Beranda ยป Peristiwa ยป Soal Peluru Nyasar, DPR Minta Lapangan Tembak Senayan Dipindah
Soal Peluru Nyasar, DPR Minta Lapangan Tembak Senayan Dipindah
Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta (Foto: VOA/Ahadian)
News Peristiwa

Soal Peluru Nyasar, DPR Minta Lapangan Tembak Senayan Dipindah

JAKARTA – Pasca peristiwa peluru nyasar yang menghantam gedung MPR/ DPR, sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta Lapangan Tembak Senayan direlokasi.

Lapangan Tembak Senayan berada di Jalan Gelora Nomor 1, Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tempat latihan menembak ini dipakai oleh Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin).

Selain kompleks MPR/DPR, Lapangan Tembak Senayan juga berdekatan dengan Hotel Mulia (sekitar 450 meter), Stadion Utama Gelora Bung Karno (1,4 kilometer) , Stasiun Palmerah (550 meter), serta gedung TVRI (650 meter).

Pekan ini Lapangan Tembak Senayan menjadi sorotan setelah dua kali ditemukan peluru nyasar menghantam gedung MPR/DPR. Kejadian pertama Senin lalu.

Peluru nyasar dari Lapangan Tembak Senayan menembus kaca ruangan dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yaitu dari Fraksi Partai Golongan Karya dan Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya.

Kemarin, Rabu (17/10) peluru nyasar ditemukan lagi di dua ruangan kerja anggota DPR lainnya, yaitu dari Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Amanat Nasional.

Kejadian ini membuat cemas sejumlah pihak, terutama DPR. Dengan alasan keamanan, karena kompleks parlemen merupakan obyek vital strategis, sebagian anggota DPR meminta Lapangan Tembak Senayan dipindah.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mengaku prihatin sekaligus mengecam peristiwa peluru nyasar tersebut.

Ibas berharap polisi dan pihak-pihak terkait untuk segera mengungkap secara tuntas kasus peluru nyasar di gedung parlemen itu.

“Kalau memang benar kompleks latihan Perbakin itu dianggap terlalu dekat dengan kompleks parlemen, kami minta tolong direlokasi. Di manapun, tempat latihan tembak itu jarang sekali berada di tengah kota,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan anggota komisi pertahanan dan luar negeri DPR, Supiadin Aries Saputra.

Dia mengakui hampir tiap hari dari dalam ruang kerja dirinya mendengar dengan jelas suara tembakan dari Lapangan Tembak Senayan.

Demi keamanan para penghuni di kompleks gedung MPR/DPR, dia mengusulkan perlu diadakan evaluasi mengenai sistem keamanan di Lapangan Tembak Senayan. kalau belum tinggi kualitasnya, maka harus ditingkatkan kualitasnya.

“Alternatif yang paling jauh adalah demi keamanan seluruhnya, di situ ada Hotel Mulia, ada hotel lain-lain, ada TVRI, ada gedung DPR”

“Maka saran saya kalau memungkinkan dan untuk keselamatan penembak sendiri, lokasi itu perlu dilakukan relokasi. Itu tanah negara, jadi bisa direlokasi,” kata Supiadin.

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Roma Hutajulu menjelaskan pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut kasus peluru nyasar tersebut.

Dia menambahkan polisi dan anggota laboratorium forensik sudah melakukan olah tempat kejadian perkara.

Hutajulu mengungkapkan aktivitas di Lapangan Tembak Senayan sudah dihentikan sejak Senin lalu.

“Untuk sementara informasi dari labfor, pelurunya sama (berkaliber) sembilan milimeter dengan yang kemarin”

“Tapi itu identik atau tidak, kami akan lakukan scientific investigation, uji balistik untuk pembandingnya, apakah sama dan identik dengan peristiwa Senin lalu,” kata Hutajulu..

Ketika peluru yang menembus dua ruang kerja anggota DPR di lantai 10 dan 20 gedung Nusantara 1 ditemukan, penghuninya tidak berada di ruangan.

Sementara kasus peluru nyasar Senin lalu, polisi sudah menangkap dua tersangka, IAW dan RMY yang berlatih menembak di Lapangan Tembak Senayan. Polisi menyatakan mereka bukan merupakan anggota Perbakin.

Polisi masih menyelidiki bagaimana kedua tersangka tersebut mendapatkan senjata dan masuk Lapangan Tembak Senayan.

Menurut polisi, kedua tersangka kaget karena pistol yang digunakan telah dimodifikasi sehingga bisa menembakan empat peluru langsung.

Kedua tersangka merupakan pegawai negeri Direktorat Perkeretaapiaan Kementerian Perhubungan. Polisi menduga keduanya berlatih menembak menggunakan pistol Glock-17 yang dilengkapi dengan alat switch customizer, yang membuat pistol semiotomatis menjadi otomatis.

Karena itu peluru tembus hingga ke ruangan anggota DPR yang berjarak 400 meter dari lapangan tembak.

Juru Bicara Pengurus Besar Perbakin, Rocky Roring mengatakan kasus peluru nyasar hingga ke gedung DPR merupakan kesalahan manusia.

Senapan latih yang tersedia di lapangan tembak Senayan umumnya merupakan senapan angin dan senapan berkaliber 22 milimeter, sehingga jangkauannya pun tidak sampai ke gedung DPR.

Adapun Glock 17 merupakan senjata untuk latihan tembak reaksi yang disediakan oleh Divisi Produksi Perbakin. Jangkaunnya bisa mencapai 300-400 meter.

Dia menjelaskan gedung Nusantara I DPR terlihat jelas dari spot latihan di lapangan tembak reaksi, tetapi ada tanggul setinggi 10 meter yang membetengi lapangan tembak itu.

Tanggul tersebut terbuat dari tanah dan seng. Untuk itu menurut Rocky lapangan tembak Senayan sudah aman dan sesuai dengan sandar.

Apalagi, anggota Perbakin memiliki sertifikat menembak dan selalu didampingi instruktur ketika latihan. [VOA/shar]