OPINI – Masih hangat akan perbincangan datangnya Raja Salman ke Indonesia yang disambut begitu istimewa oleh jajaran kepemerintahan RI. Berbagai kalangan sosial media men-share berita datangnya Raja Salman ke Indonesia, dari sini pula banyaknya berita hoax beredar di media sosial soal kedatangan Raja Arab Saudi, ada yang menyebarkan bahwa kedatangan Raja Salman ingin bertemu dengan tokoh FPI Habib Risieq, ada pula kedatangan Raja Arab Saudi ingin memberikan bantuan dana demi melunasi utang negara tanpa mengharapkan imbalan sepersen pun.
Kenyataannya kedatangan Raja Arab Saudi Ke Indonesia bukan ingin bertemu langsung dengan Habib Rizieq dan bukan pula ingin kedatangannya ingin melunasi utang negara, akan tetapi kedatangan Raja Arab Saudi tersebut ingin bertemu langsung dengan presiden RI Joko Widodo, dalam pertemuan Raja Salman dengan para politis, pengusaha, pemuka agama, dan ormas islam tidak ada ormas FPI apalagi undangan khusus untuk Habib Rizieq. Begitu pula dengan melunasi utang negara hanya membincang hubungan bilateral kedua negara.
Namun dalam tulisan kali ini hanya mengajak masyarakat berpikir bahwa kedatangan Raja Salman ke Indonesia bukan hanya datang saja menikmati nasi goreng sebagai hidangan makanan siang hari. Dalam penalaran tersebut bahwa nasi goreng yang disuguhkan oleh presiden RI bukan makanan gratis kepada Raja Salman tetapi ada penyedap rasa hubungan bilateral negara yang saling menguntungkan kedua negara dalam pusaran pergolakan persaingan pasar bebas dan politik global.
Kedatangan Raja Salman Ke Indonesia bertujuan merundingkan 10 kerjasama bidang sekaligus penandatangan kerja sama dalam 10 bidang tersebut. Dalam pertemuan di istana bogor menyepakati 10 nota kesepahaman kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan kepemerintahan Arab Saudi, antara lain dalam bidang kebudayaan, kesehatan dan peningkatan status bilateral. Selain itu juga nota kesepahaman kerja keislaman dan dakwah, pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi, kelautan dan perikanan, penangan kejahatan lintas batas, pelayanan udara, usaha kecil dan menengah dan perdagangan.
Penandatanganan 10 nota kesepahaman dalam berbagai bidang membuat Indonesia akan terjalin kuat kerja samanya. Jika di telaah lebih luas apa yang terjadi dalam kancah pertarungan globalisasi sekarang akan cukup rumit di nalar jika hanya melihat dari sisi kerja sama bidang tersebut. Secara logika kedatangan Raja Salman beserta rombongan 16 putra mahkotanya ke Indonesia tidak semerta–merta mencari ke untungan di Indonesia akan tetapi pegeseran politik global menharuskan Arab Saudi harus ke Indonesia demi memberikan kepercayaan kepada Pemerintah RI akan strategi Geopolitik Arab Saudi menggandeng Indonesia, China, Jepang, demi mengamankan Jalur Sutra.
Melirik Asia Sebagai Strategi Jalur Sutra
Arab saudi dengan isu saatnya melirik Asia hanya membuat peta gerakan strateginya dengan melakukan bilateral negara ke Indonesia. Dalam setiap perundingan mereka memiliki sebuah jalur perundingan, mulanya dari Jepang dulu, lalu Malaysia tetapi proses perundingannya harus meminta Izin dulu ke Inggris, kemudian ke Indonesia sebagai Poros Non Blok dan ASEAN, lantas ke China sebagai pesaing Inggris dan Amerika.

Dengan strategi geopolitik tersebut, Arab Saudi punya kartu truf untuk berunding kerja sama antara Arab Saudi dengan China dan Arab Saudi dapat di perhitungkan pula oleh negara super power Inggris dan Amerika, Plus Blok Uni Eropa, maupun Blok China dan Rusia.
Makanya sekte komunis dan Arabisasi bermunculan di negeri ini bukan sekedar perbenturan saja akan tetapi ini adalah strategi untuk menggaet kedua negara yang sekarang melakukan MoU antara arab saudi dan China pada bulan Februari 2016. Indonesia sebagai ladang perebutan kedua negara demi mengamankan jalur sutra sebab kartu truf jalur sutra ada di indonesia makanya KAA bandung kemarin awal mula peletakan kartu truf jalur sutra diberikan ke Indonesia.
Pilkada Jakarta hanya ladang pengalihan isu bahwa ada perundingan dan pertarungan laut China Selatan yang hangat perebutan yang bukan hanya perebutan minyak tetapi jalur lalu jalannya kapal tengker minyak dunia. Indonesia adalah salah satu termasuk dalam golongan pertarungan laut China Selatan itulah sebabnya sebagai pengusaha minyak dunia datang ke Indonesia sekaligus jalur sutra pun ingin diamakan demi mengembalikan kepercayaan mereka kepada negara super power Inggris dan Amerika.
Dalam rangkaian kunjungan Raja Salman tidak hanya di lihat dari persoalan ekonomi belaka. Ada sasaran geopolitik yang melatarbelakangi kedatangannya. Kalau kita baca secara geopolitik, sebagai negara timur tengah yang sekian lamanya di berada pada orbit kerajaan Inggris pasca perang dunia I, pastinya Arab Saudi sudah betul bahwa Jepang, Indonesia, dan China merupakan mata rantai penting dari jalur sutra. Sehingga perlu di rangkul sebagai bagian dari kebijakan Arab Saudi membangun kerjasama integritas.
Sekedar informasi bahwa, kerja sama strategis China dan Rusia dalam payung Shanghai Cooperation Organization (SCO), sejatinya merupakan usaha kedua negara adidaya mengamankankan lintasan jalur sutra, agar tidak di kuasai oleh Amerika Serikat dan Blok Eropa Barat dan dari sini jelas bahwa China adalah satu pengamanan Jalur Sutra di Asia sekaligus mata rantai dan bahkan sektor hulu dari jalur sutra.
Lalu bagaimana cara pandang Arab Saudi di Indonesia karena termasuk incaran dalam strategi geopolitiknya. Indonesia merupakan komoditas kekayaan alam di antaranya rempah–rempah, emas, besi, gading, tanaman dan lain–lainnya sekaligus tempat mengamankan sentral Freeport yang mulai dirongrong oleh China dan Rusia. Dilihat dari segi kekuasaan jalur sutra di klaim meluas melewati Selat Malaka, Lautan India, Teluk Aden, dan masuk ke laut meditarania via laut merah – Terusan Zeus.
Dalam kajian Mackinder mengklarifikasi empat kawasan terkait ajaran geoplitik. Pertama Heartland dan word island, kawasan ini meliputi ini mencakup Asia Tenggara dan Timur Tengah. Kedua ialah Marginal Lands yaitu Eropa Barat, Asia Selatan, sebagian Asia Tenggara dan sebagian Daratan China. Ketiga Desert atau Afrika Utara. Sedangkan kawasan terakhir, Keempat dinamai island or outer Continents yang meliputi benua Amerika, Afrika selatan, Asia Tenggara dan Australia.
Kalau kita ceramati secara seksama teori mackinder dan menarik ulur kebelakang sejarah penjajahan di daerah word island dan Heartland, negara–negara timur tengah di jajah oleh Inggris sebagai sampai berakhirnya perang dunia ke II dan di Asia Tenggara Ada Jepang pernah menjajah Indonesia sebagai negara terbesar dan memiliki sumber daya alam terkaya di Asia Tenggara Maka layak bagi Arab Saudi menggandeng Jepang dalam strategi geopolitiknya.
Inggris sebagai Raja di atas Raja di Arab Saudi sebagai komando dalam mempermulus pergerakan mereka dalam melanggengkan strategi dalam mengamankan Jalur Sutra di Asia Tenggara sebab Ingris pula memiliki daerah jajahan di Asia Tenggara di antaranya Malaysia, Myanmar dan Singapura kesemuanya masih dalam kendali inggris.
Bantuan Dana Sebagai Pancingan
Makanya jangan terlalu banggakan kedatangan Raja Salman Ke Indonesia dengan membawa rombongan putra mahkotanya ke istana negara serta menggelontorkan dana sebesar 25 miliar dollar AS. Sehingga kedatangan Raja Salman semata–mata hanya di baca sebagai momentum kebangkitan ekonomi Indonesia.
Semoga warga Indonesia dan kepemerintahannya bisa sadar bahwa negara kita ditelikung oleh Arab Saudi yang sangat piawai menggunakan memainkan pakem Non Blok 1961 dan Asia Afrika Bandung. Padahal Indonesia–lah yang mencetus KAA Bandung 1955 dan KTT Non Blok 1961. Secara sistematik Arab Saudi berada pada poros tengah dalam pertarungan China VS AS dan sebagai pendulum tengah.
Jangan heran jika bantuan negara begitu mengguyur negara kita mulai dari 1 miliar perdesa, alutsista persenjataan, pendidikan, pembangunan, dan lain–lainnya. Itu semua pancingan dalam mendulang kekayaan sumber daya alam dan merebut jalur sutra. Sadarilah tidak ada makan siang gratis di istana bogor. Jangan lupa kita ini adalah kepingan surga berairkan susu dan tongkat, kayu, dan batu bisa jadi tananaman beruntaian ratna mutumanikam. (*)
Penulis: Ikhlasul Amal Muslim
Mahasiswa

















