MAKASSAR—Komunitas Solidaritas Perempuan Anging Mammiri (SP-AM) menggelar Musyawarah Komunitas (Muskom) ke-11 di Hotel Royal Bay, Makassar, pada 19–20 Desember 2025. Forum tertinggi organisasi ini diikuti 46 anggota dan enam peninjau dari unsur nasional serta perwakilan komunitas akar rumput.
Muskom ke-11 SP-AM mengusung tema “Memperkuat Gerakan Politik Perempuan Sulawesi Selatan Melawan Sistem Patriarki, Rantai Kekerasan, Militerisme, dan Oligarki yang Memiskinkan Perempuan.” Tema tersebut menegaskan komitmen organisasi dalam memperjuangkan keadilan sosial dan hak-hak perempuan di tengah berbagai bentuk ketimpangan struktural.
Selain memilih pengurus Badan Eksekutif Komunitas (BEK) dan Dewan Pengawas Komunitas (DPK), Muskom ini juga menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah keorganisasian, perencanaan program, serta pengelolaan keuangan organisasi ke depan.
Solidaritas Perempuan Anging Mammiri didirikan pada 26 November 2000 atas prakarsa Zohra Andi Baso, Yuberlian, dan Christina Yoseph. Hingga kini, SP-AM menaungi 59 anggota dengan latar belakang beragam, mulai dari ibu rumah tangga, guru, jurnalis, petani, nelayan, buruh, wiraswasta, hingga akademisi.
Memasuki usia ke-25 tahun, SP-AM tetap konsisten mendampingi kelompok perempuan akar rumput dengan visi mewujudkan tatanan sosial yang demokratis, berkeadilan, berkesadaran ekologis, menghargai pluralisme, serta menjunjung nilai anti-kekerasan.
Perjuangan tersebut berfokus pada pembangunan relasi yang setara dalam akses dan kontrol atas sumber daya alam, sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Dalam Muskom ini, sejumlah perempuan akar rumput turut menyampaikan pengalaman perjuangan mereka. Salah satunya berasal dari kelompok petani yang memaparkan peran SP-AM dalam memperkuat pemahaman tentang hak atas tanah sebagai sumber kehidupan.
Kesadaran tersebut, sebagaimana disampaikan Hasriani, mendorong perempuan petani untuk terus berjuang mempertahankan lahan yang selama ini dikuasai PTPN.
Sementara itu, Mama Sumo dari kelompok perempuan nelayan Buloa/Sengkabatu mengungkapkan dampak pembangunan reklamasi pelabuhan besar yang mengancam ruang hidup serta keberlanjutan mata pencaharian nelayan perempuan.
Keberlanjutan gerakan SP-AM juga ditopang oleh proses kaderisasi kepemimpinan. Melalui Muskom ke-11 ini, terpilih Anggi Ria Awalia sebagai Ketua Badan Eksekutif Komunitas, Nurisa Desy sebagai Koordinator Program, dan Musfira Nurul sebagai Bendahara.
Adapun Dewan Pengawas Komunitas diisi oleh lima orang, yakni Adnan Buyung Azis, Lawiyah, Suryani, Nurjannah, dan Nurfianalisa.
Muskom ke-11 ini diharapkan menjadi momentum penguatan konsolidasi gerakan perempuan Sulawesi Selatan dalam menghadapi berbagai tantangan struktural yang masih memiskinkan dan meminggirkan perempuan. (Cr/Ag4ys)
Citizen Reporter: Nurhidayah Mantong
Artikel ini ditulis oleh Citizen Reporter. Isi dan gaya penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi hanya melakukan penyuntingan seperlunya tanpa mengubah substansi.







