainnya.

“Dari laporan yang kita dapat dari komite audit, disini disebutkan mempunyai kesaksian tambahan siang ini bahwa motor Harley Davidson diduga adalah milik saudara AA (Ari Askhara) detail informasinya adalah sebagai berikut. Saudara AA memberi instruksi untuk mencari motor clasic Harley Davidson tipe sovel head di tahun 2018. Ini motor tahun 70an jadi classic. Lalu pembelian dilakukan pada April 2019, proses transfer dari Jakarta dilakukan ke rekening pribadi finance manager Garuda di Amsterdam. Saudara IJ membantu proses pengiriman dan lain-lain tapi akhirnya seperti hari ini,” ujar Erick dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).

Erick sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ia menginginkan semua perusahaan BUMN bisa lebih maju dan mempunyai kinerja yang lebih baik. Karenanya, Erick langsung memecat Ari Askhara dengan prosedur yang ada karena Garuda Indonesia adalah perusahaan milik publik.

“Ini sungguh menyedihkan, ini proses secara menyeluruh di dalam sebuah BUMN, bukan individu, menyeluruh. Ini pasti tentu Ibu (Menteri Keuangan) sangat sedih dan saya sangat sedih. Ketika kita ingin mengangkat citra BUMN, membangun kinerja BUMN tetapi kalau oknum-oknum di dalamnya tidak siap inilah yang terjadi. Dengan itu saya sebagai kementerian BUMN itu akan memberhentikan saudara

Dirut Garuda dan tentu proses daripada ini karena Garuda adalah perusahaan publik, pasti ada prosedurnya lagi,” tegas Erick.

Pihaknya pun akan melakukan penyelidikan lebih dalam terkait siapa saja oknum-oknum yang terlibat dalam kasus ini. Selain itu, menurut Erick, karena terdapat kerugian negara akibat penyelundupan ini, maka Ari Askhara pun bisa dijerat pidana.

Menkeu: Total Kerugian Negara akibat Penyelundupan ini Capai Rp 1,5 Miliar

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa sebelumnya, penumpang berinisial SAW dan LS sempat berkilah bahwa suku cadang motor Harley Davidson dan sepeda Brompton dibeli online melakui akun e-bay. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, pihak Bea Cukai tidak menemukan kontak penjual e-bay tersebut. SAW sendiri adalah nama yang tertera dalam claimtag 15 koli yang berisi suku cadang motor gede Harley Davidson bekas dengan kondisi terurai, sedangkan LS adalah nama yang tertera pada claimtag tiga koli yang berisi dua unit sepeda Brompton kondisi baru beserta aksesori sepeda. Keduanya merupakan penumpang pesawat GA9217 tipe Airbus A330-900 seri Neo, dan mereka, kata Ani, tidak menyerahkan custom declaration dan tidak memberitahu secara lisan kepada petugas bea cukai mengenai barang tersebut. Oleh karena itu, terdapat kerugian negara akibat penyelundupan barang mewah tersebut.

“Berdasarkan penulusuran kami dan melihat harga di pasar, perkiraan harga motor Harley Davidson tersebut mungkin sampai dengan Rp800 juta per unit sedangkan nilai dari sepeda Brompton sekitar Rp50-60 juta per unitnya. Dengan demikian total kerugian negara potensi atau yang terjadi kalau mereka tidak melakukan deklarasi ini adalah antara Rp532 juta-Rp1,5 miliar,” ungkap Sri Mulyani.

Hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap motif awal, dan penyelidikan lebih mendalam, apakah memang betul bahwa yang bersangkutan yaitu Dirut Garuda memang yang memiliki atau melakukan atas nama pihak lain.

Menurutnya, cara seperti ini merupakan salah satu modus untuk menyelundupkan barang secara ilegal ke Indonesia. Maka dari itu, ia meminta kepada petugas Bea Cukai untuk senantiasa meningkatkan pengawasan.

“Modus untuk memasukkan barang ke Indonesia melalui cara ilegal dilakukan dan sering terjadi dengan berbagai macam modus dan ini masuk melalui berbagai jalur, bisa melalui Tanjung Priok, Cengkareng dan pelabuhan lain. Oleh karena itu saya perintahkan kepada bea dan cukai untuk terus meningkatkan pengawasan. Saya minta kepada bea dan cukai menyelesaikan seluruh kasus ini dalam sisi pemeriksaan, nanti kemudian penindakan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Dan tentu kami berharap komitmen dari seluruh pihak untuk menjaga RI dari tindakan ilegal untuk bisa bekerja sama dalam menanggulangi hal-hal tersebut. Tentu seberapa pun ketatnya bea dan cukai melakukan tindakan, kita tidak bisa melaksanakannya sendiri jadi perlu kerja sama dengan berbagai pihak,” jelas Ani.

Pihak Garuda Indonesia Enggan Komentari Pencopotan Dirutnya

Sementara itu, Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Tbk Pikri Ilham Kurniansyah tidak berkomentar banyak terkait pencopotan bosnya itu.

“Ampun,ampun,ampun,” ujarnya singkat kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (5/12).

Senada dengan Pikri, Vice President Corporate Secretary PT Garuda Indonesia Tbk Ikhsan Rosan tidak berkomentar banyak terkait permasalahan ini. Ikhsan hanya mengatakan, bahwa pihaknya akan mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir.

“Ya kita ikut Pak Menteri saja. Pak Menteri kan sudah kasih statement ya,” ujar Ikhsan kepada wartawan.

Sebelumnya, Bea Cukai telah mememeriksa sarana pengangkut pesawat Garuda Indonesia yang datang dari pabrik Airbus di Prancis pada Minggu (17/11). Kedatangan pesawat tersebut diberitahukan pihak Garuda Indonesia dengan nomor flight GA 9721 tipe Airbus A330-900 seri Neo. Pesawat tersebut mengangkut 10 orang kru sesuai dokumen general declaration: crew list dan 22 penumpang sesuai dokumen passenger manifest.

Dalam permohonan izin yang disampaikan, PT Garuda Indonesia Tbk juga meminta kepada Bea Cukai untuk melakukan proses kegiatan pemeriksaan kepabeanan pada saat pesawat tiba.

Hasil pemeriksaan Bea Cukai terhadap pesawat tersebut, pada bagian kabin cockpit dan penumpang pesawat tidak ditemukan pelanggaran kepabeanan dan tidak ditemukan barang

kargo lain (sesuai dokumen cargo manifest: nil cargo). Namun pemeriksaan pada lambung pesawat (tempat bagasi penumpang) ditemukan beberapa koper bagasi penumpang dan 18 koli yang keseluruhannya memiliki claimtag sebagai bagasi penumpang.

Terhadap bagasi penumpang berupa koper telah dilakukan pemeriksaan dan ditemukan barang-barang keperluan pribadi penumpang, sedangkan pemeriksaan terhadap 18 koli tersebut ditemukan 15 koli berisi suku cadang motor Harley Davidson bekas dengan kondisi terurai, dan tiga koli berisi dua unit sepeda Brompton kondisi baru beserta aksesori sepeda. [voa]