Advertisement - Scroll ke atas
Nasional

Tim Sukses Ahok-Djarot Klaim Temukan Intimidasi di Sejumlah TPS

985
×

Tim Sukses Ahok-Djarot Klaim Temukan Intimidasi di Sejumlah TPS

Sebarkan artikel ini

MEDIASULSEL.com,- Dalam jumpa pers yang dilakukan di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (19/4), anggota Tim Sukses calon gubernur dan wakil gubernur nomor dua (Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat) menyampaikan temuan mereka soal sejumlah kecurangan yang dilakukan pendukung calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno di sejumlah TPS.

Salah seorang anggota Tim Sukses Ahok-Djarot, Martin Manurung menjelaskan hingga saat ini timnya telah menemukan kecurangan yang dilakukan pendukung Anies-Sandi seperti intimidasi terhadap para pendukung Ahok-Djarot.

Advertisement
Scroll untuk melanjutkan

Kecurangan yang mereka temukan itu di antaranya di TPS 15 Perumahan Kedoya Utara, Kebun Jeruk, di mana enam orang yang mengaku relawan pasangan Anies-Sandi memakai atribut dan mempengaruhi pemilih. Tindakan serupa juga terjadi di Kelurahan Petojo Selatan, di TPS Jalan Menteng Jaya, TPS 16 Jalan Lontar Atas, TPS 20 di Lebak Bulus.

Pelarangan memakai baju kotak-kotak yang menjadi simbol pasangan Ahok-Djarot diberlakukan di TPS 82 di Cilincing oleh orang yang mengaku pendukung Anies-Sandi. Menurut Martin, kecurangan yang paling parah terjadi di TPS 70 di Duri Kosambi, TPS di Cakung, di mana pemilih Basuki-Djarot diancam dengan kekerasan verbal sehingga membuat suasana pemilihan tidak kondusif dan warga takut memberikan suara.

“Nah ini juga mempengaruhi banyak sekali, ketika ditanya oleh petugas kami di lapangan jadi takut memberikan suara. Nah karena itu perlu kita sikapi dengan tegas,” ujar Martin Manurung.

Tim Sukses Ahok-Djarot lainnya, Emi Hafid, mengatakan intimidasi dan keadaan yang mencekam seperti itu sebenarnya juga sudah terjadi sejak beberapa hari dengan adanya Tamasya Al-Maidah.

Kejadian intimidasi yang membuat masyarakat takut memberikan suara di TPS-TPS tersebut, kata Emi, biasanya karena RT/RW terkait berpihak pada pasangan calon nomor urut tiga.

“Sehingga orang-orang ini bisa datang tidak terdeteksi, seolah-olah dilindungi oleh pengurus RT/RW setempat, sehingga terjadilah keadaan seperti ini. Kemudian yang TPPS-nya juga berpihak, TPPS mempersulit bahkan mau mencoblos dipersulit oleh saksi nomor 3 dan KPPS diam saja. Saya kira ini adalah kegagalan KPUD untuk menjaga agar KPPS netral,” papar Emi Hafid.

Emi menambahkan intimidasi yang terjadi pada pilkada putaran ke-dua ini hanya terjadi pada para pendukung Ahok-Djarot dan tidak terjadi pada pendukung Anies-Sandi sehingga terlihat sangat terstruktur. (voa/4ld)

error: Content is protected !!