MAKASSAR—Tren mobil tua kembali naik daun, dan Suzuki Katana menjadi salah satu incaran utama di pasar mobil bekas. Bukan tanpa alasan, mobil SUV kompak ini menawarkan sejumlah kelebihan menarik, mulai dari harga terjangkau hingga kepraktisan dalam perawatan.
Suzuki Katana pertama kali mengaspal di Indonesia pada tahun 1986 hingga 2005. Dikenal sebagai “Jimny Banci”, Katana hadir dalam dua varian: GX dan DX, dengan perbedaan mencolok pada fitur dan tampilan. GX dilengkapi AC, power steering, dan pelek alloy, sedangkan DX hadir dengan spesifikasi lebih sederhana.
Belakangan ini, minat terhadap mobil ini melonjak. Banyak orang memburu Katana bukan hanya untuk kebutuhan mobilitas, tapi juga untuk hobi dan nostalgia. “Buat yang ingin punya mobil klasik dengan biaya perawatan rendah, Katana jawabannya,” ujar Ariagung, salah satu pemilik Katana.
Di pasaran, harga Suzuki Katana bekas berkisar antara Rp25 jutaan hingga Rp70 jutaan, tergantung kondisi. Namun tak sedikit pula yang dijual di angka Rp90 jutaan, terutama jika mobil tersebut masih orisinil, cat utuh, dan jarang dipakai.
“Harga segitu wajar kalau kondisi mobil masih rapih, original, dan belum banyak dimodifikasi,” jelas Ariagung. Katana orisinil makin langka, karena sebagian besar sudah mengalami ubahan, seperti atap model “trepes” hingga upgrade mesin.
Satu nilai lebih Katana terletak pada biaya perawatan yang sangat murah. Contohnya, kampas kopling hanya Rp250 ribuan, karburator orisinil sekitar Rp800 ribu, bahkan kompresor AC bisa didapat dengan harga Rp850 ribu. Suku cadang pun mudah didapat di pasaran, baik versi original maupun KW.
Dengan mesin 1.000 cc dan konsumsi BBM 12–15 km/liter, Katana dikenal irit bahan bakar. Ukurannya yang kompak memudahkan manuver di jalanan kota, sementara ground clearance yang tinggi menjadikannya cukup tangguh untuk medan ringan.
Selain itu, pajaknya murah, dan biaya kepemilikannya tergolong ramah kantong. Katana juga cocok untuk keperluan sehari-hari seperti antar-jemput anak, belanja, atau sekadar jalan santai di akhir pekan.
Meski punya banyak kelebihan, bukan berarti Katana tanpa cela. Suspensi per daun membuat kenyamanannya jauh di bawah mobil modern. “Naik Katana itu rasanya kayak naik gerobak. Tapi, ya, itu bagian dari seninya,” kata Ariagung sembari tertawa.
Kabin sempit, peredaman suara minim, posisi duduk rendah, dan rem non-booster juga jadi catatan minus yang sering dikeluhkan pengguna. Belum lagi, top speed mobil ini mentok di kisaran 80 km/jam.
Namun, bagi para pecinta mobil klasik dan penggemar off-road ringan, semua kekurangan itu tak jadi masalah. Nilai nostalgia dan gaya klasik Katana justru menjadi daya tarik tersendiri. (Ag4ys)













